MENCETAK GENERASI YANG BERKWALITAS Oleh : KH. Dr. Ahmad Darodji, M.Si. *)

Marilah saya mengajak diri saya dan kita semua untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt dan berupaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya, berkali-kali kita diingatkan bahwa kita sebagai manusia pasti suatu saat akan dipanggil oleh-Nya dan alhamdulillah Allah swt tidak memberi tahu kita terlebih dahulu kapan datangnya Malaikat Maut itu, artinya agar kita sewaktu-waktu siap dipanggil kehadirat-Nya, banyak sekali contoh diantaranya banyak sekali teman-teman dan saudara-saudara kita kapundut ke hadirat Allah swt secara mendadak dan dengan berbagai cara, hal ini tidak mustahil akan menimpa pada diri kita. Oleh karenanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup maka mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan apa yang Allah senangi dan menjauhi semua yang Allah murkai dan dilarang oleh-Nya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mulk/67 : 1-2 yang artinya:

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Ayat di atas adalah salah satu cara Allah swt menguji, mengetest, dan sekaligus meng-evaluasi kita seberapa jauh kita mampu berbuat baik. Kita semua selalu berharap agar kelak pada saat dipanggil ke hadirat Allah dalam keadaan husnul khatimah, aamiin Allahumma aamiin, artinya tatkala kita dipundut ke hadirat-Nya sedang dalam keadaan yang baik, berkata dan berbuat baik serta mengajak kebaikan.

Di antara kewajiban kita dalam rangka berbuat baik tersebut selain beribadah kepada Allah dengan baik dan agar generasi penerus yakni anak dan cucu kita menjadi generasi yang berkwalitas, maka seyogyanya kita perhatikan firman Allah yang artinya :

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintah-kan”. (QS. At Tahrim/66 : 6)

Ketika Rasulullah bersabda dalam sebuah hadistnya yakni semua manusia yang lahir itu dalam keadaan fitrah laksana kertas putih yang belum ternoda sama sekali, dalam teori tabularasa maka anak yang baru lahir itu dapat kita warnai dengan warna apapun, tergantung dari kita yang akan memberi warna.

Anak kita sejak lahir sudah membawa modal berupa keimanan, jika imannya rusak maka orangtuanya-lah yang kelak akan mempertanggung jawabkan di hadapan Allah swt, walaupun memang rusaknya iman seseorang juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan. Jadi, yang menjadikan anak kita itu menjadi Yahudi, Nasrani maupun Majusi adalah orangtuanya. Oleh sebab itu sebagai orangtua maka wajib bagi kita untuk menyelamatkan anak cucu kita dari bahaya rusaknya iman, sisakan waktu untuk selalu memberikan perhatian kepada anak cucu kita agar mereka terhindar dari pergaulan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Dalam hadist lain Rasulullah saw juga mengajarkan kepada kita untuk berolah raga, seperti : berenang dan membidik (memanah). Makna berenang di sini adalah bagaimana agar kita tidak tenggelam. Rasulullah saw sudah memprediksi bahwa suatu saat ada masa di mana orang akan terbawa arus dan tenggelam oleh derasnya arus yang menyerang ketauhidan seseorang, tetapi beliau sudah memberikan resep bagaimana agar kita dan anak cucu kita agar tidak tenggelam yakni dengan mempertebal keimanan. Di samping itu Rasulullah juga mengajarkan kita untuk membidik dengan tepat, ini mengandung arti bahwa agar kita mampu memberikan bimbingan kepada anak cucu kita supaya selalu berjalan pada kebenaran.

Akhir-akhir ini kita dibombardir oleh hal-hal yang bisa merusak generasi penerus kita, ini merupakan peperangan tanpa kehadiran musuh di depan mata kita secara langsung tetapi hanya dengan menanamkan budaya dan slogan-slogan yang mampu membawa generasi kita terlena, seperti : life style. Hampir seluruh masyarakat di negeri kita ini yang tidak memiliki hand phone, gadget dan alat komunikasi lainnya. Indonesia adalah pangsa pasar yang sangat menjanjikan untuk menyebarkan berbagai macam teknologi. + 250 juta penduduk Indonesia dan hampir 40 % menggunakan teknologi berupa hand phone, alat komunikasi tersebut bisa digunakan untuk hal-hal yang positif maupun negatif. Orangtua yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bisa mengingatkan anak dan istrinya untuk berjamaah shalat, mengaji, dan makan terlebih dahulu lantaran terkena macet di jalan, ini sangat baik sekali. Di sisi lain hand phone juga bisa berakibat negatif karena salah dalam menggunakannya.

Yang sangat memprihatinkan lagi adalah merebaknya peredaran narkoba dan ini merupakan kejahatan luar biasa yang harus kita berantas bersama seluruh elemen masyarakat, ini adalah musuh kita bersama karena sudah banyak anak cucu kita yang terkena dan bahkan kecanduan narkoba, na’udzu billahi min dzalik.  Inilah life style yang tidak benar dan harus kita jauhi sejauh-jauhnya.

Dan yang baru saja adalah fenomena munculnya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender), ini semua adalah gaya hidup yang sangat tidak benar dan harus kita berantas bersama, karena jika hal ini dibiarkan berkembang akan menjadikan generasi penerus kita menjadi generasi yang tidak saja lemah lahirnya, tetapi lemah batinnya. Merebaknya LGBT sungguh sangat bertentangan dengan firman Allah swt yang artinya :

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS. Adz Dzariyat/51 : 49)

Allah swt menciptakan dunia seisinya ini dengan berpasang-pasangan; ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada laki-laki ada perempuan dan lain-lain. Pada hakikatnya orang yang terkena virus LGBT sejak lahir ini dapat disembuh- kan dengan teknologi ilmu kedokteran yang semakin canggih, yang justru harus kita waspadai adalah pengaruh dari lingkungan, namun demikian semuanya insya-Allah masih bisa untuk kita perbaiki.

Jika dilihat dari hukum syar’i, maka LGBT hukumnya adalah “haram”, bukan manusianya yang haram tetapi perilakunya yang harus kita hindari dan sekaligus kita jauhi. Mari kita didik anak-anak kita sesuai dengan kodratnya, anak perempuan dididik secara perempuan, begitu pula sebaliknya anak laki-laki kita didik sebagaimana seorang lelaki sejati.

Manakala kita salah didik yang tidak sesuai kodratnya seorang laki-laki maupun perempuan, maka kelak orangtua-nyalah yang harus bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Mari bersama-sama kita batasi ruang gerak kelompok LGBT ini agar tidak menyebar, jangan sampai mereka dibela sehingga semakin meluas karena membela berarti memperbanyak jumlah komunitasnya. Kewajiban kita sebagai suami istri adalah bagaimana menciptakan generasi yang salih/salihah dalam rangka meneruskan perjuangan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dan ekosistem pertumbuhan manusia agar senantiasa terjaga sesuai dengan qodrat Allah swt.

Oleh sebab itu mari kita tinggalkan gaya hidup yang tidak benar, seperti : LGBT, narkoba, dan hal-hal negatif lainnya. Mari kita jaga anak cucu kita agar menjadi generasi penerus yang berkwalitas dan kelak akan mendoakan kita manakala kita telah dipanggil ke Rahmatullah, dan semoga Allah swt senantiasa menjaga diri, keluarga, dan anak cucu kita dari budaya yang akan menjerumuskan pada jurang kehinaan. Aamiin Allahumma Aamiin. *****

======================

*) KH. Dr. Ahmad Darodji, M.Si.; Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah & Pembina Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved