YAA BUNAYYA (WAHAI ANAKKU) Oleh :KHM. Syarofuddin Husein *)

Dalam kesempatan yang sangat mulia ini, mari kita semua berusaha untuk menambah peningkatan takwa kepada Allah swt, karena dengan takwa itulah kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia maupun akhirat, untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut kita tidak boleh egois hanya untuk pribadi kita, namun kita harus peduli dan memperhatikan kebahagiaan keluarga kita pula agar tidak tersengat api neraka, demikian ini telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim/66 : 6)

Dalam melaksanakanpesan Allah swt pada ayat tersebut, maka kita perlu meniru atau mensuri tauladani kekasih Allah swt yaitu Luqmanul Hakim yang telah ditetapkan oleh Allah swt dalam Al Qur’an bagaimana seorang ayah dalam mendidik dan sekaligus membimbing anaknya agar tersengat api neraka. Allah berfirman :

 “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman/31 : 13)

Dalam ayat tersebut Luqmanul Hakim sebagai orangtua mempunyai kewajiban terhadap kebahagiaan anak, baik di dunia maupun di akhirat. Maka dia memberi tausiyah kepada anaknya yaitu tsaron wakila an’am, wakila misham, dengan bahasa lemah lembut yang menunjukkan kasih sayang. Lafadz “ya bunayya” adalah merupakan kata yang ditashghir dari lafadz اين diikutkan wazan فعيل dikatakan بني lantas dipasang ياء نداء, Ya Bunayya ini adalah berupa munada yakni untuk kasih sayang. Kemudian apa yang ditausiyahkan Luqman Hakim kepada putranya pertama kali adalah masalah akidah/keyakinan (iman), yakni firman Allah yang artinya :

…..”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguh-nya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman/31 : 13)

Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang artinya :

“Paling besar-besarnya dosa besar yaitu : Menyekutukan Allah; Membunuh orang yang tanpa hak/dosa; Tidak berbakti kepada kedua orangtua; dan Perkataan yang bohong/tidak jujur”.

Pada saat seperti sekarang ini, karena akal manusia sudah dibius oleh narkoba, ganja, morfin, minum-minuman keras, oplosan, maka dosa-dosa besar tersebut merajalela di tengah-tengah kita. Kemusyrikan, pembunuhan, tidak hormat kepada kedua orangtua, perkataan bohong, lebih-lebih kalau seseorang sudah terpengaruh dengan akidah yang menyesatkan. Hanya karena beda akidah, banyak orang Islam mengkafirkan sesama orang Islam, berani membunuh teman, orangtua dengan dalih perkataan-perkataan yang bohong, maka benar juga wasiat orang-orang terdahulu :

“he ngger…besuk bakal ono mongso, ngger wong adil kepencil, ngger wong ngawur tambah makmur, akeh wong pinter ora bener malah keblinger, wong bener malah thenger-thenger, wong jahat malah mundak pangkat, jambret, copet nyawane tambah awet polisi diiwi-iwi, jarene ora wani, akeh wong kang ngadoh karo kyai, wong edan malah dinggo panutan, tontonan dianggep tuntunan, tuntunan digawe tontonan, akeh wong lali karo pengeran, he ngger…anakku yen wes ono jaman kang koyo ngono ngger kui diarani jaman edan, yen ora ngedan ora keduman, wis edan ora keduman, sak bejo-bejone wong lali isih bejo wong kang eling lan waspodo”.

Bagaimana menghadapi masa seperti itu dan kewaspadaan apa yang harus kita lakukan ? mari kita ingat pesan moral Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa untuk menghadapi masa-masa seperti itu kita harus berani melakukan revolusi mental, dari pribadi kita masing-masing agar dapat merubah ketidak adilan, ketidak jujuran mental narkoba, akidah yang sesat dan lain-lain. Agar kita dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan syariat Islam Nusantara dan dapat menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di negara kita, sehingga kita akan mendapatkan kenyamanan dan keridhoan Allah swt.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, maka mari kita ikuti tausiyah Luqmanul Hakim sebagaimana tersebut di dalam firman Allah swt yang artinya :

 “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman/31 : 17)

Untuk menghadapi situasi di masyarakat yang penuh dengan PEKAT (Penyakit Masyarakat) sebagaimana tersebut di atas, maka kita patut meniru cara-cara Luqmanul Hakim untuk membentengi keluarga, terutama terhadap anak-anak kita, karena anak (pemuda) adalah harapan masa depan bangsa; yaitu :

1) Dirikanlah shalat; kita semua harap jeli untuk memperhatikan shalat dan ibadah keluarga kita, karena fungsi shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya :

 “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Selanjutnya apabila kita ingin ikut berperan dalam mengurangi atau menghilang-kan penyakit masyarakat tersebut, kita harus berani introspeksi diri bagaimana shalat kita, apakah sudah sesuai dengan fungsinya sebagaimana firman Allah tersebut di atas.

2) Perintah kebajikan;

3) Mencegah kemungkaran; dan

4) Bersabar atas musibah (cobaan) yang diberikan Allah swt kepada kita.

Kita semua telah mengetahui, baik melalui media massa maupun elektronik bahwa moral dan mental bangsa kita sudah seperti itu, tidak mempedulikan lagi apakah yang dilakukan itu dosa atau tidak. Pembunuhan merajalela, baik karena narkoba, sabu-sabu, minuman oplosan, atau melalui antar individu, pezinahan, jual beli anak, penipuan, korupsi dan sebagainya. Apabila kita masih peduli dengan keadaan masyarakat seperti ini dan agar kita terhindar dari kerusakan mental tersebut mulai sekarang mari kita didik anak-anak kita sebagaimana yang dicontohkan oleh Luqmanul Hakim. Anak cucu kita adalah harapan masa depan bangsa dan negara, sehingga kelak mereka akan menjadi generasi yang senantiasa bertakwa kepada Allah swt, dan pada gilirannya mampu menjadikan negara kita ini baldatun, thoyyibatun, wa Rabbun Ghofur.

Demikian kutipan tausiyah Luqmanul Hakim kepada anaknya sebagaimana termaktub di dalam Al Qur’anul Karim dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

=======================

*) KHM. Syarofuddin Husein; Pangasuh Pondok Pesantren SYAROFUL MILLAH Pedurungan Lor Semarang