REFLEKSI SIFAT-SIFAT NABI MUHAMMAD DAN SAHABAT-SAHABATNYA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA Oleh :Prof. Dr. Suparman Syukur, MA.

  1. Pendahuluan

Seseorang perlu menyadari betapa kehidupan di dunia merupakan keharusan yang dilalui manakala dia akan menapaki jalan menuju akhir kehidupan yang berarti ia akan kembali kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Sepanjang kehidupan manusia akan diwarnai berbagai kejadian, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Kedua sisi kehidupan itu pasti akan dialami oleh semua orang silih berganti. Masing-masing orang akan berbeda cara menanggapai dua kejadian yang kontradiktif itu yang mengakibatkan munculnya rasa kebahagiaan di satu sisi maupun kesengsaraan di sisi yang lain. Antara kebahagiaan dan kesengsaraan itu bisa saja berubah maknanya menjadi suatu yang berbalik dengan kenyataan. Artinya, bisa saja seseorang memandang apa yang ia terima dari hasil usahanya tidak ia sengangi hanya karena ia tidak memahami hakikat yang ia terima saat itu. Padahal, jika ia mampu memahami hakikat yang ia terima bisa jadi kemudian ia menyenanginya. Akan tetapi seseorang melihat sesuatu yang menunurut orang lain merupakan hal yang tidak menyenangkan, tetapi bisa jadi justru menyenangkan bagi dirinya. Hal itu,  karena ia mampu melihat betapa Allah masih tetap memberinya peringatan atas dasar kasih sayangNya dengan sesutu yang tidak disenangi oleh orang lain.

Terkait dengan hal yang telah disebutkan itu, manusia sering berada dalam posisi yang menyulitkan untuk memandang dan memahami siapa dirinya. Jika ia mampu melihat dan menyadari hakikat dirinya dan memahami posisinya sebagai makhluk, maka ia dengan rela melakukan apa saja yang telah ditentukan Alah bagi dirinya. Manusia akan mendapatkan derajat terpuji, manakala ia benar-benar  mampu meneladani siapa yang menjadi contoh dalam kehidupannya. Bagi seorang Muslim, tentunya ia harus mampu meneladani sifat-sifat dan perilaku Nabi dan panutannya Muhammad Rasulullah SAW., karena percaya kepada Nabi adalah keharusan bagi seorang muslim yang ingin berhasil sesuai keyakinannya dalam beragama Islam. Oleh karena itu seorang Muslim sudah selayaknya jika ia memahami dan mengerti karakteristik serta perilaku dan sunnah Rasulullah SAW. sebagai nabinya yang harus menjadi teladan dalam kehidupan baik dhahiriyah maupun batiniyah. Kewajiban itu akan menjadi ringan dilakukan, manakala seseorang mempunyai kesadaran menjalankan hidup sesuai dengan kenyataan yang dialaminya. Allah berfirman, al-Qalam: 4:  wa innaka la’ala khuluqin ‘adhim  (Sesungguhnya pada dirimu terdapat contoh akhlak yang mulia).

Karakteristik dan Perilaku Muhammad Rasulullah SAW

Allah SWT dalam surat al-Fath: 29, dengan jelas menggambarkan sosok dan peilaku nabiNya yang diutus sebagai Nabi yang terakhir sebagai manusia yang poenuh sifat ketundukan, kejujuran dan keteladanan yang sangat populis, seperti yang disebutkan berikut ini:

“Muhammad ituadalahutusan Allah dan orang-orang yang bersamadiaadalahkerasterhadap orang-orang kafir, tetapiberkasihsayangsesamamereka; kamulihatmerekaruku’ dansujudmencarikarunia Allah dankeridaan-Nya, tanda-tandamerekatampakpadamukamerekadaribekassujud.Demikianlahsifat-sifatmerekadalamTauratdansifat-sifatmerekadalamInjil, yaitusepertitanaman yang mengeluarkantunasnya, maka tunas itumenjadikantanamanitukuatlalumenjadibesarlahdiadantegaklurus di ataspokoknya; tanamanitumenyenangkanhatipenanam-penanamnyakarena Allah hendakmenjengkelkanhati orang-orang kafir (dengankekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikankepa orang-orang yang berimandanmengerjakanamalsaleh di antaramerekaampunandanpahala yang besar”.

Mencermati ayat al-Qur`an, surat al-Fath ayat 29 itu tentang sosok Nabi dan perilakunya, maka dapat digambarkan (paling tidak) ada dua hal yang terpenting saling berhadapan secara diametris, yakni tersimpul dalam kata ruhama` dan asyidda`. Sifat dan perilaku Nabi yang pertama adalah ruhama` adalah kata dalam bentyuk jamak (plural) berasal dari kata rahima yang berarti “kasih sayang”. Dimana kasih sayangnya itu tidak saja terfokus pada orang-orang tertentu, namun menyebar dan dapat dirasakan oleh semua manusia yang ada disekitarya.

Sesungguhnyatelahadapada (diri) Rasulullahitusuritauladan yang baikbagimu (yaitu) bagi orang-orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) harikiamatdandiabanyakmenyebut Allah”. (QS. al-Ahzab : 21)

Perlu disadari bahwa hidup adalah: perjuangan, hidup adalah pengorbanan, hidup adalah kewajiban, hidup adalah ujian, hidup adalah tantangan, hidup adalah keindahan, hidup adalah penderitaan, hidup adalah kesulitan, hidup adalah kenikmatan, hidup adalah kebahagiaan, hidup adalah keprihatinan, hidup adalah kebiasaan, dan hidup adalah terserah anda. Artinya siapapun yang menjalankan kehidupan, jika mampu menggabungkan antara dua kekuatan dhahir dan bathin, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan tanpa harus mengukur khiduoannya itu dengan napsu yang dimilikinya.

Sebuah kisah kiranya bisa dijadikan sebagai i’tibar, dimana suatu saat Rasulullah SAW, mendapat pesan dari  Allahswt, lalu ia bergegas mengeluarkan sabdanya sebagai berikut:

 

عن أبى مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

يقول الله تعالى: يا ابن آدم يؤتى كل يوم برزقك وأنت تحزن، وينقص كل يوم من عمرك وأنت تفرح. أنت فيما يكفيك وتطلب ما يطغيك. لا بقليل تقنع ولا بكثير تشبع. إنك اذا أصبحت آمنا فى سربك معافى فى بدنك وعندك قوت يومك فكأنما حيزت لك الدنيا بحذافيرها

“MenurutriwayatIbnuMas’ud, Rasulullahbersabdasebagaiberikut: Allah berfirman: Wahaimanusiaketurunananakadam, setiapharididatangkankepadamurizki, tetapikamutetapsajabersusahhati, Setiaphariumurmusemakinberukrang, tetaspikamujustruberbahagia. Kamuberadadalamkecukupan, tetapikamuselalumencaribarang yang menyusahkankamu.Barangsedikittidakpernahmencukupkankamu, sedangkandenganrizki yang banyakkamutidakpernahmerasakeyang.Sesungguhnya Allah setiapharitelahmemberikecukupandariseluruhkebutuhanmu. Allah setiapharitelahmemberikankesehatandankecukupansandangdan pangan, seolah seluruhisiduniasemuanyaterkumpuluntukmemenuhikebutuhanmu”.

Ada 4 (empat) sifatpenggoda perasaan dan kejiwawaan seorang muslim, dimana jika seorang muslim tidak mampu menahan nafsunya, maka kelak ia akan mengalami kerugian, empat hal itu adalah:

  1. Sifattidakikhlasdengankeputusan Allah;
  2. SifattidakpernahpuasdenganpemberianAllah;
  3. Sifattidakpernahbersyukurkepadanikmat Allah;
  4. dan sifattidakpernahbersabaratasujian Allah.

maka sebagai akibatnya bagi orang yang tidak mempu mengantisipasi hal-hal tersebut, Allah mengusirnya dari kehidupan dunia untuk mencari tuhan selain Allah. Artinya keberadaan orang itu telah terabaikan dari perlindungan dan kasih sayang Allah.

Menanggapi empat bahaya penggoda terhadap seorang muslim, maka ada baiknya jika mencermati pesan Allah dalam surat al-An’am: 14-15  sebagai berikut:

”Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik”.

Lalu dalam surat al-Baqarah: 21, Allah dengan kekuasaanNya memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepadaNya, demi mencapai suatu keberhasilan dalam hidupnya sesuai dengan sunnah dan teladan para nabiNya.

Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah mencioptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.

Tauhid Merupakan Refleksi Kehidupan Rasulullah

Perintah Allah sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah 21 itu, jika diperhatikan secara seksama, menggambarkan betapa manusia memiliki keharusan untuk menyatakan, bahwa untuk menghambakan diri hanya melalui ketauhidan kepadaNya. Artinya, manusia diperintahkan agar memiliki satu tujuan akhir yakni ketakwaan. Ketakwaan itu jelas merupakan kebutuhan manusia terhadap Tuhan, untuk mencapai tingkatan kemuliaan yang tertinggi di sisiNya (inna akramakum ‘indallahi atqakum).

Perkataan tawhid sudah tidak asing lagi bagi setiap pemeluk agama Islam. Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif yang merupakan derivasi dari kata-kata “wahid” yang artinya  “satu” atau “esa”. Berasal dari makna dasar itu, maka kalimat tawhid memiliki maksud menyatukan atau mengesakan segala tujuan hidup hanyalah berakhir kepada Allah. Artinya, dinamika dalam kehidupan itu beraneka ragam yang bisa diistilahkan menjadi seribu satu macam, orang Jawa menyebutnya tetek bengek corak dan dinamika kehidupan itu. Hal itu menunjukkan bahwa untuk memahami kalimat tersebut diperlukan mengambil makna generiknya yaitu “mempersatukan” hal-hal yang “terserak-serak” atau terpecah-pecah, terpotong-potong, berbeda-beda, dan bahkan bermacam-macam, sehingga menjadi satu kesatuan utuh yang berujung dalam keyakinan La ilaha illallah.

Kalimat tauhid, dalam istilah ilmu kalam diciptakan oleh para mutakallimun (ahli teologi dialektis Islam). Kata-kata itu dimaksudkan sebagai paham “memahaesakan Tuhan” , ia disebut juga sebagai paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bentuk harfiah kata-kata tawhid sendiri tidak terdapat dalam kitab suci al-Qur`an, yang ada dalam al-Qur`an adalah kata-kata “ahad” atau “wahid”. Meski demikian istilah ciptaan kaum mutakallimun itu memang secara tepat mengungkapkan isi pokok ajaran kitab suci al-Qur`an itu. Pemahaman terhadap kalimat tauhid sebenarnya mengungkapkan inti ajaran semua Nabi dan Rasul yang diutus ke setiap kaum dan sampai kepada tampilnya Nabi Muhammad SAW yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ(103)وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ(104)وَكَأَيِّنْ مِنْ ءَايَةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ(105)وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ(106)

 

”Sebagian besar manusia itu, betapapun kau (Muhammad) inginkan, tidaklah beriman. Padahal engkau tidak meminta dari mereka upah sedikitpun. Ini tidak lain adalah peringatan untuk seluruh alam. Dan betapa banyaknya ayat di seluruh langit dan bumi yang lewat pada mereka, namun mereka berpaling. Dan tidaklah mereka beriman kepada Allah melainkan mereka juga adalah orang-orang musyrik”.

Teguran yang berupa sindiran itu merupakan problem kemanusiaan yang berupa pemahaman politheisme, bukan ateisme. Oleh karena itu program pokok al-Qur`an adalah membebaskan manusia dari belenggu pemahaman dan kepercayaan kepada banyak tuhan dengan mencanangkan dasar pemahaman dan kepercayaan yang terungkap dalam kalimat, “al-nahyu wa al-ithbat” (negasi-konfirmasi) yaitu kalimat “la ilaha illallah” (لاإله إلا الله ) yang diterjemahkan sebagai “Tidak ada tuhan selain Allah”. (Nurkholish Madjid, 1995: 79).

Proses pembebasan diawali dari proses negasi, yaitu pembebasan martabat manusia dari kepercayaan kepada hal-hal yang palsu. Demi kesempurnaan kebebasan itu, manusia harus mempunyai kepercayaan kepada sesuatu yang hak dan benar. Hal itu amat penting, karena hidup tanpa kepercayaan sama sekali adalah hal yang mustahil. Sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman komunisme. Seseorang dapat memulai dari tidak percaya sama sekali, namun kekosongan keimanan itu memberi tempat bagi timbulnya kepercayaan baru, yakni melalui keercayaan yang bersifat konfirmatif. Kebebasan yang tak terbatas dan tidak bertanggungjawab pada hakekatnya bertentangan dengan hakekat martabat kemanusiaan. Kebebasan pada hakekatnya terwujud, jika disertai dengan ketundukan tententu, yaitu ketundukan kepada yang secara intrinsik benar, yaitu benar pada diri sendiri, dan tidak terpaksa akibat faktor luar yang tidak sejati.

ParaNabisebagaimanakitaketahuimengembanmisiutamauntukmembimbingumatnyakejalan yang benar. MemupuksifattTerpujiadalahtugasutama paraNabi yang harusselaludiulangdandiperbaharui, sehinggaumatnyakelakmampumemahamidanmenyadariuntukmelakukannyasesuaisifattersebut.

Revitalisasisifatdanperilakuterpujibagisetiapmuslimdapatdimulaidaribagaimanaseorangmuslimdapatmengintegralkankeimanankepada Allah kedalamperbuatandantingkahlakunya di duniaini. Hal itudapatdimengertiolehsiapapun, karenasecaraumummisirisalahRasulullahtidaklainadalahuntukmenyempurnakanperilakumanusiadalampenghambaandirinyakepada Allah SWT. Rasulullahbersabda:Innamabu’isthtuliutammimamakarim al-akhlaq(sesungguhnyaakudiutuskebumiinihanyauntukmenyempurnakanakhlak). Kesempurnaanakhlakberartibagaimanamanusiamampumeningkatkansegalaperilakunyaberdasarkansifat-sifatterpujidalamrangkapenghambaandirikepadaAllah.Olehkarenaitusegalaperilakumanusiaharusberdirikokohdiatastigapilaryaituiman, islam, danihsan. Tiga tonggak kekuatan itu diartikulasikan dalam kehiduan nyata dalam kesatuan bentuk empat menjadi satu (four in one), yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fatonah.

Sidiq, berarti jujur dan ikhlas untuk mengatakan kebenaran, artinya seseorang tidak mungkin tunduk kepada godaan, terutama godaan finasial, pangkat dan jabatan. Jika godaan itu yang mendominasi sikap seseorang, maka dapat dipastikan orang itu kelak menjadi lupa terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Ia tidak akan mampu menegakkan aturan dan norma yang telah disepakati, sehingga seorang akan kehilangan kekuatannya meskipun sebenarnya ia memiliki kekuatan itu. Akibat yang muncul di tengah masyarakat adalah kehampaan, kepura-puraan dan ketidak pastian. Kehidupan menjadi mengambang tanpa arti dan tanpa makna, karena sitiap orang tidak mampu mengemban amanat secara baik dan benar.

Amanah, merupakan kata yang berasal dari amina yang berarti “percaya”. Nabi Muhammad memiliki sifat amanah itu, karena beliau benar-benar mampu menjaga kebenaran (sidiq) itu dalam kerangkan berfikir dan bertindak sesuai dengan porsi dan posisinya. Seluruh dinamika yang dicontohkan Rasuluah kepada para sahabat, tentunya tidak akan mendapatkan banyak manfaat kecuali jika disebarluaskan dan disossialisasikan melalui para ulama sebagai warathatulanbiya`. Itulah sebabnya Rasulullah mempunyai sifat kemuliaannya melalui kesungguhan- nya dalam berda’wah dan bertabligh.

Sifat wajib Rasulullah yang ketiga ini, merupakan alat yang sangat potensial untuk menyebarluaskan apa-apa yang dipesankan Allah dalam al-Qur`an. Pemahaman terhadap al-Qur`an tidak mungkin dapat secara langsung dicapai oleh umat Islam, karena al-Qur`an adalah Kalamullah, sedangkan manusia adalah makhlk ciptaanNya yang tidak bisa menembus kekuasaan dan kedalaman kalamNya.Itulah sebabnya, Muhammad ketika akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul diperintahkan untuk membaca kalam tersebut, ia menjawabnya wama ana bi qari` (saya tidak mampu membacanya). Hal itu menunjukkan betapa Muhammad menunjukkan sisi kelemahan sebagai manusia biasa. Akan tetapi setelah kejujuran Muhammad di sampaikan kepada Allah, maka kemudian Allah dengan kemahakuasaanNya memberinya kemamuan untuk menirukan ucapan Jibril tentang kalamNya tersebut. Disitulah letak kejujuran yang dimiliki Muhammad dapat mengangkatnya sebagai Nabi yang mampu menangkap pesan rahasia Ilahi. Pesan dan rahasia Allah tidak mungkin dimiliki seseorang kecuali orang yang mendapat kelebihan fathanah.

Sifat wajib bagi Nabi yang dikenal sebagai fathanah merupakan kelebihan yang dimiliki Nabi Muhammad al-Amin. Disitulah ada peran kecerdasan Muhammad sebagai Nabi yang telah dipersiapkan Allah jauh sebelum beliau diwisuda sebagai Nabi dan rasul, dimana kecerdasan itu tidak pernah dimiliki dan tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa lainnya.

Kehampaan Hidup Karena Jauh dari Keteladanan Rasul

Perlu disampaikan betapa banyak orang menganggap dirinya sukses, padahal sebenarnya dia gagal dalam hidupnya.  Sering kita melihat sebuah kenyataan kehidupan ada yang bermanfaat dan ada pula yang tidak; ada amalan yang tepat dan ada pula yang tidak tepat; ada yang benar dan ada pula yang salah; ada yang menyenangkan dan ada pula yang menyedihkan, begitu seterusnya.

Rasulullah sering mengeluhkan dan menghawatirkan tentang sesuatu yang maujud tetapi hakikatnya tidak ada, orangnya ada (blegere) tapi justru merepotkan bagi yang lain. Hal seperti itu menjadi perhatian dan kepedihan kita bersama. Itulah sebabnya Rasulullah sangat menekankan agar manusia dapat menempatkan sesuatu berada di tempat yang tepat. Seseorang membanggakan dirinya, karena menganggap dirinya sukses, tetapi kenyataannya gagal. Kegagalan itu tidak lain karena ia tidak mampu melakukan sesuatu yang harus ia lakukan sesuai dengan standar keikhlasan yang seharusnya. Padahal keikhlasan itu merupakan ruh yang dapat dipakai untuk menjiwai amalan yang ia lakukan, sehingga hanyalah Allah yang memiliki peran hakiki dalam segala keberhasilan manusia. Jangtanlah menganggap sukses telah dicapai bagi seseorang dalam menjalankan tugas sesuatu, kecuali karena Allahlah yang menjadikan seseorang berhasil dalam kehidupannya (al-Anfal: 17).

Mencermati berbagai kehampaan sebagaimana diuraikan di atas, minimal ada 6 (enam) hal kehampaan yang menjadi tekanan Rasulullah SAW. Untuk dihindari, yakni sebagai berikut.

ستة اشياء هنّ غريبة فى ستة مواضع:

  • المسجد غريب فيما بين قوم لا يصلون فيه
  • المصحف غريب فى منزل قوم لا يقرءون فيه
  • القرآن غريب فى جوف الفاسق
  • المرأة المسلمة الصالحة غريبة فى يد رجل ظالم سيء الخلق
  • الرجل المسلم الصالح غريب فى يد امرأة رديّة سيئة الخلق
  • العالم غريب بين قوم لا يستمعون عليه

Ada enam hal yang sia-sia terdapat dalam lingkungan kehidupan:

  1. Sebuah masjid dibangun sia-sia, karena ia berada ditempat yang penghuninya tidak melakukan sh
  2. Mushaf al-Qur`an sia-sia, karena tidak pernah dibaca pemiliknya.
  3. Bacaan al-Qur`an sia-sia, karena dibaca oleh orang yang fasik.
  4. Wanita muslimah sia-sia, karena suaminya dhalim yang buruk perangainya.
  5. Seorang laki-laki sia-sia, karena istrinya seorang hina dan buruk perangainya.
  6. Seorang alim sia-sia, karena tinggal ditengah-tengah masyrakat yang tidak mau mendengarnya.

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, alhamdulillahirabbil’alamin, bahwa segala sesuatu yang kita amalkan pagi, siang, sore, dan malam tidak lain untuk selalu mencari ridha Allah dan semuanya itu kita amalkan untuk selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Rabbil ‘izzati al-Karim.Perlu disadari dan dimengerti bahwa manusia tercipta di muka bumi ini memiliki tugas kekhalifahan, yang berarti manusia mengemban amanat kehidupan yang cukup berat. Hal itu jika tidak dilakukan dengan penuh keikhlasan dalam mengemban amanat itu, maka justru akan menjadi bumerang yang berakhir pada kesengsaraan dalam kahidupan manusiadi bumi ini.

Manusia harus memahami, bahwa kehidupan di muka bumi ini tidak lain adalah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan tanpa pengorbanan ibarat kereta api berjalan tanpa bahan bakar, sehingga tidak pernah sampai tujuan. Sedangkan pengorbanan tanpa perjuangan ibarat menanam bibit unggul di atas lahan yang tidak subur, sehingga tidak akan menghasilkan panenan yang menggembirakan. Oleh karena itu, sesama makhluk hidup harus selalu saling mendukung dan bisa saling mengambil keuntungan untuk melanjutkan misi masing-masing kehidupannya. Manusia dalam hal ini berusaha membaca rahasia alam melalui ayat-ayat kauniyah, sebagaimana allah berfirman:

“Makaapakahmerekatidakmemperhatikanuntabagaimanadiadiciptakan. Dan langitbagaimanaiaditinggikan ?.Dan gunung-gunungbagaimanaiaditegakkan ?. Dan bumibagaimanaiadihamparkan?”. (QS. al-Ghasyiyah : 17-20)

Memperhatikanpesan Allah dalamsurat al-Ghasyiyahitu, makakhususbagi seorang muslim, bahwamisikehidupannyaadalahmelakukanpengamatanterhadapsegalasisikehidupanalamsebagaiayatkauniyyahuntukmenghasilkansesuatu yang bisasebanyakmungkinbermanfaatbagidirinyadanbagi orang lain (khairannasianfa’uhumlinnasi).

Manusiadalammenjalankanmisikehidupannyaitutentutidaksendirian, merekaselalumengadakankomunikasidenganmakhluk lain untukselalusalingmengambilmanfaat demi perkembanganhidupnya yang menjadiamanatperintah Allah danmenjauhilaranganNya yang menjadisebabkemurkaanNya. SemuanyaitudilakukantentunyadalamrangkamencarilegalisasikeridhaanNya, sehinggamanusiadapatmencapaitujuanhidupnyayaknibaldatunthayyibatunwaRabbunGhafur.Wassalam

=======================

*) Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA.;Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang