PEMIMPIN ADALAH CERMIN RAKYAT Oleh : Letkol Drs. H. Abu Haris Mutohar, M.S.I. *)

 

الحمد لله الذى خلق الموجوداد من ظلمت الادم بنورالايجاد وجعلها دليلا على وحدانيته لذوى البصائر الى يوم الميعاد اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا سيد العباد اللهم فصل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به ومن تبعه الى يوم الميعاد اما بعد فيا ايها المسلمون رحمكم الله اوصيكم واياي بتقوى الله فقد فازاالمتقون فقال تعالى فى كتابه الكريم اعوذ بالله من الشيطن الرجيم ياايها الذين امنوا اتقواالله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون وقال ايضا اعوذ بالله من الشيطن الرجيم : لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليهما عنتم حريص عليكم بالمؤ منين رؤف رحيم. صدق الله العظيم

Secara naluri manusia diberikan kecenderungan untuk hidup bersama, karena hidup dalam kebersamaan itu kebutuhannya akan dapat terpenuhi. Tatanan yang tidak dapat dielakkan dalam kebersamaan tersebut adalah adanya pemimpin, yang akan memenej dan mengendalikan perjalanan kebersamaan tersebut. Islam dalam hal ini Al Qur’an mengajarkan bahwa pemimpin merupakan salah satu yang harus dipatuhi, setelah Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah surat An Nisa’/4 : 59 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Makna pemimpin kemudian berkembang menjadi sebuah pesan moral yang ditujukan kepada pemimpin itu sendiri tentang perilaku yang seharusnya ada pada diri pemimpin, seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Bukhari-Muslim dan lainnya yang maksudnya :

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap kita adalah pemimpin, masalah yang kemudian timbul adalah bagaimana seharusnya seorang pemimpin agar dapat dijadikan sebagai cermin oleh rakyatnya. Adapun kriteria/sosok pemimpin yang baik, adalah :

1) Menjadi suri tauladan (uswah hasanah). Sebagaimana firman Allah dalam surat                AI Ahzab/33 : 21 yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

2) Sabar dalam mendidik dan membina; firman Allah dalam surat Ali Imran/3: 159 yang artinya :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

3) Menegakkan sistem/hukum dengan adil;

4) Meningkatkan nilai ruhaniahnya dengan baik;

5) Siap berkorban; Allah SWT berfirman di dalam surat At Taubah/9 : 128 yang artinya :

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.

6) Bertanggung jawab; sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang maksudnya :

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.

Selanjutnya dalam konteks kepemimpinan ini, AI Qur’an ternyata menceritakan tentang banyak pemimpin yang salah satunya adalah Zulkarnain. Belajar dari Zulkarnain, kita bisa menemukan kriteria pemimpin yang sejati, begitu yang dikemukakan Allah SWT di dalam surat Al Kahfi.

Dari kisah yang dikemukakan Allah SWT tentang Zulkarnain, kita memang tidak mendapat penjelasan tentang siapa Zulkarnain, di mana tempatnya dan kapan semua itu terjadi. Hal itu memang tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa diambil darinya. Yang jelas, kata Sayyid Quthb, dia bukanlah Raja Alexander Zulkarnain yang animisme. Namun Sayyid Quthb juga mengutip pendapat Abu Raihan Al Biruni, meskipun bukan sebuah kemutlakan yang menyatakan bahwa Zulkarnain berasal dari Humair, nama aslinya Abu Bakar bin Ifriqisy. Dia berkelana bersama tentaranya ke pantai laut putih tengah, dia melampaui Tunis dan Maroko, dia membangun kota Afrika hingga benua itupun disebut Afrika. Dia dijuluki dua tanduk (bukan karena kepalanya bertanduk) tetapi karena dia berhasil mencapai dua tanduk matahari, yakni Timur dan Barat.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Zulkarnain, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang sangat kita dambakan adanya pemimpin yang mulia sehingga membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa, antara lain :

1) Berkuasa tetapi tidak sombong;

Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekuasaan yang besar dengan tentaranya yang kuat sehingga ia bisa mengembara ke timur dan ke barat, namun dengan kekuasaannya itu ia tidak menyombongkan diri. Sayyid Quthb menyatakan bahwa Zulkarnain menuju ke arah barat hingga sampai ke satu titik di pantai Samudera Atlantik yang dinamai dengan Laut Gelap. la menganggap telah mencapai akhir daratan di titik itu dan melihat matahari tenggelam di situ, Allah SWT berfirman yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu perjalanan. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam (QS. Al Kahfi : 84-86)

Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah pasrah kepadanya, ia justru tidak berniat untuk mendzalimi mereka dan mengambil keuntungan duniawi dari mereka, padahal Allah SWT memberikan pilihan kepadanya mau berbuat baik atau buruk. Namun ia justru mengajak mereka kepada iman dan amal salih, Allah SWT berfirman yang maksudnya :

dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata : Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Zulkarnaian : adapun orang yang menganiaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengadzabnya dengan adzab yang tiada taranya.

 

 

2) Melayani rakyat;

Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, karena Zulkarnain yang memiliki kekuasaan menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, bahkan tanpa meminta pernbayaran sekalipun meskipun mereka mau membayarnya. Hal ini nampak ketika dalam pengembaraannya, Zulkarnaian mendapati suatu umat yang sangat terbelakang sehingga mereka hampir tidak mengerti pembicaraan, bahkan mereka sendiri dalam keadaan terancam dari Ya’juj dan Ma’juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Maka Zulkarnain melibatkan semua komponen masyarakat untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun dibantara dua gunung dengan ketinggian mencapai puncak gunung sehingga tertutup bagi Ya’juj dan Ma’juj untuk memasuki wilayah penduduk itu sehingga keberadaan (eksistensi) mereka bisa dipertahankan.

Dengan keberhasilan itu, Zulkarnain tetap menyadari kelemahannya karena semua itu adalah karunia Allah SWT.

3) Menegakkan keadilan, memberantas kedzaliman;

Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari ganguan Ya’juj dan Ma’juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang sangat memberi perhatian kepada rakyat untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kedzaliman. Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga level tertinggi seharusnya berupaya untuk menegakkan keadilan dan memberantas kedzaliman, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kedzaliman.

Pemimpin yang menegaakkan keadilan dan memberantas kedzaliman akan dikenang sepanjang masa sebagai pemimpin yang baik, begitulah yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang memimpin tidak sampai tiga tahun dan tidak diabadikan di dalam AI Qur’an, namun sejarah tidak melupakan jasanya dalam mernimpin sehingga keadilan yang ditegakkan dan kedzaliman yang diberantas membuat kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya tercapai hingga pada masanya sulit untuk mencari mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).

4) Berorientasi pada kebaikan;

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkanain mengarahkan masyarakat yang di datanginya dalam pengembaraan untuk beriman dan beramal salih. Mereka dilibatkan dalam kerjasama yang baik ketika membangun tembok pertahanan sehingga keamanan yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat bisa terwujud. Dan sekarang ini kita sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang berorientasi pada kebaikan, kebaikan menurut Allah dan Rasul-Nya.

Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi niat suci kita. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishawab. *****

============================

*) Letkol Drs. H. Abu Haris Mutohar, M.S.I; Wakabintal KODAM IV/Diponegoro