RASULULLAH SAW SEBAGAI USWAH HASANAH Oleh : KH. Dr. Ahmad Darodji, M.Si. *)

Marilah saya mengajak kepada diri saya sendiri dan para jamaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt, sisa usia kita yang kita tidak tahu kapan akan berakhir, kemarin baru saja kita memasuki tahun baru Miladiyah, ini berarti usia kita bertambah sekaligus berkurang karena kita telah dicatat pada usia tertentu, jika kita diingatkan oleh suatu peristiwa yang berkaitan dengan waktu maka artinya waktu yang tersisa semakin pendek alias semakin mendekati hari finish. Pertanyaannya apakah kita sudah siap menghadapi hal itu ? padahal itu adalah sesuatu yang pasti kita hadapi yakni maut, bisa nanti, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan seterusnya. Sisa usia yang tidak tahu kapan kita menghadap ke hadirat Allah swt ini mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, apa yang Allah perintahkan dan sukai mari kita jalankan sebaliknya apa yang Allah larang dan tidak disukai marilah kita tinggalkan sejauh-jauhnya, sehingga pada saat kita dipanggil kembali ke hadirat Allah swt dalam keadaan Islam dan khusnul khatimah. Amin. Allah swt telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ali Imran/3 : 102 yang berbunyi :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan taqwa yang sesungguh-sungguhnya dan janganlah kamu meninggal kecuali meninggal dalam keadaan sebagai muslim”.

Kamis kemarin kita baru saja memasuki tahun baru Miladiyah 2015, Jum’at ini adalah Jum’at pertama di tahun 2015 M dan Sabtu besok kita akan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1436 H. Sebagaimana kita tahu Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan yang baik, sebagaimana firman Allah swt di dalam surat Al Ahzab/33 : 21 yang berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Lalu bagaimana dalam memasuki tahun baru 2015 ini kita mampu meneladani Rasulullah SAW ?. Beliau adalah sosok yang sangat sederhana, suka bekerja, suka menyantuni fakir miskin, tutur katanya sangat lemah lembut dan masih banyak lagi sifat-sifat terpuji beliau yang sangat mengagumkan karena akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Oleh karena itu, marilah kita teladani sifat-sifat Rasulullah yang sangat terpuji ini, mari yang kita fikirkan, yang kita usahakan, dan yang kita kerjakan hanya sesuatu yang baik sebagaimana apa yang dicontohkan oleh beliau. Barangkali kemarin kita sudah mentargetkan dan menunjukkan rasa optimisme bahwa di tahun 2015 akan lebih cemerlang prestasi, kinerja, dan pasti lebih baik dibanding tahun 2014. Kita menyambut datangnya tahun baru 2015 dengan gegap gempita dan kegembiraan yang luar biasa. Boleh-boleh saja kita bergembira dengan datangnya tahun baru tersebut, akan tetapi apakah sudah pasti bahwa kita ini memiliki hati yang baik pula ?.

Datangnya tahun baru adalah momentum untuk kita melakukan refleksi dan evaluasi (muhasabah), hitung-hitungan antara kemarin dan sebelumnya. Apakah tahun 2014 kemarin kita memperoleh kesuksesan ?. Allah swt telah memperingatkan kepada kita dengan datangnya musibah yang bertubi-tubi, seperti : tanah longsor, banjir, gunung meletus, pesawat terbang jatuh, kapal tenggelam, dan lain-lain. Musibah itu terjadi sebelum datangnya tahun 2015, tetapi ironisnya pada malam pergantian tahun baru 2015 justru banyak orang berfoya-foya dan berpesta pora dengan menghabiskan waktu semalam suntuk demi menyambut malam pergantian tahun baru 2015. Na’udzu billahi min dzalik.

Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana seorang mukmin mampu mengendalikan diri untuk tidak larut dan ueforia dalam kegembiraan. Allah swt berfirman di dalam surat At Taubah/9 : 82 yang berbunyi :

Artinya   : “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”.

Ayat diatas memperingatkan kepada kita untuk bergembira dan tertawa sedikit, tetapi menangis sebanyak-banyaknya, artinya bahwa pada saat kita bergembira maka buatlah sewajar mungkin, namun sebaliknya perbanyaklah menangis dengan beristighfar lantaran dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kita adakan perenungan yang panjang dan menyempatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk memohon ampun kepada Allah swt.

Allah swt telah memperingatkan kepada kita di dalam firman-Nya surat Al Hasyr/59 : 18 yang dibingkai dengan kata “aamanu dan ittaqu” yang disebut sebanyak 2 (dua) kali, ayat tersebut berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Bekal untuk hidup di masa depan sangat penting untuk kita siapkan dari sekarang, salah satunya adalah melihat kilas balik hari sebelumnya untuk berbuat yang lebih baik lagi di sama mendatang, hendaknya setiap diri mengevaluasi kemarin dan merencanakan untuk hari esoknya. Ayat di atas ditutup dengan kalimat “wattaqullah”, ini sangatlah penting karena evaluasi dan perencanaan harus disertai dengan ketakwaan kepada Allah karena Dia sungguh Maha Tahu tentang apa yang akan kita lakukan.

Oleh karenanya, hendaknya kita merencanakan ke depan dengan secermat dan sematang mungkin, besok kita akan melakukan apa ? dan ini harus kita planning, programming, dan budgeting dari sekarang. Kita jangan hanya mengejar “layangan pedot dan kebrongot” oleh kesuksesan orang lain tetapi hendaknya kita susun perencanaan agar ke depan dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kita dan juga bagi sesama.

Seringkali kita baru menyadari jika rumah kita bocor manakala turun hujan, namun kita tidak menyiapkan sedini mungkin agar rumah kita tidak kebocoran di saat hujan turun dengan membetulkan genting. Oleh sebab itu, jika kita merencanakan sesuatu dengan baik maka insya-Allah akan mendapatkan hasil yang baik pula. Kita telah diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai mana dalam sabda beliau yang artinya :

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dialah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia tergolong orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka celakalah dia”.

Perenungan bagi kita sangatlah penting untuk berbuat yang lebih baik lagi, kurangi kegembiraan tetapi perbanyak untuk menangis memohon akan ampunan Allah swt. Jika kita mengaku cinta kepada Rasulullah SAW maka jadilah orang yang cerdas yakni berfikir ke depan sebagaimana apa yang dilakukan oleh beliau, beliau juga senantiasa berkata yang baik. Michel Hart, seorang non muslim berani mengatakan : “Manusia yang mampu membuat sejarah peradaban dan manusia terpilih (nomor wahid) adalah Muhammad SAW”. Sudah semestinya kita sebagai umat beliau bangga, namun tidak sekedar bangga karena kita memiliki pemimpin seperti beliau, tetapi bagaimana kita juga mampu meneladani sikap dan perilaku beliau untuk kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah makna kita berada di tengah-tengah antara tahun baru Miladiyah 2015 dan dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan hendaknya kita melakukan perenungan ke depan agar lebih baik lagi. Peringatan Maulid Nabi janganlah hanya sekedar seremonial semata tetapi kita benar-benar mampu meneladani akhlakul karimah beliau. Sudah sering disampaikan oleh khatib maupun penceramah telah banyak menjelaskan bagaimana Rasul memberikan teladan kepada kita, oleh karena itu mari kita ikuti teladan beliau itu karena pasti akan membawa kita pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Mudah-mudahan Allah swt memberikan bimbingan kepada kita sehingga ke depan hari kita semakin baik, semakin menjadi muslim dan mukmin sejati, dan insya-Allah kapanpun kita dipanggil kembali ke hadirat Allah SWT dalam keadaan “khusnul kharimah”. Amin Allahumma Amin. *****