HIKMAH DI BALIK MUSIBAH Oleh : dr. H. Affandi Ichsan, Sp, PK, (K) KKV, M.Ag. *)

Tiada kata yang utama kecuali puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kita, nikmat terbanyak yang diberikan oleh Allah swt sehingga tidak seorangpun dapat menghitungnya, antara lain : nikmat Islam dan nikmat iman dimana dengan kedua nikmat tersebut kita dapat meniti ke jalan yang benar.

Salam dan shalawat semoga terlimpah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw beserta para pengikutnya, kepada kita semua sampai pada yaumul qiyamah. Selanjutnya yang sering dilupakan oleh orang-orang yang beriman sehingga diingatkan oleh Rasulullah adalah nikmat kesehatan dan kelonggaran waktu yang diberikan kepada kita.

Alhamdulillah kita tidak termasuk orang yang lupa, karena kita mampu menggunakan kedua nikmat itu untuk melaksanakan shalat Jum’at di masjid yang kita cintai ini yakni Masjid Raya Baiturrahman.

Selanjutnya, dalam rangka meningkatkan kwalitas dan kwantitas iman dan takwa kepada Allah marilah saya ajak untuk tidak henti-hentinya selalu bertakbir, berdzikir, dan bertahmid ataupun selalu eling kepada Allah sebagaimana perintah Allah swt, sehingga kita tergolong orang-orang yang beruntung. Karena aktifitas yang dilandasi dengan hati, lisan dan perbuatan maka akan berbuah manis yakni keselamatan kita di dunia dan di akhirat. Amin.

Allah swt begitu sayang kepada kita, apakah kita di dalam keadaan susah ataupun duka, terkena musibah/cobaan. Apakah kita dalam keadaan suka, senang, gembira sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadist yang artinya :

“Sungguh menakjubkan perkara orang-orang yang beriman itu karena semua urusan mereka itu baik baginya dan itu tidak berlaku pada seorangpun kecuali pada orang-orang yang beriman, karena jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur maka kebaikan itu (kesyukuran itu ) baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar maka musibah itu menjadi baik baginya”. (HR. Muslim)

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa hadist tersebut mencakup semua ketentuan Allah swt atas hamba-Nya yang beriman baik saat ia mendapat musibah, ia bersabar dan bersyukur saat ia mendapat kesenangan sebagaimana firman Allah di dalam Surat Luqman/33 : 31 yang berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang (penyabar) dan banyak bersyukur”.

Dan surat Ibrahim/14 : 7 yang berbunyi :

Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azdab-Ku sangat pedih”.

Dengan perkataan lain bahwa setiap perintah yang datangnya dari Allah, agama Islam memerintahkan untuk bersabar. Ada 3 (tiga) macam yang diisyaratkan dalam agama Islam :

1) Bersabar dalam menjalankan perintah Allah sehingga ia bisa melaksanakannya. Karena seorang hamba tidak mungkin bisa melaksanakannya apa yang diperintahkan-Nya kecuali ia bersabar dan butuh waktu. Dengan pengertian lain seseorang bisa melaksanakan perintah Allah yang diwajibkan apabila ia mempunyai jiwa sabar di dalam hatinya.

2) Sabar dalam menahan diri apa yang dilarang oleh Allah swt sehingga dia dapat menjauhinya. Dengan pengertian lain seseorang bisa meninggalkan larangan-Nya sesuai dengan kekuatan atau derajat sabar yang dimilikinya.

3) Sabar dalam arti kata musibah yang terjadi atas dirinya yang disebabkan oleh orang lain; kesabaran ini terberat karena kesalahan orang lain ia merasa didzalimi ataupun disakiti sedang ia tidak merasa menyakiti apalagi mendzaliminya, akibatnya timbul perlawanan dalam dirinya untuk membalasnya. Agama memerintahkan sabar pada orang semacam ini bahkan Nabi-pun mengalami nasib seperti ini berkali-kali bahkan berpuluh-puluh kali sampai Nabi berdo’a :

“Allahummaghfirli qaumi fainnahum la ya’lamun” (Wahai Allah ampunilah kaumku ini, sesungguhnya mereka berbuat demikian karena ketidak tahuannya, tidak tahu misi apa yang aku bawa”. (HR Bukhari Muslim)

Ada 3 sifat terpuji di balik hadist tersebut, yakni :

1) Memaafkan umatnya;

2) Memintakan ampun bagi mereka yang menyalahi;

3) Memintakan ampun karena ketidaktahuan mereka.

Sabar semacam ini akan membuahkan hasil kemenangan, mendatangkan kemuliaan serta kebahagiaan, dan tambahan pula kecintaan dari Allah SWT yang luar biasa. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Fushilat/ :34-35 yang berbunyi :

ŸArtinya : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”.

Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat akrab. Sifat-sifat baik itu tidak akan diberikan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai kebahagiaan yang amat besar.

Contoh sabar di dalam hal ini adalah yang diterima oleh keluarga almarhum dan almarhumah dalam musibah kecelakaan di Arab Saudi baik korban yang tertimpa Crane atau musibah di Mina.

Dalam sebuah kisah terjadi antara Umar bin Khathab ra dan salah seorang sahabatnya Hudzaifah, Hudzaifah berkata :

1) Wahai Umar, aku sekarang senang pada suatu fitnah;

2) Wahai Umar, aku sekarang benci kepada kebenaran;

3) Wahai Umar, aku sekarang shalat tanpa wudhu; dan

4) Wahai Umar, aku sekarang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah di Arys’

Mendengar perkataan Hudzaifah itu, Umar bin Khathab ra berkata : “Subhanallah, astagfirullah, lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim“. Kemudian mereka bersalaman dan dengan muka yang merah padam, Umar bin Khathab meninggalkan sabahat Hudzaifah. Di tengah perjalanan Umar bin Khathab ra bertemu dengan sahabat Abu Bakar As Shidiq ra dan menceritakan percakapan antara keduanya karena hal itu dapat dianggap merusak akidah dan merusak keimanan.

Namun Abu Bakar Ash Shidiq ra tersenyum simpul dan berkata : sabar, sabar, sabarlah wahai Umar, apa yang dikatakan Hudzaifah adalah benar adanya. Ia mengatakan :`

1) Senang kepada fitnah; ingatlah firman Allah bahwa harta, istri dan anak jika dimenej dengan tidak baik maka akan menimbulkan fitnah dikemudian hari, sebaliknya kjika ia mampu memenej dengan baik dan mensyukuri harta, istri, dan anak maka hal tersebut tidak akan menimbulkan fitnah, bahkan pahala yang banyak.

2) Benci kepada kebenaran;

Maksudnya kematian adalah kebenaran dan keniscayaan, itulah sebabnya ia takut akan kematian sebelum mampu mengumpulkan amal kebajikan dan memperbanyak ibadah kepada Allah swt.

3) Shalat tanpa wudhu; karena ia telah berwudhu, do’a wudhu telah dilaksanakan, begitu pula shalat sunnah wudhu kemudian shalat Rawatib. Ia tidak berwudhu lantaran ia tidak batal dan mampu menjaga wudhunya dengan beribadah kepada Allah swt.

4) Memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Allah di ‘Arsy;

Maksudnya adalah Hudzaifah itu memiliki anak istri dan harta karena sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ikhlas/112 : 1-4 yang berbunyi :

Artinya : “Katakanlah dia Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun setara dengan Dia”.

Maka marilah kita menej kehidupan ini dengan berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan di sekitar kita, ketauhidan dan ketakwaan kita kepada Allah tidak akan memiliki makna apapun bila tidak mampu berbuat baik di muka bumi ini.

La dzaqo tha’mal iman, demikian sabda Rasulullah yang artinya : “Orang yang tidak mampu menikmati indahnya iman”. Di sisi lain orang tersebut tergolong orang-orang yang merugi. Firman Allah di dalam surat Al Ashr/103 : 1-3 yang berbunyi :

Artinya : “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen mencintai sesama manusia, di mana Allah swt menciptkan kita dalam satu kesatuan yakni ketauhidan tetapi juga menciptakan kondisi sosial yang berbeda-beda. Kita patut bersyukur walaupun berbeda-beda namun Allah memandang orang yang bertakwa itu yang paling mulia di sisi-Nya, sehingga Rasulullah saw bersabda : “Tidak akan masuk surga bagi orang yang tidak beriman dan kalian tidak beriman jika kalian tidak saling mencintai”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa iman dan takwa adalah modal utama disisi Allah swt dengan syarat saling mencintai antar sesama dan lingkungan dalam koridor yang telah diatur dalam        Al Quranul Karim.

Tepat 1 (satu) bulan yang lalu peristiwa musibah di Masjidil Haram, bukan hanya keluarga yang ditinggalkan salah anggota keluarganya, tetapi kita semua umat Islam terkejut dan sedih mendengar jatuhnya korban jiwa maupun yang luka-luka atas terjadinya crane yang jatuh di Masjidil Haram dimana tempat tersebut dibanjiri seluruh umat Islam di dunia. Perubahan cuaca yang ekstrim saat itu, angin yang bertiup kencang, hujan badai menyebabkan crane jatuh yang menimpa jamaah haji, ada yang sedang melaksanakan tawaf, ada yang sedang berdo’a, membaca Al Qur’an dan lain-lain, tiba-tiba mereka tertimbun oleh reruntuhan dinding Masjidil Haram dan crane yang jatuh. Ada beberapa tanda kemuliaan dalam hal wafat mereka, yakni kemuliaan tempat, waktu, dan keadaan.

1) Kemuliaan tempat; mereka meninggal di dekat Ka’bah di Masjidil Haram;

2) Kemuliaan waktu; mereka meninggal saat memenuhi panggilan Allah sebagaimana surat Al An’am/6 : 5 yang maksudnya : “Sesunggunya ini adalah jalan-Ku yang lurus dan jangan kamu ikuti jalan yang lain”. Di ayat lain Allah berfirman : Watarakna alaihi fil akhirin : “Dan Kami abadikan peristiwa ini untuk manusia yang datang kemudian (dalam bentuk ibadah haji)”.

3) Kemuliaan keadaan; mereka mati dalam keadaan tertimbun.

Ke-3 (tiga) kemuliaan itulah kita yakini bahwa mereka termasuk mati syahid.

Masih terbayang di dalam ingatan kita akan peristiwa di Masjidil Haram, tiba-tiba tragedi Mina menyusul hingga ratusan bahkan ribuan jamaah haji meninggal, termasuk jamaah haji Indonesia + 71 orang. Kita berdo’a mudah-mudahan jamaah haji yang tertimpa musibah tersebut tergolong orang-orang yang mati syahid, diampuni dosa-dosanya, dan diterima semua amal ibadahnya.

Tidak ada jeleknya pada akhir khutbah saya yang kedua ini mengingatkan kepada kita semua tentang sebuah hadist Qudsi yang maksudnya : “Betapa banyak lampu-lampu yang bersinar terang benderang padam karena hembusan angin malam, betapa banyak orang yang pandai celaka karena kepandaiaanya, betapa banyak orang yang kaya raya celaka karena keserakahannya, betapa banyak ahli agama celaka karena akhlaknya, dan betapa banyak orang yang miskin celaka karena kesombongannya”.

Dengarkanlah pula syair filosof Islam bernama Muhammad Iqbal : “Pikiranku menerawang di angkasa, ingin dekat dengan Sang Pencipta, namun tatkala aku di bumi aku kecewa, aku sengsara, aku merana, aku terhina, aku tak mampu mengurusi urusan dunia, aku selalu menghadapi tantangan dalam setiap langkahku, aku dapatkan orang bertengkar, berebut harta, tahta, dan wanita. Mengapa begitu dungu ahli-ahli agama dalam menghadapi persoalan duniaini”.

Mari kita tutup khutbah ini dengan do’a :

Bismillahirahmanirrahim

Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Allahumma shalli wasallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ’ala ali Muhammad, kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ‘ali Ibrahim. Fil ‘alamina innaka hamidun majid.

Alhamdulillah, hamdan yuwafi ni’amahu wayukafi mazidah, ya Rabbana lakal hamdu kama yanbaghi lijalali wajhika wa ‘adzimi sulthonik.

Ya Rabb Ya Rahman Ya Rahim

Berilah cahaya yang terang dalam hati kami, berilah cahaya yang terang dalam penglihatan kami, berilah cahaya yang terang dalam pendegaran kami.

Ya Rabb Ya Rahman

Engkau pemberi Rahmat kepada siapapun, karenanya ya Allah lapangkanlah dada kami, mudahkanlah urusan kami, dan tinggikanlah martabat kami.

Ya Allah, Engkau janjikan kalbu yang sakinah pada orang-orang yang dekat kepada-Mu, karenanya ya Allah hiaskanlah dalam kalbu kami akan keyakinan yang benar, hiaskanlah kalbu kami akan iman yang istiqamah.

Ya Rahman Ya Razaq

Engkau pemberi rizki pada orang-orang yang Engkau sayangi, karenanya ya Allah beri kami kemurahan rizki yang halal, beri kami kemuliaan hidup di dunia karena sesungguhnya Engkau ciptakan dunia ini untuk kehidupan kami.

Ya Allah Ya Malik

Engkau pembuka hati, gelapnya kalbu manusia, jadikan kami dengan menabur kebaikan kepada keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Ya Allah Ya Ghofurun Rahim

Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orangtua kami pada-Mu Ya Allah, kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi diri kami ketika masih kecil, tanpa kasih sayang dan ridho-Mu, dan juga tanpa kasih sayang orangtua kami, tidak mungkin bisa kami berada di tengah-tengah jamaah shalat Jum’at ini.

Beri petunjuk kepada bangsa kami, pemimpin-peminpin kami agar berjalan di jalan-Mu yang benar dan lurus, shirathal mustaqim, dalam sikap, amalan, dan perbuatan.

Ya Allah saya berlindung dari do’a yang tidak engkau kabulkan. Allahumma inni as’aluka min addu’a la yastajib. Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar. Wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin. *****

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved