KEBAIKAN DAN KEBURUKAN ADALAH UJIAN ALLAH SWT Oleh : Drs. KH. Ali Mukti Abror *)

Dalam kesempatan ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt dengan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita bisa meninggalkan segala kesibukan dan kegiatan demi untuk melaksanakan perintah Allah yaitu ibadah shalat Jum’at dengan segala rangkaiannya. Mudah-mudahan ibadah shalat Jum’at kita ini diterima di sisi Allah swt. Amin.

Dari mimbar ini saya mengajak diri saya dan saudaraku jamaah Jum’ah yang berbahagia untuk bertakwa kepada Allah swt, dalam arti takwa yang sebenar-benarnya yakni dengan melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah dan berusaha untuk menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya, dengan bekal takwa maka insya-Allah akan membawa kebahagian dan keselamatan bagi kita di dunia dan di akhirat kelak.

Manusia hidup di dunia ini kadang-kadang senang kadang-kadang susah, Allah sudah menjelaskan di dalam surat Al Anbiya’/21 : 35 yang berbunyi :

‘Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.

Ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa Allah akan menguji manusia, ter kadang ujian tersebut menyenangkan tetapi bisa juga menyedihkan, tetapi jika hal itu terjadi maka kembalikan kepada Allah swt. Tidak sedikit orang diuji oleh Allah dengan kesenangan namun gagal, begitu pula banyak orang diuji oleh Allah dengan kesusahan tetapi justru berhasil. Oleh karena itu, kita diuji oleh Allah dengan kesenangan, antara lain :

1) Sehat; apa artinya uang banyak tetapi sakit-sakitan terus. Oleh karenanya sehat adalah nikmat yang sungguh luar biasa dan harus kita syukuri, sebagaimana firman Allah :

Artinya : “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (QS. An Nahl/16 : 114)

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita untuk banyak bersyukur dengan meningkatkan dan memaksimalkan ibadah, khususnya pada bulan-bulan tertentu, seperti : Rajab, Sya’ban, maupun Ramadhan.

Saat ini kita berada di bulan Sya’ban, Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabatnya : “Kenapa dinamakan bulan Sya’ban ?”. Para sahabat berkata : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Kemudian Rasulullah menjawab : “Karena di bulan Sya’ban ini terdapat banyak sekali cabang-cabang kebaikan”. Oleh sebab itu ketika kita memasuki bulan Sya’ban, mari kita maksimalkan ibadah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt melalui shalat malam. Jika kita istiqamah melaksanakan shalat malam, maka insya-Allah apapun yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah swt, karena di samping shalat fardhu, memang kita dianjurkan untuk melaksanakan shalat-shalat sunnah khususnya Qiyamul Lail, di samping itu kita juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan tmohon ampun ke hadirat Allah, agar dalam memasuki bulan suci Ramadhan nanti hati kita menjadi suci, keimanan dan ke-Islaman kita semakin mantap.

Dalam beribadah ke hadirat Allah swt kita harus ikhlas tanpa ada paksaan dari siapapun dan pamrih apapun, karena jika kita ikhlas dalam menjalankan ibadah maka ridho Allah akan kita gapai, dan jika ridho Allah telah kita dapatkan maka wadkhulii Jannatii (masuklah ke dalam surge-Ku).

2) Harta; termasuk di dalamnya derajat, pangkat, atau jabatan adalah merupakan kelezatan dunia dan ini harus betul-betul kita syukuri. Di dalam       Al Qur’an banyak sekali ayat yang menyebutkan perintah tentang shalat yang diikuti dengan perintah zakat, infaq, dan shadaqah, kurang lebih ada 83 (delapan puluh tiga) ayat. Oleh karena itu, manakala kita mau bershadaqah atau berinfak tidak perlu menunggu kita menjadi kaya tetapi kapanpun hal itu dapat kita lakukan, karena Allah telah berjanji bahwa apa yang kita sedekahkan maka akan dilipat gandakan pahala dan amal ibadah kita.

Perintah Allah hanya sebagian saja dari harta yang kita miliki untuk diinfakkan di jalan Allah, firman Allah dalam surat Al Baqarah/2 : 254 yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim”.

Oleh karenanya, jangan sampai saat ajal tiba kita baru mau mengeluarkan zakat, infak maupun sadaqah atau justru sama sekali tidak pernah mengeluarkannya. Naudzu billahi min dzalik. Ingatlah bahwa harta, tahta, wanita dan lain-lain tidak akan dibawa mati, bekal yang kita bawa adalah amal salih kita masing-masing.

3) Anak; ini adalah amanah, oleh karena itu anak harus kita didik khususnya masalah agama, jangan sampai kita terlalu memanjakan anak, apapun yang diminta oleh anak selalu dituruti namun soal agama justru kita lupakan. Firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun/63 : 9)

Kemudian, Allah swt juga menguji kita pada hal-hal yang tidak menyenangkan, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi :

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah/2 : 155)

Ayat ini menerangkan bahwa rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan adalah salah satu ujian dari Allah swt. Misalnya : Bahan Bakar Minyak (BBM) naik kita menjadi takut, sampai-sampai semalaman antri untuk membeli bensin. Sebagai orang yang beriman mestinya kita tidak perlu sedih, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena Dia-lah sang Maha Penjamin Rizki (Ar Rozzaq). Firman Allah dalam surat Ali Imran/3 : 139 yang berbunyi :

ŸArtinya : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.

Baru saja terjadi kebakaran yang hebat di pasar Johar sehingga banyak sekali saudara-saudara kita yang kehilangan harta benda, peristiwa seperti ini jika kita mengaku sebagai orang beriman maka kembalikan sepenuhnya kepada Allah swt, pasti ada hikmah di balik musibah tersebut. Kita juga diuji oleh Allah dengan rasa sakit atau sebaliknya kita sehat tetapi saudara kita sakit, para petani juga memperoleh ujian, misalnya tanamannya diserang hama penyakit atau terkena banjir. Semua itu mesti kita hadapi dengan kata “sabar”, fainsya-Allah orang yang sabar dalam menghadapi ujian akan mendapat anugerah yang tiada terkira dari-Nya dan justru akan diangkat derajatnya ke level yang lebih tinggi lagi.

Oleh sebab itu, apabila kita diberi kesenangan oleh Allah maka pandai-pandailah bersyukur ke hadirat-Nya dan manakala diuji oleh Allah dengan kesusahan maka hadapilah dengan kesabaran.

Allah berfirman :

Artinya : “……Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembali- kan”. (QS. Al Anbiya’/21 : 35)

Apabila kita mampu menerapkan 2 (dua) hal tersebut maka insya-Allah kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mudah-mudahan dalam menghadapi dunia yang penuh dengan aneka warna ini kita selalu mendapat bimbingan dari Allah swt sekaligus mengikuti sunnah-sunnah Rasul sehingga kita dapat berjalan ke jalan yang lurus dan selamat dunia akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved