MERDEKA DENGAN KEKAYAAN SPIRITUAL Oleh : Prof. Dr. KH. Muhtarom HM. *)

Posisi kita sekarang berada pada tanggal 14 Agustus 2015 M/29 Syawal 1436 H, 3 (tiga) hari lagi tanggal 17 Agustus 2015 genap 70 tahun kita bangsa Indonesia merasakan nikmatnya kemerdekaan, setelah merasakan betapa banyaknya kesulitan dan tantangan yang dihadapi bangsa untuk memperoleh kemerdekaan tersebut. Karena kemerdekaan itu tidak hanya berarti bebas dari penjajahan dan perhambaan, kekuasaan melainkan juga merupakan amanah yang harus kita tegakkan. Kita isi untuk kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus mewujudkan kehidupan yang sejahtera.

Marilah kita bersyukur atas limpahan rahmat dan nikmat ini, mari kita hayati ungkapan syukur, hendaklah kalimat syukur ini bisa berbekas pada hati sanubari kita. Karena kemampuan kita menghayati kalimatusyukur sangat menentukan tingkat kebahagiaan kita, karena ini menyangkut apresiasi kita terhadap Allah swt.

Dewasa ini, di negeri kita yang sudah merdeka selama 70 (tujuh puluh) tahun semakin banyak terlihat adanya kecenderungan pada kelompok social tertentu, yang masih lemah kehidupan spiritualnya, lemah tingkat ketauhidannya pada Allah swt. Semua itu terjadi karena gaya hidup yang hedonistis, yang menampilkan kekuatan logika dan rasionalitasnya terfokus pada kesenangan materi, sehingga fitrah keagamaannya dan kehidupan spiritualnya mengendor drastis.

Maka ketika aspek spiritual ini hilang (baik pelan-pelan maupun serentak) maka ia tidak lagi memperoleh ketentraman batin, tidak lagi ada keseimbangan dalam dirinya., karena tekanannya pada materi meningkat, bisa jadi berpalingnya dari Allah swt juga meningkat, misalnya : orang begitu teganya mengkorup, menilep harta orang lain yang diamanatkan kepadanya.

Permasalahan dasar dari perilaku semacam ini adalah masalah sikap mental yang miskin spiritual/lemah takwanya. Untuk membebaskan diri dari bahaya akibat dari lemahnya takwa/spiritual agama, haruslah kembali ke agama (Islam) dengan system keimanan/ ketauhidan. Artinya, harus kembali menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat orientasi, yang selama itu mungkin telah dicampakkannya. Sungguh benar firman Allah swt dalam Al Qur’an surat Thaha/20 : 124 yang berbunyi :

Artinya : “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Firman Allah ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berpaling dari Allah, kufur terhadap Allah dan tidak mengerjakan apa yang diperintahkan, sungguh baginya penghidupan yang sangat sempit di dunia, dan pada hari kiamat kelak ia mengalami buta hati dan buta mata.

Jadi orang yang bertakwa dan berakal senantiasa ingat pada Allah, ketika berjalan, berkendaraan, dan berjualan di pasar dan ketka mengerjakan apapun di kantor maka Allah bukan hanya kita ingat dan kita agungkan namanya, tetapi Allah selalu menjadi landasan dan tujuan dari seluruh aktivitas kita dan seluruh ciptaan-Nya aturannya bukanlah sia-sia bagi orang yang berakal. Firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran/3 : 191)

Inilah watak orang bertakwa, meyakini Allah ada di sisinya, di depan, belakang dan seputar dirinya. Allah swt diyakini ada di setiap sisi ruang yang dipandangnya, di dengar dan Allah selalu mengawasinya. Keadaan semacam inilah yang diistilahkan dengan spiritualitas yang berdasarkan iman dan tauhid. Kesadaran inilah yang bisa membentengi diri dari tindak perilaku sesat dan sebagainya.

Hukum, ilmu, dan kontrol sosial memang diakui dapat mencegah tindak kejahatan dan Islam mendorong untuk mentaati hukum, namun ketika perangkat ini tidak berdaya dalam situasi tertentu, hukum biasanya tidak dipatuhi pada saat kesendirian dan kontrol sosial tidak berdaya untuk mencegah naluri ketika ia bergelora.

Demikianlah, mudah-mudahan dapat menggugah kesadaran bertakwa yang sebenar-benar takwa dan dapat lebih menguatkan kehidupan spiritual kita. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****