SEMANGAT IDUL FITRI DAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI DALAM RANGKA MEMBANGUN UKHUWAH ISLAMIYAH Oleh : dr. H. Affandi Ichsan, Sp PK (K) KKV, M.Ag. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 23Agustus 2013 M / 16 Syawal 1434 H


Puji dan syukur mari kita panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan kenikmatan kepada kita tiada terbilang, dari seorang muslim, mukmin, muhsin dan sekaligus istiqamah kita. Lebih daripada itu kita juga diberi kenikmatan berupa kesehatan dan kelonggaran waktu sehingga kita mampu melaksanakan ibadah dengan baik. Firman Allah yang berbunyi :

“Wasykuruu ni’mata-Allaahu in kuntum iyyaahu ta’buduun” (Dan syukurilah nikmat Allah jika hanya kepada Allah saja kamu menyembah).

Kita lebih bersyukur lagi karena di tengah-tengah kita telah hadir Bapak Gubernur yang baru saja  dilantik, hal ini sebagai manivestasi rasa syukur beliau ke hadirat Allah swt sekaligus terhadap sesama manusia. Mudah-mudahan kehadiran beliau sebagai simtom kebaikan bagi beliau dan masyarakat Jawa Tengah.

Saat ini kita masih berada di bulan Syawal 1434 H dan masih dalam suasana Idul Fitri sekaligus kita masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke-68, sebuah nikmat yang tiada duanya nilainya karena dengan kemerdekaan kita dapat menjalankan ibadah tanpa harus sembunyi-sembunyi. Persoalan bangsa Indonesia merupakan persoalan umat Islam juga, maka hendaknya nilai-nilai puasa dan Syawal yang telah kita peroleh mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Islam diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril dan diperintahkan kepada Rasulullah saw untuk menyebarkan ke muka bumi ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi :

“Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin” (Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menebar kasih saying untuk seluruh alam).

Di sisi lain Allah swt menjadikan agama kita sebagai penyempurna dari agama-agama sebelumnya, oleh karena itu Allah membekali manusia dengan akal untuk berfikir. Potensi agama yang menyatu dengan ilmu yang harus kita kembangkan untuk kejayaan bangsa dan negara ini,  bukan sekedar di dalam renungan dan bukan pula pada nilai-nilai formal tetapi harus benar-benar mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga agama, ilmu, dan amal kita dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu jangan jadikan agama kita untuk kepentingan sesaat dan primordial, sehingga dalam perjalanan bangsa kita tidak mampu memberikan output yang optimal terhadap kesalihan sosial. Sebaliknya, mari kita lakukan kesalihan sosial dan kita syukuri kemerdekaan ini sebagaimana yang dikatakan oleh pujangga jawa sebagai kritikan bagi kita yakni : “jamane wis jaman edan, yen ora edan ora melu kumanan”. Begitu pula Muhammad Iqbal dalam cuplikannya menyatakan : “Pikiranku menerawang menyentuh langit tetapi aku di bumi aku terhina, kecewa, dan sengsara. Aku tidak mampu menangani urusan dunia dan aku selalu menghadapi rintangan di setiap langkahku, mengapa ahli agama begitu dungu menghadapi persoalan dunia”.

Begitulah kritikan seorang pujangga dan filosof kepada kita, barangkali tidak ada jeleknya jika mengetahui latar belakang perintah puasa, zakat, infak, dan sadakah dari Allah swt yang tidak diberikan dengan segera setelah Rasulullah diangkat menjadi seorang Rasul tetapi dalam kurun waktu yang cukup lama yakni 14-15 tahun setelah beliau diangkat menjadi Rasul walaupun dalam kurun waktu sebelum itu Rasulullah memberikan informasi kepada kita tentang kepentingan zakat, infak, dan sadakah bagi kita yang melupakan itu tergolong orang-orang yang lalai, mendustakan agama, dan merugi.

Mengapa Allah swt memberikan pertimbangan manivestasi perintah tersebut 14-15 tahun kemudian ? ternyata Allah swt memiliki pertimbangan tersendiri yakni setelah beliau mampu :

1) Mempersatukan 2 (dua) kelompok besar, yakni kaum Muhajirin dan Anshar agar bisa menjadi satu dalam ucapan, sikap, perilaku, sandang, pangan, papan, dan bahkan bagi mereka yang belum memiliki suami/istri dipilihkan oleh beliau;

2) Mengayomi orang-orang Yahudi;

3) Mengayomi orang-orang Nasrani;

4) Mengayomi agama Samawi yang lain, tidak kurang dari 360 sesembahan, patung-patung di sekitar Ka’bah serta beliau mampu meletakkan dasar-dasar pembinaan, keadilan, persamaan,  kemasyarakatan dan ibadah sosial yang lain. Baru setelah itu diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan kewajiban puasa, zakat, infak, dan sadakah.

Ini mengandung arti bahwa hal tersebut diperintahkan kepada mereka yang memiliki iman yang dipanggil untuk berpuasa, dimana imannya harus menyatu dengan nilai-nilai kebaikan, kemanusiaan, persamaan, dan keadilan. Begitu pula takwa yang menjadi tujuan akhir dari ibadah puasa menyatu dengan zakat, infak, dan sadakah sehingga mampu mengurangi angka kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan dimana oleh imam Al Ghazali dikatakan : itu semua dapat terlaksana melalui pensucian jiwa.

Dikatakan pula oleh Rasulullah saw bahwa sadakah tidak harus dalam bentuk materi semata, namun semua apa yang kita lakukan berupa kebaikan : “Kullu ma’rufin shadaqah” (setiap apa yang kamu kerjakan dalam hal kebaikan adalah sadakah). Dan Allah sangat menyukai kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan nilai-nilai kebaikan tersebut, bahkan lebih daripada itu semua dosa diampuni dan dipertegas lagi oleh Rasulullah laksana bayi yang baru lahir. Ini sebagai manivestasi kebesaran Allah swt bahwa Allah mensejajarkan, mensetarakan, dan menyamakan laksana bayi yang baru lahir, suci, bersih dari noda dan dosa.

Syawal artinya meningkat, Rasulullah saw bersabda yang artinya : “Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia tergolong orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia tergolong orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka celakalah dia”. Dari makna Syawal dan hadist Rasulullah tersebut maka hidup kita pada bulan Syawal dituntut untuk lebih baik dari bulan Ramadhan. Yang menjadi pertanyaan adalah : “Mungkinkah hal tersebut dapat kita lakukan” ?. Rasulullah saw menjawab : “Bisa”. Dan beliau bertanya kepada para sahabat : “Maukah engkau aku berikan sesuatu yang lebih utama dari puasa, zakat, shalat, dan hajimu ?. Para sahabat serentak menjawab : “Mau ya Rasulullah”. Kemudian Nabi bersabda : “Damailah di antara kalian semua, dengan saling memaafkan.”

Dalam hadits yang lain beliau bersabda yang maksudnya : “Kamu tidak akan masuk surga jika kamu tidak beriman dan kamu tidak tergolong sebagai orang yang beriman jika tidak saling menyayangi”. Maukah kamu aku tunjukkan agar kamu saling menyanyangi di antara kalian ?. Para sahabat menjawab : “Mau ya Rasulullah”. Lalu Beliau bersabda : “Damai di antara kamu, tebarkan salam dan saling memaafkan di antara kamu”.

Al Qur’an sebagai sumber pedoman hidup orang beriman mengajarkan tentang “khudzil ‘afwa” (pemaaf) sebagai salah satu parameter orang yang bertakwa, dengan pengertian lain, bulan Syawal adalah bulan perdamaian antar keluarga, masyarakat, sebangsa dan setanah air, lintas agama, etnis, dan lintas apapun juga. Oleh karena itu mari kita gunakan moment yang baik ini untuk meminta dan memberi maaf agar kita tidak termasuk orang yang “thekor” (merugi) . Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya : “Siapakah orang yang tergolong muflis ?. Para sahabat menjawab yang ada kaitannya dengan perdagangan (ekonomi), namun kemudian Rasulullah meluruskan : “Orang muflis adalah orang yang membawa panji-panji kebaikan dimana ia telah kumpulkan mulai dari zakat, puasa, shalat, dan ibadah hajinya namun tergolong rugi karena di samping membawa panji-panji kebaikan mereka juga membawa panji kemaksiyatan, hubungan antar manusia yang belum terselesaikan di dunia sehingga pada akhirnya ketika di yaumul hisab timbangannya justru lebih berat masuk ke dalam neraka. Naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, perlu pelurusan kembali dalam memahami agama ini, jangan sampai agama kehilangan cahayanya dalam masyarakat, antara lain :

1) Ibadah dijalankan seakan-akan tidak ada konteks dalam hidup bermasyarakat;

2) Seakan-akan tidak ada korelasi yang positif antara ibadah shalat, puasa, haji dan sebagainya dengan ibadah sosial kemasyarakatan;

3) Berbagai gaya hidup hedonisme, materialisme, konsumtifisme dan lain-lain adalah salah satu rangsangan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji;

4) Korupsi dianggapnya sebagai kebutuhan yang intens untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dengan mengatakan : seandainya korupsi dianggap dosa maka mereka menganggap bahwa semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali musyrik.

Mereka itulah yang oleh Rasulullah saw tergolong sebagai orang-orang yang merugi (muflis). Mudah-mudahan di bawah kepemimpinan Bapak H. Ganjar Pranowo, SH. Provinsi Jawa Tengah terhindar dari ujian dan cobaan yang berat. Di samping itu, semoga beliau beserta seluruh jajaran Muspida Provinsi Jawa Tengah menjadi sosok pemimpin yang amanah dan tidak tergolong sebagai orang-orang yang merugi.

Begitu tinggi nilai “moral” dalam ajaran Islam, sehingga para perantau setiap tahun mudik ke kampung halaman dalam rangka menyambung tali silaturrahmi dengan sanak saudaranya sebagai bagian dari hubungan sosial kemasyarakatan yang harus senantiasa dijalin dan inilah manivestasi dari rasa syukur kepada Allah swt. Meskipun kendalanya cukup banyak, namun mereka ingin memenuhi panggilan Allah swt bahwa ibadah sosial kemasyarakatannya jauh lebih baik nilainya dibanding yang lain.

Di sinilah letak inklusifitas Islam dengan budaya yang ada di masyarakat, sehingga budaya mudik bersama yang disponsori oleh berbagai macam produk adalah dalam rangka ber-Idul Fitri bersama keluarga dan handai taulan, sekaligus juga untuk memupuk silaturrahmi dan rasa persaudaraan di antara sesama. Begitu tinggi nilai silaturrahmi, sehingga Presiden AS Barack Obama berbuka bersama dan saling maaf memaaafkan dengan para tokoh Islam.

Rasa syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas nikmat kemerdekaan yang ke-68, sesungguhnya Islam lahir dengan membawa misi kemerdekaan dan kebebasan, terbebasnya manusia dari segala bentuk ketergantungan, sebagaimana firman Allah dalam surat Ibrahim/14 : 1 yang berbunyi :

Artinya : “ Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Al Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari penjajahan menuju kemerdekaan. Mari dengan Halal bi Halal dan sekaligus mensyukuri nikmat kemerdekaan ini maka nilai-nilai positifnya, yakni : persatuan dan kesatuan harus selalu kita tingkatkan dan jangan sampai tercabik-cabik, perbedaan adalah rahmat dan manakala mampu kita menej dengan baik maka akan menjadi keindahan, kohesi yang tidak bisa dirusak oleh siapapun juga.

Perbedaan adalah sunnatullah baik dalam masyarakat maupun bangsa, bahkan dalam sebuah keluarga-pun perbedaan akan selalu muncul, seperti : sidik jari, DNA, RNA, gen (kromosom), karakter seseorang dan lain-lain.

Semua perbedaan ini dalam Al Qur’an disebutkan :

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat/49 : 13)

Marilah kita tingkatkan SDM umat Islam dengan cara mengurangi keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan melalui program yang dicanangkan oleh pemerintah sekaligus oleh pelaksanan amil zakat, potensi zakat pada tahun 2013 ini diperkirakan mencapai Rp. 213 milyard namun belum tergarap secara optimal. Dan mari kita tingkatkan rasa persatuan dan kesatuan kita di kalangan umat Islam dengan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah sehingga tercipta singkronisasi apa yang diprogramkan oleh pemerintah dan apa yang dicita-citakan oleh masyarakat. Adapun Ukhuwah Basyariyah kita ciptakan agar tercipta keharmonisan antara kita umat Islam dengan agama lain karena bangsa kita adalah bangsa yang plural dengan aneka ragam budaya.

Ya Allah ya Nurul Qalbu; Engkau penerang cahaya hati, berilah cahaya terang di dalam hati,  penglihatan, dan pendengaran kami. Begitu pula berilah cahaya yang terang kepada Gubernur kami yang baru sehingga kami mampu menghormati pemimpin-pemimpin kami dan kamipun akan selalu dicintai oleh Gubernur yang baru sebagaimana perintah-Mu : Laisa minna man lam yuwakkir kabirona walam yarkham shoghirona (Tidak tergolong umatku pemimpin yang tidak mencintai rakyatnya dan tidak pula tergolong umatku, rakyat yang tidak menghormati pemimpinnya).

Ya Allah ya Rahman; Engkau janjikan kalbu yang sakinah pada orang-orang yang bersyukur kepada-Mu, karenanya ya Allah hiaskanlah pada kalbu kami akan keyakinan yang benar, iman yang istiqamah, begitu juga kepada Gubernur kami yang baru.

Ya Allah ya Razzaq; Engkau Pemberi Rizki pada orang-orang yang Engkau sayangi, karenanya ya Allah berikanlah kami rezeki dan kemuliaan hidup di dunia, karena sesungguhnya Engkau ciptakan dunia ini untuk kehidupan kami.

Ya Allah ya Malik; Engkau pembuka hati gelapnya kalbu, jadikan kehidupan kami, pemimpin kami, Gubernur baru kami mampu menabur banyak kebaikan untuk kaum fakir miskin, dhuafa, anak yatim, dan seluruh masyarakat sebagaimana perintah Rasul-Mu.

Ya Ghofurun Rahimun; ampunilah dosa orangtua kami, kasihanilah mereka ya Allah sebagaimana mereka mengasihi diri kami. Tanpa kasih sayang dan ridho-Mu ya Allah, tidak mungkin kami bisa beribadah di rumah-Mu ini ya Rabb.

Ya Allah ya Rabbi; terimalah ibadah puasa dan permintaan maaf serta kesyukuran kami atas dilantiknya Bapak Gubernur kami yang baru, Engkau janjikan kenikmatan yang berlebih ya Allah atas orang yang mensyukuri nikmat-Mu karenanya ya Allah jagalah kalbu Bapak Gubernur kami agar selalu terbuka sehingga mampu membawa masyarakat Jawa Tengah berkeadilan dan berkesejahteraan. Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzabannar. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

=========================

*) dr. H. Affandi Ichsan, Sp PK (K) KKV, M.Ag.; Ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah (LAZISBA) Masjid Raya Baiturrahman Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved