MUHASABAH TINGKATKAN KUALITAS DIRI Oleh : Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 10Januari 2014 M/          08Rabiul Awal 1435 H

Tak henti-hentinya kita senantiasa mendapat pesan agar kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt, rasa tanggung jawab disertai rasa cinta kepada Allah, kepada sesama dan kepada diri sendiri. Komitmen terhadap dimensi diri kita sebagai makhluk-Nya, yang harus mengabdikan diri kepada-Nya, sebagai makhluk sosial yang harus berprilaku baik di tengah-tengah masyarakat dan sebagai makhlkuk individu yang terdiri dari jasmani dan rohani, yang senantiasa dituntut memperhatikannya secara baik. Jika demikian kondisi kita, insya Allah, akan diperhatikan oleh-Nya, dalam arti selalu mendapat jalan keluar dan mendapat kejembaran rizki yang tak terkirakan sebelumnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Thalaq/65: 2-3

artinya : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

Pada kesempatan ini saya akan mengutarakan suatu hal yang berkaitan dengan penyadaran diri (yaqdlah) kemudian mengadakan perenungan (muhasabah) terhadap dosa-dosa yang pernah kita lakukan menuju ke masa depan, taraf hidup yang lebih baik, untuk dunia dan akherat kita.

Yaqdhah berarti sadar, insaf, kembali ke Fitrah, mau mendengar suara hati nurani yang sebagian filosof menamaiannya sebagai ‘suara’ Tuhan. Untuk sampai pada keadaan ini, kadang-kadang Allah menurunkan musibah atau menurunkan nikmat yang luar biasa dan kadang-kadang ada Allah menyadarkan seseorang melalui nasehat dari orang lain.

Selanjutnya kata melakukan muhasabah, yakni memikirkan, memperhatikan, dan memperhitungkan apa saja yang telah dan yang akan diperbuat. Sikap ini perlu kita lakukan untuk meningkatkan kualitas diri kita menuju masa depan yang jernih dan cerah. Allah swt berfirman :

 “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr/59 : 18)

Dari pengertian ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa muhasabah ialah membuktikan adanya iman dan takwa kepada Allah dalam dirinya, dan Allah mengakui hal itu. Bagi umat Islam, iman merupakan satu kekuatan yang memelihara umat manusia dari nilai-nilai rendah, dan alat yang menggerakkan manusia untuk meningkatkan nilai luhur dan moral yang bersih sebagaimana dinyatakan oleh  Muhammad        al-Ghazali dalam bukunya Rakaiz al-Iman. Orang yang beriman akan senantiasa berusaha untuk mengamalkan akhlak yang mulia dan terpuji (mahmudah), bukan yang tercela (madzmudah), dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang tersebut akan terpelihara dari kejahatan apapun. Itulah orang yang bertakwa.

Dengan demikian orang yang bertakwa adalah orang yang hatinya bersih dari dosa, dapat mengendalikan tuntutan hawa nafsunya, dan ketika itu dialah pemenangnya, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah :

”Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut dan takwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Nur/24 : 52)

Orang bermuhasabah pasti ada keyakinan akan datangnya hari pembalasan. Keyakinan ini telah begitu merasuk dalam hatinya, sehingga dia merasa sangat perlu untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap langkahnya. Dia tidak berani “main-main” akan larangan Allah, karena Dia akan membalasnya. Keyakinan ini akan mendorong seseorang untuk tulus-ikhlas dalam beramal, apapun tanggapan ataupun komentar orang lain terhadap dirinya, sepanjang dia berada dalam jalan yang benar, maka kata pepatah : “biar anjing menggonggong, kafilah tetap berjalan”.

Orang tersebut akan selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas amalnya, karena tentu tak ingin dia merugi dari hari ke hari. Ibarat orang berdagang, sebelum berangkat akan memperhatikan berapa besar modalnya, berapa dia harus menjual dagangannya, dan setelah selesai dia akan menghitung lagi, berapa uang yang berhasil dia bawa pulang.

Dalam hal beragama, modalnya adalah kumpulan kewajiban yang berhasil dilakukan, labanya adalah amalan sunnah yang berhasil dikerjakannya, sehingga telah bertambah banyaklah modalnya tadi. Sementara ruginya apabila dia berbuat kemaksiyatan atau dosa-dosa (al-Jazair, Abu Bakar Jabir al-Jazairy, Minhaju al-Muslim).

Dengan muhasabah itu, kita akan melakukan :

a) terlebih dulu memperhitungkan diri, sudah cukupkah  kewajiban yang seharusnya ditunaikannya;

b) memperhitungkan diri terhadap dosa/maksiat apa saja yang telah dilakukannya;

c) adakah laba/kelebihan perolehan pahala dari kewajiban yang berhasil dikembangkan pada hal-hal yang sunnah;

d) atau malah merugi karena perolehan pahala jauh lebih kecil ketimbang dosa yang dilakukan;

e) selanjutnya mohon petunjuk dan bersyukur kepada Allah sekiranya telah berlaba;

f) mohon ampunan dan secepatnya bertaubat sekiranya ternyata merugi.

Pesan Umar ibn Khathab ra : حاسبواانفسكم قبل ان تحاسبوا  (Perhitungkanlah dirimu sendiri sebelum dirimu diperhitungkan). Maka setiap malam menjelang tidur beliau memiliki kebiasaan memukul kedua telapak kakinya dan berkata kepada dirinya sendiri : “Wahai diriku, apa saja yang telah kau lakukan sehari tadi ?”.

Di sini pentingnya sikap muhasabah dan dilanjutkan dengan sikap muraqabah (merasa diintai oleh Allah) merupakan peningkatan ruhaniyyah dan mental manusia, sehingga benar-benar menjadi hamba Allah yang penuh takwa, hidup dalam ketaatan dan terhindar dari kemaksiyatan.

Umur bertambah panjang berarti lebih dekat dengan mati, menemui Allah swt. tentu harus disertai bekal yang cukup memadai dan seterusnya.  Untuk memantapkan muhasabah itu, perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :

1) Muraqabah (pengawasan); pengawasan dilakukan terhadap lahiriah dan batiniah semua perbuatan kita, seperti keikhlasan dan kesempurnaan amal kita.

2) Mu’aqabah (sanksi); yakni memberi sanksi kepada diri sendiri, tentu atas dasar manfaat, seperti meninggalkan amal kebaikan diberi sanksi melaksanakan ibadah yang lebih baik, sesuai dengan hadits nabi saw : “ikutilah kejelekan atau kejahatan dengan kebaikan, karena amal kebaikan itu bisa melebur dosa, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus”. (HR. Tirmidzi)

3) Mu’atabah ala al-nafs (mengkritik pada diri sendiri); yakni suatu kritikan yang sesuai dengan standard Al Qur`an dan Al Hadits, seperti mempertanyakan mengapa kamu berbuat kemaksiyatan begini dan begitu, mengapa kamu malas, mengapa kamu tidak jujur dan sebagainya.

4) Mu’ahadah (janji) setia tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang tercela itu.

Demikian, semoga ada manfaatnya bagi kita sekalian. Amin ya rabbal ‘alamin.

=======================

*) Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA.; Guru Besar Ilmu Tasawuf IAIN Walisongo Semarang & Direktur Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf (LEMBKOTA) Kota Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved