TAHUN BARU HIJRIYAH DAN HARI ‘ASYURO Oleh : Drs. H. Noor Salimi, M.Ag. *)

Saat ini kita berada dalam saat dan suasana pergantian tahun baru Hijriyah. Dalam menyambut pergantian tahun sudah selayaknya kita berusaha meningkatkan pemahaman dan penghayatan terhadap makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Bulan Muharram adalah bulan mulia bagi kaum muslimin, sebab Allah sendin telah memuliakannya dengan sebutan “Asyhurul Hurum, sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an yang artinya :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya adalah 4 (empat) bulan yang mulia”. (QS. At Taubah/9 : 36)

Dan di antara bukti lain yang menerangkan bahwa bulan Muharram merupakan bulan yang mulia adalah dianjurkannya berpuasa di bulan itu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya :

Bila kamu ingin berpuasa setelah bulan Ramadhan rnaka berpuasalah pada bulan Muharram. Sesungguhnya di bulan itu ada suatu hari yang Allah memberikan ampunan kepada suatu kaum dan kaum yang lain”. (HR. Nasa’i dari Ali RA)

Di kalangan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram banyak dikenal dengan sebutan bulan Syuro,  yang berasal dari kata “Asyura”‘ artinya hari ke sepuluh. Hal ini berkaitan dengan sejarah pemberlakuan penanggalan Hijriyah di wilayah kerajaan Mataram oleh Sultan Agung Hanyokro Kusumo tahun 1633 M. Kebijakan ini telah berhasil memadukan kebudayaan Jawa dengan ajaran Islam. Di mana sejak saat itu setiap tanggal 1 Muharram selalu diperingati sebagai tahun baru, baik dengan istilah peringatan                          1 Muharram maupun 1 Syuro. Allah SWT memuliakan bulan Muharram, menurut banyak riwayat adalah adanya perisfiwa-peristiwa besar yang terjadi pada hari Asyuro di bulan tersebut, antara lain :

1) Allah menerima taubat Nabi Adam AS;

2) Allah memberikan derajat kemuliaan kepada Nabi Idris AS;

3) Allah menyelamatkan Nabi Nuh AS dan para pengikutnya dari banjir akibat badai dan banjir selama 7 (tujuh) bulan;

4) Menyelamatkan Nabi Ibrahim AS ketika dibakar dengan api oleh Raja Namrud;

5) Menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa AS;

6) Membebaskan Nabi Yusuf AS dari penjara.

7) Menyembuhkan Nabi Ya’qub AS dari penyakit mata yang diderita hingga membuatnya buta;

8) Menghilangkan bala yang diderita oleh Nabi Ayub AS;

9) Mengeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan;

10) Mengampuni dosa-dosa Nabi Dawud AS;

11) Menganugerahkan kekuasaan dan mengangkat Nabi Sulaiman AS sebagai Raja.

Selain itu dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dan Ibnu ‘ Abbas dikatakan yang artinya :

“Sesungguhnya Rasulullah SAW datang ke kota Madinah dan mendapatkan kaum Yahudi sedang berpuasa di hari Asyura. Maka Rasulullah SAW bertanya : Hari apakah yang kalian puasakan ini ?. Ini adalah hari yang Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menghancurkan Fir’aun dan kaumnya. Karena itu Musa berpuasa sebagai tanda syukur kepada Allah, maka kami pun ikut berpuasa. Rasulullah SAW bersabda : “Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian. Maka Nabi berpuasa dan memerintahkan umatnya agar melakukannya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Kemudian amaliah puasa sunnah ‘Asyura itu oleh Nabi dianjurkan untuk dilaksanakan 2 (dua) atau 3 (tiga) hari. Sebagaimana sabda beliau yang artinya :

“Berpuasalah kalian di hari Asyura dan bedakanlah dengan (puasanya) orang Yahudi. Dan juga berpuasalah kalian sehari sebelum Asyura dan sehari sesudahnya”.

Adapun puasa ‘Asyura itu sendiri banyak mengandung hikmah, di antaranya seperti yang disebutkan dalam hadist yang artinya :

“Rasulullah SAW pernah ditanya para sahabat tentang puasa Asyura (tanggal 10 Muharram). Beliau menjawab : la dapat menghapus dosa selama 1 (satu) tahun yang lampau”. (HR. Muslim dari Abi Qatadah)

Peringaran 1 Muharram yang banyak diselenggarakan oleh umat Islam itu menjadi moment untuk merenungkan kembali sejarah perjuangan Nabi-Nabi, khususnya perjuangan Nabi Muhammad SAW yaitu hijrahnya Rasul bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Mengingat amat penting dan menentukannya peristiwa hijrah itu bagi perkembangan Islam, Nabi sendiri telah memakai hijrah sebagai penanggalan umat Islam. Yaitu pada saat memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menarikhkan perjanjian dengan orang-orang Nasrani di Najran dengan memakai tahun ke-5 (lima) dari hijrah. Akhirnya khalifah Umar bin Khattab menetapkan berlakunya kalender (penanggalan) secara resmi dalam sistem pemerintahan dengan dimulai dari Hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah dan disebut kalender Hijriyah.

Dari ungkapan sejarah awal kebangkitan Islam itu, maka dalam memperingati tahun baru hijriyah, umat Islam perlu merenungkan kembali pengalaman sejarah yang penuh dengan dinamika perjuangan dalam mengembangkan agama Allah. Kemudian kita harus mawas diri sejauh mana kita dapat meneruskan nilai perjuangan mereka pada zaman modern ini. Dan marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri : Bertambah banyakkah amal salih dan kebaikan yang kita lakukan satu tahun yang lalu ? atau justru sebaliknya ?. Marilah kita koreksi dengan jujur : Adakah kemaksiatan dan kemungkaran yang kita perbuat selama ini bisa berkurang atau justru meningkat ?. Sekaranglah saat yang tepat untuk mengadakan perhitungan, agar amal kita di hari-hari yang akan datang tidak terganjal oleh kesalahan di masa yang lalu dan tidak terulang lagi dan kita tingkatkan amal salih.

Sebagai penutup khutbah, marilah kita menyadari bahwa berapa lamapun manusia hidup di dunia, pada saatnya akan dipanggil kembali ke sisi Allah SWT. Sebelum panggilan itu tiba, marilah kita gunakan tahun baru Hijriyah ini sebagai titik tolak untuk lebih banyak berbuat kebajikan dan kebaikan.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****