TELADAN IBRAHIM DALAM MENCINTAI BANGSANYA Oleh : Drs. KH. Anasom, M.Hum

Alhamdulillah, kita panjatkan kehadirat Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak Bentuk syukur kita , dengan mengikrarkan diri kita untuk menjadi orang yang bertaqwa. Yakni manusia yang terus berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dan sekaligus berusaha menjauhi larangan-larangan Allah.

Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran jutaan jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah subhaanahu wa ta’aalaa kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, tabiin, tabiit tabiin, dan kepada kita semua. Amin.

Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim secara umum adalah seluruh proses Ibadah haji dan umroh yang saat ini saudara-saudara kita dari seluruh dunia sedang khusuk melaksanakan. Namun diluar keteladanan nabi Ibrahim dalam proses haji, sebenarnya ada juga keteladanan dan hikmah pada masalah yang lain. Dalam khutbah kali ini kita akan padukan dengan semangat memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke 74, dimana pada saat ini ditandai dengan munculnya sebagian orang yang mempermasalahkan nasionalisme. Ada yang mengatakan nasionalisme tdak diajarkan dalam Islam….benarkah pernyataan tersebut?

Tentu kita harus tahu apa sih Nasionalisme itu? Menurut Ernest Renan pengertian nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara. Menurut Hans Kohn, nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri.

Menurut L. Stoddard nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Menurut Smith, definisi nasionalisme adalah suatu gerakan ideologis yang digunakan untuk meraih dan memelihara otonomi, kohesi, dan individualitas. Gerakan ini dilakukan oleh satu kelompok sosial tertentu yang diakui oleh beberapa anggotanya guna membentuk atau menentukan satu bangsa atau yang berupa potensi saja.

Dari definisi para ahli ini, adakah yang bertentangan dengan Islam? Ternyata tidak ada, Kenyataan menunjukkan Allah menciptkan manusia dari dua orang kemudian dengan teori pernikahan, memungkinkan berketurunan dan kini menghuni seluruh bumi dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. (Al-Hujurat 13). Jadi kehidupan berkebangsaan adalah sunnatullah. Masyarakat dikolong langit nusantara…..yang kemudian secara geopolitik di sebut Indonesia adalah suatu wilayah yang pada 17 Agustus 1945 disepakati sebagai Negara bangsa yang bersatu yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nah kalau Negara ini sudah kita rebut dengan darah para pejuang dan kita sepakati sebagai Negara bangsa, maka membangun kecintaan kepada bangsa ini menjadi sesuatu yang wajib bagi seluruh penghuninya. Sehingga setiap individu warganya memiliki perilaku yang mencerminkan nasionalisme. Beberapa contoh sikap dan perilaku nasionalisme adalah:

  • Mematuhi aturan yang berlaku
  • Mematuhi hukum negara
  • Melestarikan budaya Indonesia
  • Menciptakan dan mencintai produk dalam negeri
  • Bersedia melakukan aksi nyata membela, mempertahankan, dan memajukan negara
  • Dan lain-lain.

Sikap nasionalisme di suatu negara memiliki tujuan tertentu. Berikut ini adalah beberapa tujuan nasionalisme:

  • Menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa.
  • Membangun hubungan yang rukun dan harmonis antar individu dan masyarakat.
  • Membangun dan mempererat tali persaudaraan antar sesama anggota masyarakat.
  • Berupaya untuk menghilangkan ekstrimisme atau tuntutan berlebihan dari warga negara kepada pemerintah.
  • Menumbuhkan semangata rela berkorban bagi tanah air dan bangsa.
  • Menjaga tanah air dan bangsa dari serangan musuh, baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Cerminan Nabi Ibrahim dalam Nasionalisme  QS. Al-Baqarah [2]: 126:

Dan( ingatlah ), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:” Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”

Ayat ini merupakan cerminan bentuk kecintaan Nabi Ibrahim AS terhadap negerinya. Dalam tafsir Departemen Agama disebutkan, tanda cinta Ibrahim AS beliau curahkan dengan doanya dengan penuh harapan agar negeri Makkah menjadi negeri yang aman dari bencana dan pertumpahan darah sebagaimana dulu telah menimpa kaum-kaum sebelumnya. Selain itu, Nabi Ibrahim berdoa agar penduduk Makkah diberikan kesejahteraan berupa buah-buahan, baik untuk orang-orang yang beriman atau bahkan untuk orang kafir sekalipun.

Al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani juga menegaskan bahwa ayat di atas merupakan sikap cinta yang ditunjukan Nabi Ibrahim kepada negeri Makkah. Beliau sangat berharap agar negeri tersebut menjadi negeri terbaik bagi penduduk-penduduknya. Menururt al-Alusi, Nabi Ibrahim berdoa untuk negerinya dalam dua hal, dalam hal keamanan negeri dan dalam kesejahteraan ekonominya.

Ibrāhim [14]: 35:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

 Al-Buruswi dalam kitab tafsirnya; Ruh al-Bayan, mengatakan bahwa konteks ayat ini adalah ketika Nabi Ibrahim AS selesai merenovasi Ka’bah dengan anaknya yaitu Nabi Ismā’il AS. Menurut al-Buruswī, ayat ini merupakan bentuk munajat Nabi Ibrahim kepada Allah agar negerinya menjadi negeri yang aman, yaitu dijauhkan dari pertumpahan darah, penyakit lepra dan penyakit kusta.

Menurut pakar Tafsir Indonesia itu, maksud doa Nabi Ibrahim AS adalah agar keturunanya dijauhkan dari menyembah berhala, agar mereka selalu diluruskan dalam fitrah sucinya, yaitu agar ketauhidan pada diri mereka tetap terpelihara dan kokoh.

Refleksi Atas Penafsiran

Ada banyak pelajaran yang  bisa kita petik dalam kisah Ibrahim AS yang telah dijelaskan dalam dua ayat Al-Quran di atas.

Pertama, secara tersirat, sikap nasionalisme telah tertanam dalam diri Nabi Ibrahmi AS yang berusaha dengan doa agar negerinya diberikan keamanan, kesejahteraan, bahkan keimanan agar tidak menyembah berhala. Kenyataan ini memberi kesimpulan selanjutnya bahwa Al-Qur’an mengonfirmasi nasionalisme sudah sejak lama, yaitu sejak zaman Nabi Ibrahim.

 Kedua, Islam menghendaki sikap nasionalisme jika memang tindakan-tindakan dalam proses menjunjung nasionalisme tersebut demi kepentingan umat, tidak untuk memecah belah antar umat muslim. Nasionalisme dalam Al-Quran sebagaiman dipraktikan oleh Bapak Ibrahim ialah nasionalisme kemaslahatan semua manusia, tanpa memandang perbedaan agama.

 Ketiga, Nasionalisme tidak sama sekali bertentangan dengan Islam. Sumber Al-Quran membuktikannya dengan menunjukkan betapa sangat besarnya sikap nasionalisme Nabi Ibrahim. Memang secara historis umum, kemunculan nasionalisme berasal dari Barat. Akan tetapi sesungguhnya al-Quran telah lama – 400 abad yang lalu – memberikan perhatian terhadap Nasionalisme. Kalaupun ada argumentasi nasionalisme dari Barat, Islam pun tetap boleh menggunakannya selagi esensinya memang baik untuk umat secara umum.