MAKNA MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH Oleh : Dr. H. Abdul Muchayya, MA. *)

 

marilah kita bersama-sama berupaya sekuat mungkin untuk bertakwa kepada Allah dengan cara melakukan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kita harus ingat bahwa tidak selamanya kita hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat dan tanggungjawab yang harus kita pikul kelak di hadapan Allah, niscaya hidup di dunia ini rasanya sangatlah pendek, meskipun demikian sekalipun pendek tetapi maknanya cukup besar ketika nanti menghadap ke hadirat Allah swt.

Oleh karena itu, mari kita gunakan usia yang telah dikaruniakan oleh Allah ini. Anugerah berupa keimanan, ke-Islaman dan kesehatan mari kita gunakan untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya dengan cara melakukan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, karena sebaik-baik bekal yang harus kita persiapkan untuk menghadap Allah dan bekal kehidupan setelah mati tidak lain adalah ketakwaan kepada-Nya.

saya mengutip satu ayat dimana ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya kita semua adalah anak cucu Adam, disamping sebagai abdi juga memiliki tugas sebagai khalifatullah fil ‘ardh, Allah berfirman :

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?”. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah/2 : 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa posisi khalifah sesungguhnya merupakan posisi yang luar biasa nilainya, sampai-sampai Malaikat-pun juga menginginkan posisi sebagai khalifah, lalu Allah secara tegas menjawab interupsi Malaikat ini dengan firman-Nya yang artinya : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Sedangkan iblis gara-gara Nabi Adam As ditunjuk sebagai khalifah fil ‘ardh menjadi iri dan akhirnya rela dijadikan sebagai ahlunnar (ahli neraka)

Lalu apa makna yang terselip di dalam kekhalifahan ini ?. Yang dimaksud khalifah adalah penerus (wakil-wakil Tuhan) di muka bumi ini. Agar mereka bisa melaksanakan tugas kekhalifahan maka setiap manusia memiliki jiwa yang di dalam jiwa itu kemudian diberi kekuatan yaitu Quwwah Aqliyah, Quwwah Syahwatiyah, dan Quwwah Ghodhobiyah (kekuatan intelektual, kekuatan daya berkeinginan, dan kekuatan daya marah).

Mengapa Allah membekali manusia dengan akal, syahwat, dan ghodhob ?. Akal; diciptakan Allah tidak lain berfungsi untuk menyerap konsep bagaimana sesungguhnya merayakan dan memakmurkan kehidupan dunia ini secara ideal. Syahwat; diciptakan oleh Allah agar kita memiliki keinginan untuk membangun kehidupan atau mewujudkan Darussalam (negara/desa/wilayah yang penuh kedamaian). Adapun Daya Marah yang kita miliki juga berfungsi agar kita mampu menjaga dan melestarikan bentuk kehidupan yang kita idealkan itu supaya tidak cepat musnah, sehingga peradaban itu tetap lestari dan kehidupan yang kita idealkan tetap ada di muka bumi ini.

3 (tiga) hal tersebut merupakan bekal, namun apakah 3 (tiga) bekal itu sudah cukup ?. Ternyata Allah swt dalam firman-Nya telah menjelaskan bahwa ketika Nabi Adam As diciptakan dan kemudian dideklarasikan sebagai khalifah fil ‘ardh (khalifah/pengelola bumi atas nama Tuhan) maka

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved