PENDIDIKAN KARAKTER LUQMANUL HAKIM Oleh : Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA.

Allah SWT memberikan pelajaran pendidikan karakter pada manusia lewat para nabi, ulama salih dan para wali-Nya. Di antara pendikan karakter yang amat baik diajarkan Allah adalah meniru pada jejak Nabi Muhammad SAW, berikutnya adalah contoh dalam hikayat Luqmanul Hakim (QS. Luqman/31 : 13-19).

Dalam pendidikan Luqmanul Hakim terdapat 5 (lima) pokok karakter, yaitu :

1) Karakter Berke-Tuhan-an yang benar;

2) Berbakti kepada kedua orang tua;

3) Menjalankan Syariat Allah;

4) Dakwah amar ma’ruf nahi munkar;

5) Berakhlak mulia dalam bermasyarakat.

Luqmanul Hakim mendidik anak-anaknya dimulai dari pendidikan aqidah, mengenali Tuhannya dan menyembah Tuhan Yang Esa, seraya berkata : Hai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah.

Berikutnya mengajarkan pada semua manusia agar mengingat sewaktu orang tua hamil dan melahirkan anaknya dengan susah payah, agar merka bersyukur kepada Allah dan berterima kasih pada kedua orang tua, terutama kepada Ibunya, seraya Allah menghikayatkan Lukmanul Hakim : Bahwa seorang ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yang susah payah dan menyapihnya dalam 2 (dua) tahun. Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Kemudian mengajarkan pendidikan karakter tata cara beribadah menjalankan syariat Allah SWT seraya mengatakan : Wahai anakku, tegakkanlah shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat, maka ia menegakkan agama dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah merobohkan agama.

Berikutnya pendidikan berdakwah, seraya Luqmanul Hakim mengatakan : Wahai ankku lakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, karena sesungguhnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar telah diwajibkan bagi kita.

 

Kemudian pilar penting dalam mendasari semua pendidikan di atas adalah pendidikan akhlak mulia di hadapan Allah maupun di hadapan masyarakat, seraya Luqmanul Hakim mengatakan : Janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Firman Allah di dalam surat Luqman/31 : 13-19 yang  berbunyi :

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé’sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù’tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ Ÿwur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ ô‰ÅÁø%$#ur ’Îû šÍ‹ô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ΎÏJptø:$# ÇÊÒÈ

Artinya : “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

(Luqman berkata) : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.

5 (lima) pilar pendidikan karakter yang menjadi kewajiban bagi setiap orang tua kepada anak, karena pendidikan orang tua adalah pendidikan pertama dalam lingkunagan rumah tangga sebelum mengarungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Apabila pendidikan telah sukses berkarakter diawali dari keluarga, maka akan berakumulasi kesalihan bermasyarakat dan bernegara. Namun sebaliknya, bila setiap individu  dan keluarga tidak memiliki pilar pendidikan karakter yang benar seperti yang diajarkan Luqmanul Hakim, bisa dipastikan awal kehancuran individu, keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a’lam bishowab. *****

 

===================================

*) Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA.; Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah