DUSTA DAN BAHAYANYA Oleh : KH. Drs. Mustaghfiri Asror *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 10 Mei 2013 M / 29 Jumadil Akhir 1434 H

 

DUSTA DAN BAHAYANYA

Oleh : KH. Drs. Mustaghfiri Asror *)

Sambil beri’tikaf di rumah Allah ini, mari kita bersama-sama berikrar untuk senantiasa meningkatkan takwAllah, yakni melaksanakan semua perintah-perintah Allah, dalam suasana suka maupun duka dan sekaligus menjauhi semua larangan-larangan Allah, walau dalam suasana yang sangat sepi sekalipun. Karena kita yakin, bahwa hanya dengan takwAllah, Allah swt akan mengangkat derajat manusia menjadi makluk mulia disisi-Nya, sebagaimana tercantum di dalam surat Al Hujurat/49 : 13 yang berbunyi :

Artinya : “…………Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”.

Mudah-mudahan Allah swt menjadikan kita dan keluarga kita orang-orang yang berhak memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Salah satu cara atau sikap yang harus kita wujudkan ketika menghadapi perintah-perintah Allah swt itu agar terasa ringan, yakinilah bahwa sesungguhnya perintah atau larangan Allah swt itu adalah bentuk kasih sayang atau rahmat-Nya kepada kita manusia sebagai hamba Allah, bukan sebagai beban, apalagi dinilai sebagai perbuatan yang memberatkan. Atau dengan perkataan lain, sesungguhnya beribadah itu adalah sebuah kebutuhan kita. Tanpa ibadah, kebutuhan kita baik kebutuhan lahiriyah maupun batiniyah ada yang hilang. Sadar atau tidak, begitulah peratura atau hukum yang dibuat Allah swt.

Sebuah contoh; jujur (siddiq) artinya : berkata sesuai dengan kenyataan atau berkata apa adanya, bukan ada apanya. Ini adalah bagian dari kebutuhan dalam hidup dan kehidupan kita. Menjauhkan diri dari sifat dan sikap dusta, bohong atau apapun namanya adalah bagian dari kebutuhan kita hidup di alam fana ini. Mewujudkan kondisi masyarakat yang “tiada dusta di antara kita” adalah kebutuhan kita bersama, baik pejabat atau rakyat, kyai maupun santri, penguasa maupun pengusaha tanpa terkecuali, seluruhnya berkewajiban menjauhi sifat dan sikap dusta atau bohong.

Mengapa dusta harus kita jauhi dan jujur harus kita tegakkan ? Rasulullah saw sebagai orang yang paling jujur sepanjang masa, telah menjelaskan dengan sabdanya yang artinya :

“Seharusnya kalian bersifat jujur, sebab jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menghantarkan ke surga. Selama seseorang terus-menerus memelihara sifat jujur, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang lurus. Jauhilah sifat dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu menghantarkan ke neraka. Selama seseorang itu berbuat dusta, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang pembohong”. (HR. Bukhari).

Kemudian, di mana letak bahayanya dusta bagi kita umat manusia pada umumnya dari bagi kita mukmin dan mikminat ?. Dari sudut akidah, bila seorang mukmin sudah berani dusta, maka martabat kemukminannya itu hilang, berganti dengan predikat munafik. Na’udzu billah. Hal ini sebagaimana ditunjuki oleh Rasulullah saw melalui sabda beliau yang artinya :

Ciri-ciri orang munafik itu ada 3 (tiga)yaitu : bila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, dan bila diberi amanat menghianati”. (HR. Syaikhan).

Predikat mukmin adalah predikat yang sungguh sangat mulia, tetapi seorang mukmin jika berani dusta atau bohong, maka predikat kemukminannya itu hilang diganti dengan predikat munafik. Padahal orang munafik sangat jelas ditegaskan oleh Allah swt melalui firman-Nya dalam surat An Nisa’/4 : 145 yang berbunyi :

Artinnya : “Sesungguhnya orang munafik itu (ditempatkan) pada tempat yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun dari mereka “.

Dengan perkataan lain bahwa dusta atau bohong itu bisa menjadi sababiyah iman seseorang sirna dari dalam hatinya. Di samping dusta bisa menyebabkan akidah seseorang hilang, juga akan merusak syari’ah atau tatanan  hidup yang sudah didesain sedemikian rupa oleh Allah swt sebagaimana dustanya lidah yang akan merusak tatanan fisik manusia secara totalitas.

Salah satu anggota tubuh kita yang tidak pernah dusta adalah lidah. Memang di tengah-tengah masyarakat ada ungkapan bahwa “lidah tidak bertulang”, yang berkonotasi negatif terhadap lidah. Namun di sisi lain kita memperoleh pelajaran bahwa lidah kita itu sesungguhnya senantiasa jujur dan tidak pernah dusta.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa setiap makanan dan miniman yang kita konsumsi melalui mulut, sedangkan di mulut ada lidah. Lidah itulah yang mendeteksi  apakah makanan dan minuman yang kita konsumsi itu manis atau pahit, keras atau lunak, memberi kemanfaatan kepada konsumennya atau justru mendatangkan madlarat. Coba saja sekali-kali lidah kita berdusta, ketika ada racun masuk ke dalam mulut dikatakan bahwa racun itu manis, maka akibatnya pasti fatal, konsumennya mengalami Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Demikian pula dunia seisinya ini pasti semakin rusak bila jumlah orang-orang yang berdusta semakin meningkat. Kerusakan fisik maupun non fisik di negeri kita tercinta ini Insya-Allah semakin berkurang apabila kebohongan atau dusta di antara kita diganti dengan sifat kejujuran. Bicara apa adanya itu lebih bagus dari pada ada apanya.

Ada kisah seorang sufi yang bernama Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Al Husaini Wal Hasani, lahir di Irak, yang lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Ketika memasuki usia 18 tahun, Abdul Qadir pergi menuntut ilmu ke Baghdad. Ibunya yang sudah menjanda memberi bekal kepadanya 80 (delapan puluh) keping emas, yang diijahitkan pada bagian bajunya sebelah dalam. Ketika hendak berangkat, si ibu berpesan : “Hai Abdul Qadir, dalam situasi yang bagaimanapun kamu jangan dusta”. Abdul Qadir menjawab : “Insya-Allah bunda, pesan ibu akan saya pegang teguh”. Di tengah perjalanan menuju Baghdad itu, Abdul Qadir dihadang segerombolan penyamun. Salah seorang penjahat ini bertanya kepadanya : “Hai anak muda, kamu membawa uang atau tidak”. Ingat akan janji kepada sang ibu, Abdul Qadir menjawab : “Aku membawa uang 80 (delapan puluh) keping emas yang dijahit oleh ibuku di dalam bajuku”.

Tentu saja sang perampok terperangah dan terkejut, kok ada manusia sejujur ini. Kemudian Abdul Qadir dibawa ke suatu tempat  untuk membuktikan kebenaran pengakuannya itu. Setelah dicek ternyata betul, bahwa di dalam bajunya ada 80 (delapan puluh) keping uang emas. Melihat kenyataan itu, spontan pimpinan penyamun itu keringatnya mengucur membasahi seluruh tubuhnya, badannya menggigil, sambil menangis tersedu-sedu bos perampok itu tertunduk di kaki Abdul Qadir. Dengan penuh kesadaran bos penyamun ini akhirnya taubat dan menjadi murid pertamakali bagi Syekh Abdul Qadir Al Jailani.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut di atas antara lain bahwa kejujuran itu dapat menghapuskan kejelekan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Baik atau buruknya negeri kita tercinta ini di masa yang akan datang, antara lain dapat kita baca lewat sifat dan sikap pembohong penduduk negeri ini.

Oleh karena itu, mari kita mencermati ulang firman Allah swt dalam surat At Taubah/9 : 119 yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan jadilah kalian orang-orang yang jujur”.

Ayat yang lain Allah swt berfirman :

Artinya : “…..Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”. (QS. Al Mu’min/40 : 28)

Dari kedua ayat ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah swt hanya akan memihak kepada orang-orang yang jujur, sekaligus Allah swt tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta.

Ya Allah ya Rabb, berikanlah kepada kami dan keluarga kami kekuatan lahir dan batin, sehingga kami dan keluarga mampu melaksanakan perintah-Mu untuk bertakwa dan menjadi orang yang jujur. Sehingga kami dan keluarga kami kelak dapat Engkau masukkan kedalam hamba-Mu yang Engkau panggil dengan panggilan yang sangat mesra :

Artinya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al Fajr/89 : 27-30).

Amin, amin, amin ya Rabbal ‘alamin. *****

==========================

*) KH. Drs. Mustaghfiri Asror; Ketua Bidang Takmir Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved