PEMUDA DAN TANGGUNGJAWAB KEBANGSAAN Oleh : Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag. *)

Tanggal 28 Oktober 1928, tepat 89 tahun yang lalu, berbagai elemen organisasi kepemudaan menyelenggarakan perhelatan akbar bernama Kongres Pemuda, yang melahirkan embrio Negara Bangsa Indonesia.  Kongres dilaksanakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di gedung KJB Waterlooplein, Batavia (Sekarang Jakarta-Lapangan Banteng), dihadiri unsur pemuda seperti : Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan komponen pemuda lainnya. Kongres tersebut melahirkan deklarasi yang dikenal dengan Sumpah Kongres Pemuda yang berisi : Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia//Kami Putera dan Puteri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia//Kami Putera dan Puteri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa kebangkitan pemuda tersebut selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur pelaku perubahan di negeri ini. Sumpah pemuda menjadi salah satu bukti Pemuda selalu menjadi lokomotif kemajuan bangsa. Semangat persamaan nasib, perjuangan dan cita-cita, yang kemudian menjadi perjuangan bersama mencapai kemerdekaan 17 Agustus 1945. Proklamasi inilah mengantarkan Indonesia menjadi negara yang merdeka, bersatu dan berdaulat yang terdiri atas berbagai etnis, agama dan golongan. Tinta emas telah membubuhkan cerita bahwa Pemuda, senantiasa memberi kontribusi positif terhadap dinamika perkembangan dan pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia. Dengan kata lain, keberlangsungan negara bangsa ini banyak bergantung kepada kualitas dan peran pemuda Indonesia.

Al Qur’an, kitab agung umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, pelajaran dan inspirasi banyak menggambarkan kisah-kisah keberhasilan dan keteladanan, termasuk kisah integritas pemuda-pemuda yang unggul. Cerita Ibrahim muda misalnya, mengajak kaumnya berfikir menemukan Tuhan Yang Maha Kuasa (QS. Al Anbiya’ : 60), kisah Yahya muda, yang semenjak kecil telah dikaruniai hikmah dan kebijaksanaan (QS. Maryam : 15), kisah Nabi Yusuf yang menjadi pejuang kebenaran semenjak mudanya (QS. Yusuf : 22), kisah Ismail muda, yang sangat gigih memegang perintah Allah dan taat menjalani ketentuan-Nya (QS. Ash Shaffat : 102-107), dan cerita para pemuda Ashabul Kahfi, yang menjadi legenda remaja dalam mempertahankan aqidah dan imannya (QS. Al Kahfi : 13-15).

Dalam hadist Nabi, pemuda sering disebut dengan kata syab. Sebuah hadis riwayat Bukhari misalnya, menyebut pemuda di antara tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari kiamat, yaitu pemuda yang tumbuh berkembang dalam ketaatan kepada Allah SWT. Imam Abul ‘Ula al Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi  berkata : “Nabi SAW mengkhususkan penyebutan seorang pemuda karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda. Maka, dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah dan taatkepada Allah tentu lebih sulit, karena itu, hal ini menunjukkan kuatnya ketakwaan dalam diri orang tersebut”.

Sekilas cerita diatas membuktikan bahwa masa muda merupakan masa produktif untuk berkarya. Meskipun sesungguhnya, usia muda atau remaja adalah penuh dengan godaan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak hati, pikiran dan kejiwaan, yang sering berdampak pada kegoncangan, stress dan emosional. Namun masa muda adalah masa kesempurnaan pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Pemuda adalah pribadi yang berkarakter dinamis, optimis, penuh semangat, walau kadang bergejolak namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Ini semua merupakan nikmat besar dari Allah yang seharusnya dioptimalkan dan dikelola dengan sebaik-sebaiknya untuk menebarkan kebaikan. Dalam surat Al Kahfi ayat 13-14 menggambarkan profil pemuda idaman. Allah berfirman yang artinya :

“Kami menceritakan kepadamu kabar mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata : “Tuhan kami ialah Tuhan langit dan bumi dan kami tidak menyeru Tuhan selain Dia, jika demikian sungguh kami telah mengatakan perkataan yang tidak benar”.

Ayat-ayat di atas menguraikan cerita Ashabul Kahfi, pada ayat-ayat sebelumnya, secara umum disampaikan bahwa cerita yang disampaikan kepada Nabi SAW mengandung kebenaran dan benar-benar terjadi. Allah SWT menggunakan kata naba’ untuk menyebutkan penggalan sejarah pemuda penghuni goa. Kata naba’ secara harfiyah berarti berita. Di dalam Al Qur’an kata tersebut biasanya dipakai untuk menyebutkan berita-berita hebat yang mengejutkan dan mengguncangkan. Misalnya : QS. Asy Syu’ara’ : 69, Allah SWT menggunakan kata naba’ untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim AS yang berusaha merubah keyakinan kaumnya. Berita yang disampaikan Ibrahim AS disebut dengan naba’, karena mengandung informasi sangat mengejutkan kaumnya, terlebih lagi raja Namrudz. Betapa tidak, keyakinan yang selama ini mengakar kuat dalam masyarakat Babil, tiba-tiba disalahkan bahkan akan dirubah Ibrahim AS.

Dalam surat Al Kahfi tersebut, Allah SWT mengabarkan berita hebat pula, yaitu Ashabul Kahfi adalah anak-anak muda yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan itu. Para pemuda digambarkan mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah terlena dalam ajaran-ajaran yang sesat. Mereka melarikan diri dari raja yang dzalim dan syirik kepada Allah SWT. Mereka sanggup menyembunyikan diri selama sekitar 309 tahun di dalam gua semata-mata untuk menjaga iman dan akidah mereka supaya tidak di sesatkan oleh raja dan para pengikutnya.

Allah menyebut mereka sebagai pemuda “Innahum fityatun amanu”, yang mempunyai keyakinan dan keteguhan hati. Kekuatan iman itu bersumber dari imannya kepada Allah. Iman telah menjadi fondasi dalam aktivitas mereka. Namun, Allah menambah mereka dengan petunjuk di jalan yang benar, memberikan langkah-langkah kebenaran dan strategi perjuangan, karena itu Allah menggunakan kata “wazidnahum huda”. Selanjutnya Allah menambahkan “warabathna ala qulubihim” (Kami teguhkan hatinya), kami kokohkan tekadnya, kami kuatkan mentalnya. Kemudian, Allah SWT menggambarkan karakter perjuangannya dengan “idzaa qaamu fa qaalu” ketika mereka bangkit dan berkata. Artinya pantang bagi pemuda untuk duduk-duduk, remaja tidak pantas berpangku tangan. Pemuda harus bangkit, bangkit dan bangkit dan bergerak. Kata “fa qalu..” artinya pemuda berkarakter deklaratif. Ciri pemuda itu berjuang dengan atraktif, tidak dalam kesunyian. Pemuda tidak pernah menutup mulutnya karena ketakutan, pemuda takut akan ancaman. Pemuda tidak lunglai gara-gara tekanan dan penderitaan.

Tantangan pemuda saat Sumpah Pemuda dan menjelang kemerdekaan, tentu berbeda dengan tantangan zaman sekarang. Sungguh ironis, saat ini sebagian pemuda dan remaja Indonesia dihadapkan pada banyak permasalahan, seperti : masalah ketidak jujuran akademik, pergaulan bebas yang berdampak pada meningkatnya angka kehamilan di luar nikah, kenakalan yang berujung pada tindakan kriminal, dan penyalahgunaan narkoba. Padahal bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi 4 (empat) tantangan besar. Tantangan bangsa ini adalah permasalahan radikalisme dan terorisme, narkoba, korupsi, dan ketimpangan sosial. Di saat praktik-praktik korupsi yang semakin meningkat, radikalisme yang masih mengancam, kebutuhan dasar masyarakat, sandang, pangan, papan, belum teratasi secara tuntas, serta bahaya narkoba yang semakin menghantui, para pemuda diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk mencari solusi atas segala tantangan tersebut, serta dapat membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut di atas, setidaknya ada beberapa ikhtiar meningkatkan kualitas pemuda agar mampu mengemban amanah di masa depan, antara lain :

Pertama; penguatan keimanan pemuda Indonesia. Iman adalah modal utama mengarungi kehidupan. Dengan iman yang kuat, badai dan tantangan model apapun mampu diselesaikan. Keteguhan iman dan kematangan spiritual remaja akan mampu mengantarkan seseorang pada kebenaran dan ketaatan kepada Allah dan ajaran-ajaran-Nya. Dapat dipastikan dengan iman yang kuat, akan terhindar dari pikiran dan perilaku negatif yang mengantarkan perbuatan dosa. Iman yang benar akan membawa pribadi-pribadi yang hati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku.

Kedua; meningkatkan semangat belajar dan menuntut ilmu. Kesuksesan dan keberhasilan seseorang banyak bergantung pada kemampuan mengelola masa depan. Ini hanya dapat dicapai oleh orang yang selalu belajar dan meningkatkan kemampuan pribadinya.Tidak ada manusia yang tinggi derajatnya dan mampu mengubah dunia tanpa dibekali dengan ilmu. Demikian pula tidak ada pemimpin hebat yang tidak dipondasi dengan ilmu. Tidak mengherankan jika wahyu yang diterima pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk berilmu (iqra’). Maka tepatlah ungkapan syair yang mengatakan : “Barangsiapa menyia-nyiakan waktu menuntut ilmu di masa mudanya, maka bertakbirlah 4 (empat) kali  atas kematiannya. Demi Allah, hakikat seorang pemuda terletak dalam ilmu dan ketakwaannya. Bila keduanya tidak ada maka keberadaan sang pemuda dianggap tiada.” Mereka yang tidak memiliki ilmu laksana orang yang telah mati. Raga mereka memang hidup, namun hati dan pikiran mereka telah dijemput maut.

Ketiga; mematangkan akhlak yang mulia. Masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk mengikuti hawa nafsu. Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan sangatlah besar. Oleh karena itu, dibutuhkan pondasi moral atau akhlak yang kuat. Apalagi, misi kenabian Muhammad SAW adalah membangun dan menyempurnakan akhlak yang mulia. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Syauqi Beik, seorang penulis dan penyair ternama berkebangsaan Mesir, pernah berkata dalam syairnya : “Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlak manusianya. Jika mereka telah kehilangan akhlaknya maka hancurlah bangsanya”.

Keempat; meningkatkan kapasitas dan ketrampilan. Tantangan modernitas yang kompleks, tidak ada jalan lain bagi pemuda kecuali mampu berkompetisi dengan baik, dengan bekal kemampuan berbagai model keahlian dan ketrampilan. Menjadi sosok yang profesional di bidang-bidang strategis menjadi tuntutan kebrhasilan seorang pemuda. Tentang profesionalitas ini, Rasulullah SAW telah bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani). Karena itu, seorang pemuda harus tegar dan optimis menghadapi masa depan, tidak kenal putus asa. Semangat untuk maju dan berkarya harus selalu membahana di sanubari para pemuda Indonesia.

Akhirnya, marilah kita berdo’a semoga anak-anak kita, para pemuda Indonesia menjadi pribadi-pribadi yang beriman kuat, berilmu, berakhlak luhur dan berkapasitas unggul; pribadi yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara sehingga mampu mengantarkan negara kita tercinta menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. *****

====================

*) Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag.; Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah