MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT Oleh :Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. *)

Marilah kita terus menerus bersyukur kepada Allah swt, hanya karena anugerah, inayah, dan karunia-Nya kita dalam keadaan sehat wal afiat, tetap iman dan Islam, semoga bisa kita jaga dan tingkatkan kualitasnya hingga akhir hayat kita.

Shalawat serta salam mari kita sanjungkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw, para sahabat, dan para pengikutnya.

Saudaraku, marilahkita berusaha dengan sungguh – sungguh meningkatkan iman dan takwa kita. Kita sadarkan diri kita, bahwa tidak lama lagi hidup kita harus berakhir, dan kita memasuki perjalanan hidup panjang. Untuk itu kita mesti mempersiapkan bekal, dan satu-satunya modal kita adalah, taqwa kepada Allah swt.Semoga kita diberi kesempatan oleh Allah swt, untuk dapat merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin Allahumma aamiin.

Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik”. (QS. Al Hasyr/59 : 18-19)

Rasulullah saw mengingatkan kita sebagai umat beliau, agar bersiap diri, karena kita pada saatnya nanti, harus mempertanggungjawabkan umur, jasad, ilmu, dan rizqi yang kita terima dari Allah.

Riwayat dari Mu’adz ibn Jabal, Rasulullah saw bersabda:

 “Tidaklah akan bergeser kedua kaki seorang hamba, sehingga ditanya tentang 4 (empat) hal, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang jasadnya untuk apa dirusakkan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tetang hartanya dari mana didapat dan dibelanjakan?”.

Dikisahkan dalam Durratun Nashihin, halaman 259, suau saat Nabi Dawud as memohon  kepada Allah swt :“Ya Rabb, kami ingin menyaksikan bagaimana sesungguhnya al-shirat (jembatan) dan al-mizan (timbangan) selagi masih hidup di dunia. Lalu Allah berfirman: “Wahai Dawud, pergilah kamu ke suatu lembah itu, kemudian Allah membukakan hijab dari Dawud, sehingga dia melihat al-shirat dan al-mizan sebagaimana dalam al-Akhbar. Maka ketika itu Nabi Dawud as menangis sejadi-jadinya, dan dengan sesenggukan bertanya kepada Allah : “Ya Tuhanku, siapa yang mampu dari hamba-Mu yang memenuhi timbangan dengan kebaikan?”. Maka Allah berfirman: “Maka demi kemuliaan dan keagungan-Ku, barang siapa yang mengatakan, tidak ada Tuhan selain Allah sekali saja dengan i’tikad memperhatikan al-shirat, seperti kilat yang mengkilat, dan siapa yang bersedekah semisal satu dirham semata-mata untuk mendapat ridha-Ku, akan memenuhi mizan, dan mizan itu lebih besar dari gunung Qaf”.

Allah menegaskan dalam QS. Yasin/36 : 12 yang artinya :

 “Sesungguhnya Kami (Allah) menghidupkan orang-orang mati dan mencatat apa yang mereka kerjakan dahulu, dan akibat mereka, dan pada semua sesuatu, Kami menghitungnya dalam catatan yang nyata (Lauhil Mahfudh)”.

Allah swt juga menegaskan:

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat – amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.(QS. Al Mu’minun/23 : 1-11)

Rasulullah saw mengingatkan kepada kita sebagai umat beliau, sebagai berikut:

“Tanda-tanda kesengsaraan ada 4 (empat) : pertama, melupakan dosa-dosa yang telah lalu, sementara di sisi Allah tetap terpelihara; kedua, mengingat-ingat kebaikan yang telah lalu, dan tidak tahu apakah diterima atau ditolak; ketiga, memperhatikan kepada orang yang di atasnya dalam urusan dunia; keempat, dan orang yang memperhatikaan yang di bawahnya dalam urusan agama. Allah berfirman: Aku menghendakinya maka ia tidak menghendaki Aku, maka Aku meninggalkannya”. (Minhaj al Muta’allim).

Dari wejangan Rasulullah saw tersebut, dapat kita pahami dengan jelas, apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan dalam hidup, kita harus bekerja keras sesuai dengan rambu-rambu ajaran Agama, inilah yang disebut amal saleh. Selain itu, ada 4 (empat) hal yang harus kita ingat-ingat dan perhati-kan:

1) Kita berusaha dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh agar kita mampu mengingat-ingat dosa-dosa dan kesalahan kita di masa lalu;

2) Kita harus berusaha melupakan kebaikan-kebaikan yang kita pernah lakukan kepada orang lain, yang kita belum tahu pasti apakah amalan kita itu diterima atau ditolak oleh Allah swt ?;

3)Kita tidak perlu memiliki sikap iri dalam urusan duniawi dan materi kepada orang-orang yang ada di atas kita, karena itu hanya akan menjadikan hidp kita tidak nyaman, kemrungsung, dan implikasinya akan timbul sifat tamak dan rakus. Sementara cinta harta secara berlebihan, akan menjadi biangkerok untuk berbuat kesalahan. Demikian juga cinta berlebihan terhadap pangkat dan jabatan;

4) Mari kita tanamkan sifat dan sikap iri dalam urusan ibadah dan agama kepada orang yang ada di atas kita, agar kita memiliki spirit dan motivasi yang kuat menjadi hamba Allah yang taat. Seperti dicontohkan oleh beliau Rasulullah saw, yang sebagai utusan dan kekasih Allah, namun selalu menghabiskan 1/3 (sepertiga) malamnya untuk berdzikir dan bermunajat kepada-Nya hingga kaki beliau bengkak.

Mari Saudara-saudaraku, selagi kita masih diberi umur panjang oleh Allah,  kita sisihkan sebagian harta kita untuk menolong, memudahkan, dan meringankan beban orang lain. Sabda Rasulullah saw: “Sungguh orang yang bersedekah dalam masa hidupnya dengan satu dirham adalah lebih baik dari pada 100 dirham ketika matinya”. (Mashabih).

Juga beliau tegaskan:

“Barang siapa mengalami kesulitan di dalam memenuhi kebutuhan- nya, maka perbanyaklah bershalawat kepada-ku, karena sesungguhnya shalawat dapat menyingkap kekalutan, awan kegelapan, dan beban berat, memperbanyak rizqi dan memenuhi kebutuhan”.

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita buka kembali hati, pikiran, dan perasaan kita, dengan memperbanyak shalawat dan sedekah, kita ingatkan intensitas amal sosial kita, karena kita sangat merindukan kehidupan abadi yang membahagiakan, karena harumnya wewangian hati kita dan menuai kebahagiaan hakiki dalam pelukan dan siraman keagungan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Amin ya robbal alamin.

=======================

*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA.; Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang & Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah