MEWARISI JIWA KEPAHLAWANAN PARA PENDAHULU Oleh :H. Anis Malik Thoha, Lc. MA. Ph.D.*)

Mari kita bersama – sama memperbaharui takwa kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah – perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya, sehingga kita bersama pada akhirnya nanti bisa masuk kesurga-Nya. Marilah kita bertakwa kepada-Nya terhadap segala nikmat-nikmat, anugerah-anugerah yang melimpah-ruah dari-Nya, yaitu dengan mensyukuri kemerdekaan ini secara nyata.

Bulan yang lalu, seluruh bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan RI yang ke-71 dengan berbagai perayaan, lomba, dan program-program lainnya yang melibatkan seluruh komponen dan lapisan masyarakat. Baik yang miskin, kaya, tua, muda, semuanya tumpah – ruah membaur untuk meramaikan peringatan HUT RI ke-71. Pada aspek gebyar luaran peringatan ini, dari tahun ketahun nampak semakin bertambah meriahnya.

Kemerdekaan yang diperolehrakyat Indonesia hari ini adalah sebuah nikmat besar yang diberikan oleh Allah swt. Sebagai sebuah nikmat, maka kemerdekaan hendaknya senantiasa disyukuri, kemerdekaan ini tidak diperoleh dengan mudah ataupun secara Cuma – cuma, namun harus ditebus dengan harta, pikiran, air mata, dan bahkan nyawa serta semua yang dimiliki oleh para pahlawan di masa lampau. Rasa syukur tersebut sudah semestinya direalisasikan dalam kehidupan sehari – hari, dalam setiap perilaku, aktivitas, dan berbagai aspek kehidupan dimanapun dan kapanpun.

Beberapa hari terakhir ini bangsa Indonesia masih dalam suasana merayakan hingar-bingar hari kemerdekaan. Berbagai kegiatan, berbagai lomba dan karnaval diselenggarakan untuk merayakan hari besar Nasional tersebut. Semua segmen masyarakat dari berbagai tingkatan usia turut terlibat aktif untuk memperingatinya. Namun, nampaknya ada satu hal yang kurang mendapat penekanan dalamkemeriahan-kemeriahan tersebut.

Kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan pada umumnya hanya sebatas sebagai seremonial belaka yang dari tahun ketahun akan selalu berulang setiap memasuki bulan Agustus. Namun esensi terpenting dari peringatan hari kemerdekaan justru tidak atau kurang diperhatikan dengan seksama, yaitu bagaimana mewarisi jiwa kepahlawanan dari para pendahulu kita. Upaya untuk menghidupkan kembali jiwa – jiwa kepahlawanan dalam diri kita sebagai bagian dari sebuah bangsa sangat jarang sekali disentuh,  atau bahkan terabaikan. Padahal, mereka yang telah mendahului kita, sudah menyumbangkan tenaga, pikiran, dan bahkan nyawanya untuk meraih kemerdekaan yang hari ini bisa dinikmati oleh semua anak negeri.

Terkait kondisi bangsa hari ini, ada hadits yang relevan untuk direnungkan dan dikaji secara mendalam, yaitu :

“Diriwayatkan dari pada Tsauban r.a, bersabda RasulullahSAW : “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan oleh bangsa – bangsa lain bagaikan sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. ” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kami?”. Rasulullah menjawab: ”Bahkan jumlah kalian banyak, namun kalian seperti buih air bah. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah akan menanamkan dalam hati kalian penyakit al-wahn. ”Seseorang bertanya: ”YaRasulullah, apakah al-wahn itu?” NabiSAW menjawab: ”Cinta dunia dan takut akan kematian”. (HR Abu Dawud : 3745).

Penyakit al-wahn inilah yang hari ini menghinggapi rakyat Indonesia yang mayoritasnya beragama  Islam. Bangsa kita telah larut dalam kecintaan terhadap dunia dan takut untuk melakukan pengorbanan. Akibat sikap mental semacam ini, maka hari ini kita menemukan bahwa bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang diperhitungkan, tidak disegani, dan bahkan cenderung diremehkan oleh bangsa – bangsa lain. Jumlah rakyat Indonesia sangat besar, namun hakikatnya seperti buih di lautan yang mudah terombang-ambing oleh arus yang menerpanya.

Dahulu, spirit para pahlawan mengajarkan kepada kita, betapa gagah beraninya mereka berhadapan dengan musuh dan para kaum penjajah yang memiliki persenjataan lebih modern. Sementara para pahlawan kita melawan dengan senjata yang seadanya dan sangat sederhana. Dalam sejumlah kisah bahkan hanya bermodalkan keimanan dan sepucuk bambu runcing. Hal ini membuktikan bahwa mereka tidak terlalu mencintai dunia ini. Apalah artinya dunia jika bangsa kita masih di bawah kungkungan penjajah? Apa arti harta dan kedudukan jika wajah kita senantiasa menanggung malu. Para pahlawan yang mendahului kita telah berjuang demi mengangkat martabat, kedaulatan dan kehormatan bangsa ini tanpa pamrih sedikit pun. Keteladanan jiwa semacam inilah yang nampaknya absen dari kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi untuk menghidupkan kembali jiwa kepahlwanan dalam diri bangsa kita adalah dengan memerangi penyakit al-wahn, terlalu cinta dunia sehingga takut mati. Kecintaan terhadap dunia mestidikikis. Jangan sampai mengotori spirit bangsa Indonesia sebab dikhawatirkan akan melahirkan peradaban materialisme yang hanya mengukur hal – hal di dunia dengan standar yang bersifat profan dan kebendaaan. Keikhlasan dalam berkorban perlu ditumbuhkan. Jiwa – jiwa yang ikhlas semacam inilah yang akan menjadi tiang penyangga utama kebangkitan bangsa ini dari keterpurukan.

Presiden Soekarno, sang proklamator dan Presiden pertama Indonesia, dalam salah satu tulisannya “Mencapai Indonesia Merdeka” menganalogikan bahwa proklamasi kemerdekaan adalah jembatan emas. Jembatan emas inilah yang akan mengantarkan bangsa Indonesia menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Artinya, kemerdekaan ini adalah sarana untuk mencapai sebuah tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri! Sehingga kemerdekaan ini harus diterjemahkan kedalam kegiatan – kegiatan, program – program pembangunan di segala bidang secara holistic (kaffah) dan seimbang. Jika tidak demikian, maka tujuan dari“jembatan emas” bernama kemerdekaan ini tidak akan pernah dapat dicapai.

Bangsa Indonesia semestinya malu ketika dalam berbagai aspek kehidupan masih kalah dengan bangsa lain. Dalam percaturan politik dan ekonomi hari ini Indonesia masih belum mendapat porsi yang layak. Demikian juga dalam aspek keilmuan, justru Negara kita ketinggalan jauh dengan negara lain yang kemerdekaannya lebih muda dibandingkan Indonesia. Dengan demikian, perbaikan masyarakat Indonesia hari ini hanya bias dicapai melalui jiwa kepahlawanan dimana para pendahulu kita telah memberikan keteladanan tentang bagaimana merelakan pemikiran, harta, dan jiwa demi kemerdekaan. Kebangkitan kembali bangsa ini menjadi sebuah peradaban yang besar akan tercapai jika penyakit al-wahn, cinta dunia dan takut mati, bisa dienyahkan dari jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Mari sekalilagi, Khatib menyerukan, kita mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia ini dengan sebenar-benarnya. Sebab kami khawatir, jika nikmat ini tidak disyukuri, maka Allah SWT akan mengambinya kembali dari kita. Dan tanda-tanda hilangnya nikmat kemerdekaan bangsa ini semakin hari semakin kentara dengan jelas.

Demikian khutbah singkat ini, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Aamiin Allahumma Aamiin. *****

======================

*) H. Anis Malik Thoha, Lc. MA. Ph.D.; Rektor Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved