FILTER HIDUP Oleh : Dr. H. Rosihan, SH, M.Ag. *)

Pada kesempatan yang relatif singkat ini, kita bersama-sama menjadi hamba Allah yang bertambah syukur kepada-Nya, kita bersyukur kepada Allah swt karena Dia-lah yang memberi nikmat dan yang mencukupi kita sehingga kita menjadi manusia yang terpelihara. Kita bisa membayangkan berapa nikmat Allah yang telah limpahkan kepada kita, seperti : nikmat kesehatan, saudara-saudara kita yang sedang berbaring di rumah sakit, berapa mereka harus mengeluarkan ongkos untuk keperluan tersebut. Semua organ tubuh yang kita miliki ini cuma-cuma diberikan oleh Allah swt, oleh karena itu apa balas budi kita kepada Allah swt ?. Tentu kita akan merujuk pada pesan Allah swt di dalam surat Al Kautsar/108 : 1-3 yang berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Setiap kita menghadiri ritual shalat Jum’at, kita diingatkan agar tetap bertakwa kepada Allah swt atau menjaga dan memelihara diri takwa tersebut yang secara sederhana makna kebahasaannya adalah : “Takwa ialah waspada dan hati-hati”. Mengapa kita perlu waspada dan hati-hati ?. Karena kita ketahui bahwa dalam menjalani hidup di dunia ini kita tidaklah sendirian, lalu lintas kehidupan menawarkan berbagai macam hal, mulai hal-hal yang baik maupun yang buruk, ditawarkan kepada kita ada yang halal dan yang haram. Kita melihat ada saudara-saudara kita yang sukses tetapi ada pula yang tertunda kesuksesannya. Manakala kita tidak hati-hati dan tidak waspada, maka bisa jadi kita akan tergelincir dan celaka. Jika sudah demikian, maka kita akan mengalami kerusakan fisik sehingga butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Oleh karena itu berhati-hatilah, hidup kita ini selalu diawasi oleh Allah swt di mana saja kita berada : di rumah, di jalan, di kantor, di tempat tersembunyi maupun tempat terbuka Allah selalu hadir bersama kita. Karena itulah Nabi mengajarkan kepada kita dalam sebuah hadist yang berbunyi : Itaqillaha khaitsuma kunta wa atbi’is sayyi’atal khasanah tamkhuha wa kholiqin naasa bi khuluqin hasanin” (Takutlah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan kebaikan dan hendaklah kamu bergaul dengan sesama manusia dengan pergaulan yang baik).

Semua ruang yang ada di dunia ini adalah milik Allah swt, tidak ada yang lepas dari pengawasan Allah. Oleh karena itu pada kesempatan yang sama Allah berfirman dalam surat Al Baqarah/2 : 284 yang berbunyi :

Artinya : “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Jika kita mampu menghadirkan Allah di mana saja kita berada maka kita berusaha untuk melanjutkannya bertemu dengan Allah yakni melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, karena dengan melakukan perbuatan yang baik itu maka perbuatan tercela akan terhapus dengan sendirinya, disamping itu hendaknya kita bergaul dengan sesama manusia dengan pergaulan yang baik pula.

Hati-hati dan waspada, hal ini diajarkan kepada kita agar dalam menjalani hidup ini ada filternya, dan filter yang harus dimiliki oleh manusia tidak lain adalah “iman/tauhid” yang kokoh. Di samping itu, iman harus senantiasa kita tumbuh kembangkan dan selalu dipupuk agar semakin mantap. Allah swt menggambarkan tentang tauhid yang kokoh itu dalam surat Ibrahim/14 : 24-25 yang berbunyi :

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah membuat perumpamaan tentang kalimat tauhid (iman yang kokoh) laksana pohon yang bersih dimana akarnya menghunjam ke bawah, dahan dan rantingnya menjulang tinggi ke atas, daunnya sangat rindang, dan setiap saat terus berbuah sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Mengapa iman yang kuat diperumpamakan oleh Allah dengan pohon yang tinggi ? bukan pohon yang perdu ?. Karena pohon yang tinggi tidak mudah tercemar, berbeda dengan pohon yang rendah/perdu. Dapat kita lihat, jika musim penghujan tiba maka pohon yang tinggi tidak akan mudah terkena comberan ketika kendaraan lewat, dan kalau kita lihat pohon yang perdu maka akan mudah tercemar dengan comberan ketika kendaraan sedang lewat.

Allah menggambarkan “kalimat tauhid” (iman yang kokoh) itu laksana pohon yang rindang; kita ketahui bahwa hidup ini tanpa pepohonan yang rindang maka udara akan terasa panas sehingga pohon yang rindang ini mampu menjadi filter udara, padat dengan oksigen maka orang yang berteduh di bawahnya akan terasa nyaman dan sejuk. Oleh karena itu, orang yang imannya kokoh maka dia akan mampu menjadi orang yang menyejukkan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Allah juga menggambarkan iman yang kokoh itu ibarat pohon yang tinggi; karena akan mampu menyerap cahaya, berbeda dengan pohon yang rendah yang posisinya berada di bawah dan terhalang oleh pohon yang tinggi. Oleh sebab itu, filter hidup orang beriman tidak lain adalah “tauhid”, dan kita harus terus berupaya untuk menumbuhkan sekaligus memperkokoh keimanan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tauhid yang kuat dan kokoh akan menjadi filter hidup, karena kita yakin bahwa apa yang terjadi di dunia ini sudah dirancang dengan sangat baik oleh Allah swt, karenanya dengan keimanan yang kuat manusia tidak akan menjadi sombong dan gelisah tatkala sukses ataupun gagal. Kita lihat firman Allah dalam surat Al Hadid/57 : 22-23 yang berbunyi :

Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa apapun yang diciptakan di dunia ini telah dirancang oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan, dengan demikian maka manusia tidak layak untuk menyombongkan diri ketika mengalami kesuksesan dan tidak perlu menyesali diri ketika mengalami kegagalan.

Oleh karenanya, ketika kita mengalami kesuksesan dan melihat saudara-saudara kita ada yang sukses dalam berkarir, itu semua sudah tercatat di Lauhil Mahfudz. Jika kita mengalami kegagalan maka tidak perlu kecewa atau sedih dan apabila kita sukses jangan terlalu senang, yang wajar-wajar saja.

Untuk menggambarkan lebih jelas bahwa bagaimana keimanan itu terukur dengan baik, maka ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang Ulama Fiqih bernama Abu Sa’id Abul Khoir diceritakan dalam sebuah kitab, beliau menderita penyakit diabetes mellitus yang gulanya sudah tinggi dimana salah satu kakinya harus dipotong. Ulama ini masih bersyukur dengan mengucap “Alhamdulillah” karena masih memiliki 1 (satu) buah kaki. Namun cobaan berikutnya datang, salah seorang putranya meninggal dunia lantaran jatuh dari pohon, sehingga putranya yang berjumlah 4 (empat) orang berkurang 1 (satu) orang, namun beliau tetap bersyukur karena masih memiliki 3 (tiga) orang putra. Selanjutnya, istri beliau terkena serangan jantung dan wafat, namun demikian beliau masih tetap bersyukur karena beliau sadar betul bahwa semuanya adalah kepunyaan Allah swt.

Dengan demikian, jika hidup kita ini tidak ada filter yang disebut dengan “tauhid/iman”, maka dapat dipastikan hidup kita tidak akan terarah. Hidup dan mati kita sudah dicatat oleh Allah dan sebagai manusia diwajibkan untuk berikhtiar dalam menjalaninya, semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, dalam bahasa Al Qur’an sering kita dengar “Innaa Lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya semua adalah milik Allah dan kelak akan kembali kepada-Nya).

Karena filter hidup ini sebagaimana dikatakan oleh Al Qur’an adalah tauhid (iman) yang kokoh dan kita ketahui bahwa semua yang ada di dunia ini telah dicatat oleh Allah swt di Lauhul Mahfudz, karenanya kita dikehendaki oleh Allah untuk menjadi manusia yang wajar-wajar saja serta tidak boleh terlalu senang dan susah secara berlebihan. Semuanya akan menjadi pelajaran bagi kita, sebagaimana kita ketahui bahwa beberapa waktu yang lalu salah seorang Ketua PB NU yaitu Bapak KH. Slamet Efendi Yusuf yang di dalam kesegarannya melakukan kegiatan di salah satu hotel di Bandung, namun ternyata saat itu pula beliau dipanggil oleh Allah swt.

Kemudian selang beberapa hari kemudian, seorang muballigh bernama Bapak KH. Toto Tasmara ketika akan menshalatkan jenazah keponakannya, beliau dipanggil le Rahmatullah. Apa arti semua ini ?. Peristiwa tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa kelak kita akan mengalam hal yang sama seperti Bapak KH. Slamet Effendi Yusuf dan Bapak KH. Toto Tasmara, kematian akan menjemput kita setiap saat. Oleh karena itu, bekal yang akan kita bawa menghadap kehadirat Allah swt harus kita perbanyak dan bekal itu adalah takwa serta amal salih.

Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap istiqomah dalam iman dan Islam. Demikian khutbah singkat ini, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved