ZUHUD YANG ISLAMI Oleh : Drs. H. Muchtar Hadi, M.Ag. *)

Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tgl. 31Januari 2014 M/29Rabiul Awal 1435 H

Zuhud dipastikan akan membicarakan masalah takwa, karena pembicaraan Zuhud itu sendiri bermuara kepada takwa. Artinya orang berzuhud atau melakukan zuhud itu pada dasarnya adalah dalam rangka meningkatkan takwa kepada Allah swt. Zuhud yang secara bahasa (setidak-tidaknya menurut Al Munjid fi al-Lughoti wal A’laami terbitan Dar al-Masyriq Beirut tahun 1986 : 308) adalah orang yang mengesampingkan (istilah khusus = meninggalkan) keduniaan untuk kepentingan ibadah.

Jika ibadah didefinisikan secara lughowi/istilah, yang artinya :

“Ibadah adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt dengan jalan memelihara perintah-perintah Allah sekaligus meninggalkan larangan-laranganNya; ibadah itu ada 2 (dua) macam, yaitu : umum dan khusus. Ibadah umum adalah setiap amal perbuatan manusia yang diizinkan oleh Allah swt, sedangkan ibadah khusus adalah yang telah ditetapkan oleh syara‘ mengenai bagian-bagiannya, dan tatacaranya, serta urutan-urutannya secara khusus“.

Maka setiap perbuatan keduniaan atau keakhiratan mesti dipilah, bahwa yang keduniaan dinomor “kesekiankan“ setelah kepentingan-kepentingan ibadah, dan ketika dihadapkan dengan posisi takhyir (harus memilih) maka setiap yang bertentangan dengan Islam atau setidak-tidaknya yang tidak diutamakan oleh agama, haruslah dikesampingkan. Hal ini ssuai firman Allah swt dalam Surat Fathir/35 : 5 yang Artinya : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu nyata-nyata benarnya. Maka janganlah kepentingan dunia itu sampai mengalahkan kamu, dan janganlah (syetan) itu sampai memperdayakan kalian tentang Allah“.

Jadi, tegasnya adalah jangan sampai kepentingan keduniaan itu menghambat/mengurangi nilai keakhiratan.

Dalam pengetian seperti di atas, maka sangatlah tepat kalau Imam Al Ghazali menyatakan bahwa zuhud itu merupakan suatu maqam yang paling mulia dan tertinggi dalam rangka mencapai kebahagiaan akhirat. Menurut Islam, menomor sekiankan dunia dengan niat untuk mencapai kebahagiaan akhirat, tidak berarti harus meninggalkan keduniaan secara mutlak, karena dengan niat ibadah kepada Allah tanpa memohon kenikmatan dunia, Allah telah menyediakan kenikmatan keduniaan meski tanpa diminta. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Asy Syura/ : 20 yang Artinya : “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan keduniaan, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keduniaan), tetapi dia tidak akan memperoleh bagian di akhirat“.

Namun sebaliknya orang yang meninggalkan keduniaan, apalagi kalau sampai tidak bertanggungjawab akan nasib dirinya dan juga keluarga serta tanggungannya, sangatlah dicela oleh Islam sebagaimana halnya yang telah dicontohkan oleh Sayyidina Ali Karrama Allahu Wajhah. Di mana pada saat tertentu beliau mendapati orang yang setelah dicermati, ternyata pada setiap pagi orang tersebut selalu (hanya) berdoa memohon rizki kepada Allah dengan tanpa berusaha/ikhtiar. Pada saat semacam itu Sayyidina Ali mendekati orang tersebut dan menasihatinya seraya menyatakan yang artinya :

“Janganlah seseorang di antara kalian dalam mencari rizki hanya duduk-duduk sambil berdoa Allahummarzuqna….dan kalian sudah mengerti kan…? bahwa langit itu tidak pernah dan tidak akan menurunkan hujan emas atau perak“.

Berdasarkan sebuah Hadits Rasul bahwa karakteristik orang yang melakukan zuhud adalah yang tidak banyak tingkah dan tidak banyak cakap, tidak suka mengobral janji, tidak takabur, tidak terlalu ngongso, sekaligus tidak anti keduniaan, sesuai hadits Rasul yang artinya :

“Jika kalian menjumpai orang yang dikaruniai sikap diam dan zuhud, maka akrabilah orang tersebut. Sesungguhnya orang itu akan mendatangkan hikmah“. (HR. Ibnu Majah)

Di zaman Rasulullah saw ada seorang yang sedang berdoa dengan menyatakan : “Ya Allah tujukkanlah keduniaan kepadaku, sebagaimana Engkau melihatnya. Kemudian saat itu Nabi meluruskan dengan sabdanya : Janganlah kamu berdoa seperti itu, akan tetapi katakanlah : Tunjukkanlah keduniaan kepadaku, sebagaimana Engkau menunjukkannya kepada hamba-hamba-Mu yang shalih“.

Kesimpulan dari uraian tersebut di atas adalah :

1) Jangan pernah berharap dengan tanpa disertai ikhtiar, jangan meningglkan keduniaan, yang karena itu lalu menyebabkan nasib pribadi, keluarga, bahkan segenap orang yang menjadi tanggungjawabnya menjadi terbengkalai.

2) Segenap aktifitas kezuhudan janganlah terlepas dari ketentuan agama, hendaklah selalu Islami, selalu termonitor dengan prinsip-prisip Islam.

Demikian uraian singkat ini, semoga ada hikmah dan manfaatnya bagi kita semua. Amin Allahumma Amin. *****

 

===========================

*) Drs. H. Muchtar Hadi, M.Ag.; Dosen Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (UNDARIS) Ungaran Kabupaten Semarang Jawa Tengah

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved