BAHAYA TAKABBUR Oleh : KH. Drs. Khaeruddin, MA. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 17Januari 2014 M/          15Rabiul Awal 1435 H

Mari kita bersyukur kepada Allah swt yang telah berkenan melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga pemikiran, hati, dan anggota badan kita bisa tergerak untuk menunaikan ibadah setiap saat. Ini merupakan bagian dari nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita, yaitu nikmat dan Islam. Sudah seharusnya kita mensyukuri semua nikmat ini agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Cara mensyukuri nikmat ini tiada lain adalah dengan cara menundukkan diri kita secara penuh pada petunjuk Allah swt.

Ketahuilah bahwa kebahagiaan yang akan kita dapatkan berbanding lurus dengan ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah swt. Semakin besar tingkat ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah, maka semakin besar pula kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Semakin kecil ketaatan seseorang, maka semakin kecil pula kebahagiaan yang akan ia dapatkan.

Salah satu petunjuk Allah yang apabila kita melaksanakannya maka kita akan bahagia dan terhindar dari pengaruh negatifnya adalah agar kita sebagai anak manusia menjauhkan diri dari sikap takabbur. Rasul menjelaskan dalam hadist Qudsi bahwa Allah berfirman yang artinya :

“Takabbur adalah selendangku (sifatku), Barang siapa mengambilnya dariku, maka aku akan menghancurkannya. (HR. Hakim)

Dalam hadist ini sudah jelas bahwa barang siapa sombong maka Allah akan menghancurkannya dan membuatnya sengsara. Karena hanya Allah-lah yang pantas untuk bersifat sombong. Kenapa demikian ? Karena Allah-lah yang memiliki segalanya, maka Allah berhak sombong atas egala sesuatu yang kita miliki.

Setiap makhluk Allah, termasuk di dalamnya manusia tidak pantas bertakabbur, karena sejatinya dirinya dan segala sesuatu yang ada pada dirinya adalah dari dan milik Allah swt. Kita tidak akan mungkin ada di ada di dunia ini, kalau bukan kehendak Allah. Kita tidak akan mungkin bisa bertahan hidup, kalau Allah tidak mencukupi kebutuhan kita. Kita tidak mungkin menikmati anugerah yang sekarang ada dalam diri kita, kalau Allah tidak memberikannya kepada kita.

Sejarah telah mencatat dengan jelas, bagaimana Allah membuat sengsara dan menghancurkan siapapun yang mengambil kesombongan dari Allah. Lihatlah Iblis, bagaimana ia dilaknat Allah dan diusir dari surga. Itu semua karena kesombongannya. Ia merasa bahwa ia lebih baik dari Ada. Iblis berkata sebagaimana firman Allah dalam surat Al A’raf/7 : 12

Artinya : “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah“.

Kesombongan iblis yang merasa lebih baik dari Adam As membuatnya menolak perintah Allah untuk memberikan sujud penghormatan kepadanya. Karena ia menolak perintah Allah, maka ia diusir dari surga. Allah berfirman

“Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya“. (QS. AL A’raf/7 : 18)

Iblis yang sudah menghuni surga saja dibuang dalam kesengsaraan karena kesombongannya, apalagi manusia. Lihat saja Fir’aun Laknatullah alaih, seorang raja yang sampai sekarang sisa-sisa keperkasaanya masih ada, yang merasa  dirinya sangat perkasa, sampai-sampai ia menisbatkan dirinya sebagai tuhan. Orang yang merasa dirinya begitu perkasa saja harus binasa, apalagi yang lainnya. Dan inilah janji Allah, janji Allah pasti akan terwujud.

Takabbur tidak akan menghancurkan personal saja, akan tetapi ia juga akan menghancurkan suatu komunitas yang jatuh ke dalam kesombongan. Al Qur’an telah merekam kesombongan kaum ‘Aad dalam firman-Nya :

 “Adapun kaum ’Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata : Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami ?  dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka ? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami“. (QS. Fushshilat/41 : 15)

Kaum ‘Aad adalah suatu komunitas dengan peradaban tinggi. Bentuk peradaban mereka adalah bahwa mereka dapat menjadikan pegunungan menjadi perumahan dan istana. Meski mereka mampu mencapai teknologi yang tinggi di masanya, namun karena kesombongannya Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat kencang. Allah menjelaskan bagaimana kaum ‘Aad ini menerima azab sebagaimana firman-Nya:

 “Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan“. (QS. Fushshilat/41 : 16)

Baru-baru saja kita bisa melihat seorang tokoh yang sangat sombong dan terlahir dari masyarakat yang sombong dan dzalim. Dia adalah Ariel  Sharon, mantan perdana Menteri Israel. Begitu sombong, maka ia melihat oranglain hanya seperti sampah belaka, atau bahkan lebih hina. Karena pendangan yang merendahkan orang lain inilah, maka ia tidak segan-segan membantai dan membunuh 3000 (tigaribu) orang Palestina di Shabra dan Shatila dengan sangat biadab. Ia tidak hanya membunuh tentara Palestina yang melakukan perlawanan, akan tetapi ia juga membantai dan membunuh anak-anak yang tidak berdosa. Kenapa anak manusia bisa berlaku begitu biadab dan lebih biadab daripada           binatang ? Tiada lain adalah karena kesombongannya.

Orang sombong pasti akan mendapatkan siksa dari Allah, apapun bentuk siksa itu baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia minimal dibenci oleh banyak orang dan di akhirat mendapatkan siksa yang amat pedih dari Allah swt. Ketika seseorang meninggal, biasanya orang lain akan merasa simpati dan empati. Namun hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang sombong. Karena itu, ketika Ariel Sharon meninggal, orang-orang Palestinapun merayakan kematiannya di jalan-jalan. Dan sebelum meninggal Ariel Sharon telah dihukum di dunia ini dengan kerusakan organ-organ tubuhnya selama 8 (delapan) tahun.

Bila Ariel Sharon adalah salah satu contoh orang sombong yang dihukum oleh Allah di dunia, maka orang-orang Yahudi adalah masyarakat yang saat ini dihukum oleh Allah karena kesombongannya. Allah telah merekam kesombongan orang Yahudi ini lewat firman-Nya dalam surat Al Isra‘/17 : 4 :

Artinya : Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu : “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

Karena kesombongan mereka inilah maka di manapun mereka berada pasti mendapatkan penolakan dari masyarakat di sekitarnya. Sejarah telah mencatat perjalanan panjang pengusiran orang-orang Yahudi. Pada tahun 132 Masehi, orang-orang Yahudi diusir bangsa Romawi. Pada tahun 628 Kaisar Heraclius memerintahkan pembantaian dan pengusiran orang-orang Yahudi. Di Eropa pada tahun 1492 mereka diusir oleh masyarakat Spanyol. Pada tahun 1881 mereka diusir oleh masyarakat Eropa Timur dan pada tahun 1933-1944 masyarakat Jerman yang dipimpin oleh Nazi membantai mereka di Holocaust.

Mungkin kita bertanya, mengapa Allah begitu murka kepada mereka yang sombong. Bukankah kesombongan itu hanya suatu perasaan belaka, dimana seseorang atau komunitas merasa bahwa ia lebih baik daripada yang lain. Kalau dilihat dari bentuknya, sombong merupakan sesuatu yang sederhana, namun ketahuilah bahwa sesuatu yang sederhana ini berakibat pada sesuatu yang luar biasa, utamanya adalah penolakan terhadap kebenaran. Kalau orang sudah menolak kebenaran, bagaimana ia bisa menunaikan kebenaran itu. Allah swt berfirman

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya“.

(QS. Al A’raf/7 : 146)

Sudah terlalu banyak ayat-ayat Allah baik ayat Qur’aniyyah maupun ayat kauniyyah yang menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan hanya akan membawa kerusakan dan murka Allah swt. Kerusakan dan murka ini tidak hanya menimpa orang maupun orang maupun umat terdahulu saja, akan tetapi juga menimpa mereka orang-orang yang sombong di dunia, begitu juga sebaliknya. Dan ketahuilah bahwa murka dan siksa Allah di akhirat lebih besar daripada siksa Allah di dunia.

Oleh sebab itu, apabila kita ingin menghindarkan diri dari murka Allah swt, maka kita harus menghindar kan diri dari kesombongan. Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita agar kita bisa menghindari sifat yang dimurkai Allah ini. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

==============================

*) KH. Drs. Khaeruddin, MA.; Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved