SIKAP HIDUP MUSLIM Oleh : Prof. Dr. H. Muhtarom HM *)

Melalui mimbar khutbah ini, saya mengajak para hadirin, terutama pada diri saya sendiri, marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan cara menambah kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-laranganNya. Mudah-mudahan kita akan memperoleh petunjuk dari Allah swt. Kemudian marilah kita senantiasa menjadi orang muslim yang pandai bersyukur atas segala karunia dan kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, marilah kita merenung sejenak dengan mengkaji kembali firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Qashash/28 : 77 yang berbunyi :

Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Pada firman Allah ini, Allah menegaskan bahwa sikap hidup seorang muslim dalam menghadapi kehidupan duniawi itu ada 3 (tiga) hal, yaitu :

1) Keseimbangan;

Melakukan keseimbangan antara amal perbuatan untuk kebahagiaan duniawi dengan amal perbuatan untuk kebahagiaan ukhrawi. Artinya kekayaan, pekerjaan dan sebagainya yang merupakan nikmat yang diperolehnya, haruslah dipergunakannya untuk kehidupan ukhrawi. Tidak boleh larut dalam mengusaha-kan kehidupan dunawi, tetapi tidak pula tenggelam untuk memikirkan kehidupan ukhrawi.

Dunia yang kita huni dan era yang kita hadapi dewasa ini adalah era global, kehidupan rohaniah atau keagamaan dihadapkan pada ketegangan-ketegangan dialektis, antara implikasi global dengan tetap mempertahankan kesucian agama. Sekalipun demikian, agama akan tetap eksis dan dinamis.

Implikasi-implikasi global terhadap kehidupan beragama, antara lain :

  1. Mencuatnya pola hidup materialistis yang memacu orang mengejar kekayaan materi dan melemahkan nilai-nilai spiritual dan agama.
  2. Sekularisasi telah memberikan perubahan kehidupan beragama pada masyarakat.
  3. Munculnya gerakan spiritual sebagai respons terhadap lemahnya struktur sosial.
  4. Tradisi agama yang diajarkan ditafsirkan dan ditegakkan dengan beragam cara.
  5. Munculnya fundamentalis yang berkeinginan kembali ke teks dasar yang harus diartikulasikan secara harfiah, dan menghendaki agar nilai yang diperoleh dari teks dasar itu diterapkan pada kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yang bisa berujung pada kekerasan dan terror, yang tentunya kontra produktif dengan nilai-nilai universal Islam.

2) Berbuat Ihsan;

Ihsan menurut arti sesungguhnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya : “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, apabila engkau tidak melihatn-Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau”. (HR. Bukhari).

Ihsan sesungguhnya mempunyai makna lebih luas, dari perkara berbuat baik, menurut pengertian biasa dan mencakup berbagai macam kelebihan, keindahan, kebaikan dan sebagainya dan berlaku dalam berbagai bidang hubungan dan kehidupan, seperti : ihsan pada Allah, ihsan kepada sesama manusia, dan ihsan pada makhluk lain. Maka dalam posisi bagaimanapun seseorang yang bersikap ihsan akan tetap mempunyai nilai tambah.

3) Tidak melakukan kerusakan;

Dalam hal ini dimaksudkan sebagai seorang muslim tidak boleh (dilarang oleh Allah) melakukan perbuatan yang menimbulkan kerusakan sampai kebinasaan di bumi Allah swt.

Artinya : “…..janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. (QS. Al Qashash/28 : 77)

Orang yang suka melakukan kerusakan di bumi dan menerjang larangan Allah, bisa disebabkan karena terbelahnya kepribadian (splite personality), mengikuti hawa nafsu (hawa muttaba’un), kagum terhadap dirinya (a’jabu binafsihi), dan cara memahami teks dasar agama hanya secara harfiah.

Inilah 3 (tiga) perisai kehidupan, yakni :

1) Membuat keseimbangan;

2) Berbuat Ihsan;

3) Tidak melakukan kerusakan;

yang harus dijadikan sikap hidup muslim.

Demikian semoga ada hikmah dan manfaatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

 ======================

*) Prof. Dr. H. Muhtarom HM; Rektor Universitas Islam Nahdhatul Ulama (UNISNU) Jepara & Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semaran