NILAI SOSIAL DALAM PERINTAH IBADAH Oleh : Drs. H. Ibnu Djarir *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 29 Nopember 2013 M / 25 Muharram 1435 H

Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan kepada kita yang tidak terhitung banyaknya. Di antaranya ialah kita masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup di dunia ini sehingga kita dapat merasakan berbagai macam kenikmatan hidup duniawi. Kita juga dikurniai oleh Allah swt sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan tugas kewajiban sehari-hari dan terutama sekali dapat melaksankan kewajiban ibadah, termasuk ibadah salat Jum’ah pada siang hari ini. Di samping itu kita juga mendapat limpahan rejeki dari Allah swt sehingga kita dapat melangsungkan hidup kita. Dengan adanya berbagai macam kenikmatan itu marilah kita syukuri dengan menyempurnakan ibadah kita, terutama salat lima waktu jangan sampai ada yang kita tinggalkan.

Marilah pada setiap saat kita selalu berupaya untuk meningkatkan kwalitas takwa kita kepada Allah swt, sehingga makin bertambah umur kita makin kokoh pula ketakwaan kita, dengan harapan semoga kita dapat mencapai khusnul khatimah. Amin.

Allah swt telah berfirman yang berbunyi :

Artinya : “Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah/2 : 194)

Dalam Surah yang lain disebutkan pula :

Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An Nahl/16 : 128 )

Dari 2 (dua) ayat tadi kita dapat menyimpulkan, bahwa bertakwa dan berbuat kebaikan adalah dua hal yang berkaitan. Artinya siapapun yang mengaku dirinya sebagai orang yang bertaqwa maka ia harus berbuat kebaikan. Dengan kata lain, berbuat kebaikan adalah salah satu ciri orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa  selalu menaati perintah-perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya.

Jadi, kita sebagai orang yang bertakwa hendaknya selalu menaati semua perintah Allah, karena kalau kita tidak menaati, kita akan mendapat siksa yang sangat pedih, sebagaimana tersebut dalam firman Allah :

Artinya : “Dan bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya siksa Allah itu sangat pedih” ( QS. Al Baqarah/2: 196 ).

Marilah kita sejenak merenungkan keberadaan manusia di muka bumi. Sebetulnya apa tujuannya Allah swt menciptakan manusia hidup di dunia ? Sebagian orang berpendapat, bahwa manusia hidup ya untuk makan. Dengan makan manusia bisa hidup dan berketurunan. Kalau manusia hidup hanya untuk makan dan berketurunan kok sama dengan hewan. Menurut ajaran Islam. manusia itu makhluk yang dimuliakan Allah, maka manusia harus mempunyai sifat dan perilaku yang lebih tinggi daripada hewan.

Tujuan Allah menciptakan manusia ditegaskan dalam Al Qur’an Surah Adz Dzariyat/51 : 56 yang berbunyi :

Artinya : “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”. Menyembah mengandung pengertian beribadah dan mengabdi kepada Allah swt.

Dalam Surah Al Mulk/67: 1-2 dijelaskan pula, yang berbunyi :

Artinya : “Maha Suci Allah yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Berbagai macam ibadah yang diperintahkan dalam Islam, di samping mengandung nilai individual juga nilai sosial. Saya beri contoh 2 (dua) ibadah saja, yaitu shalat dan puasa. Dalam ibadah salat mengandung beberapa nilai sosial sebagai berikut : (1) Dengan berwudhu, mendidik  umat Islam untuk menjaga kebersihan, khususnya dengan membasuh wajah dan anggota badan. Tubuh yang bersih menyenangkan dalam pergaulan; (2) Dalam shalat berjamaah, sejumlah umat Islam berkumpul di masjid, mushalla, atau tanah lapang. Sebelum dan sesudah shalat mereka dapat mempererat silaturahim, berjabat-jabatan tangan dan berbicang-bincang mengenai  berbagai masalah; (3) Dalam shalat berjamaah, dengan shaf yang lurus dan mengikuti gerak imam memberikan pendidikan kepada peserta jamaah, bahwa umat Islam hendaknya mempunyai barisan yang teratur, solid, dan taat kepada seorang pemimpin; (4) Ibadah shalat bukan sekedar ucapan dan gerak-gerik anggota tubuh, melainkan mengandung konsekuensi bahwa orang yang menjalankan salat hendaknya mencegah diri dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dengan demikian shalat membantu mewujudkan masyarakat agar menjauhkan diri dari kejahatan dan kemaksiyatan.

Marilah kita perhatikan nilai-nilai sosial dalam ibadah puasa : (1) Mendidik manusia melawan hawa nafsu; (2) Mendidik manusia memiliki akhlak yang mulia; (3) Mendidik manusia menyantuni kaum fakir miskin; (4) Banyak orang Islam yang mengeluarkan Zakat Maal dalam bulan Ramadhan yang dibagikan kepada 8 (delapan) Asnaf. Semua itu dalam rangka membantu terwujudnya masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

=======================

*) Drs. H. Ibnu Djarir; Ketua MUI Provinsi Jawa Tengah & Ketua III Yayasan Pusat Kajian & Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved