MENYONGSONG DATANGNYA BULAN SUCI RAMADHAN Oleh : Drs. KH. Abdul Hamid Syuyuthi *)

Seringkali kita diingatkan oleh Allah agar kita menjadi orang yang takwa, karena takwa merupakan bekal yang terbaik ketika kita sewaktu-waktu menghadap Allah swt, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu materi khutbah pada siang hari ini adalah dalam rangka “Menyongsong Datangnya Bulan Suci Ramadhan”. Dengan berpuasa maka tujuan akhirnya adalah “la’allakum tattaquun” (agar menjadi orang yang bertakwa), sebagaimana firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah/2 : 183)

Jika Ramadhan datang maka seluruh manusia yang ada di muka bumi + 7 milyar dimana sepertiganya beragama Islam terbagi dalam beberapa kelompok, antara lain :

1) Kelompok yang bergembira ketika Ramadhan datang; mereka inilah golongan orang yang memiliki keimanan yang kuat, karena dengan datangnya Ramadhan mereka “mremo” guna mencari pahala sebanyak-banyaknya. Di dalam bulan Ramadhan terdapat ibadah shalat sunnah yakni : Shalat Tarawih dan Lailatul Qadar. Tarawih bilangan rakaatnya ada yang 8, 20, dan 36. Rasulullah saw sering melaksanakan shalat 8 rakaat yang disebut dengan “Qiyamu Ramadhan”. Oleh karenanya, apabila ada orang yang melaksanakan shalat dengan bilangan 4 rakaat salam, 4 rakaat salam lalu 3 rakaat shalat witir, maka itu disebut dengan “Qiyamu Ramadhan”. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam Kitab Shahihul Bukhari atau Kitab Riyadhus Shalihin.

2) Kelompok yang biasa-biasa saja ketika Ramadhan tiba; karena mereka tidak memahami arti dan makna Ramadhan, tidak senang mendekatkan diri kepada Allah swt, mereka inilah golongan orang-orang “kafir”.

3) Kelompok yang susah, nggrantes, dan ngenes jika Ramadhan datang; mereka dalah golongan orang-orang “munafiq”, biasanya mereka suka molimo, yakni :

  1. Main (seperti : ceki, remi, domino, kopyokan, uteran, kluthuk, dadu, kyu-kyu, capjiki, samgong, udar mbangkol, abang ijo, besar kecil, 41, omben, totohan, adu jangkrik, adu jago dll).
  2. Maling (seperti : nyolong, nggarong, nodong, njambret, nyopet, ngadet, ngutil, nggathaki, ngakali, ngapusi, manipulasi, korupsi).
  3. Madat (seperti : ajong, congyang, KTI, wesky, ekstasi, banyu aki, pil koplo, sabu-sabu, ciu, putaw, heroin, kokain, morfen, cimeng, cukrik, oplosan dll). Bahkan dalam sebuah penelitian, di Jawa Timur ditemukan sebanyak 632 ribu yang kecanduan narkoba.
  4. Melacur, dan
  5. Mateni wong (membunuh orang).

Orang Jawa sudah mentradisikan jika bulan Sya’ban tiba dan mendekati Ramadhan, mereka berdatangan ke kuburan. Apakah Nabi mengajarkan tentang hal itu ?. Khatib yakin bahwa di saat Nabi berusia 6 (enam) tahun pernah diajak oleh ibunya berziarah ke makam ayahnya dari Mekah ke Madinah, sepulang berziarah ibunda Rasul jatuh sakit lalu wafat dan kemudian dimakamkan di tanah Abwa’ (kota antara Mekah dan Madinah). Jika kita telaah secara mendalam, mala di dalam kitab Jamius Shaghir juz 2 disebutkan bahwa Rasulullah ketika berziarah ke kubur dilakukan setiap menjelang shalat Shubuh, jadi dalam 1 (satu) tahun beliau berziarah k ke kubur sebanyak 365 (tigaratus enampuluh lima) kali.

Rasulullah setiap berziarah ke kubur pasti selalu mengucap salam, memang sebelumnya beliau melarang berziarah kubur tetapi kemudian beliau bersabda : “Kuntu nahaitukum ‘an ziyarotil qubur, fazuruha fainnahu tudzakkirul mauta” (Dahulu aku melarang kamu berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ! karena hal itu akan mengingatkanmu akan kematian). Hadits tersebut tertuang di dalam Kitab Shahihul Bukhari juz 2.

Pada awalnya Rasul melarang berziarah kubur karena ada kekhawatiran meminta pada orang yang telah mati, padahal kita meminta dan memohon hanya kepada Allah. Dari sinilah kemudian Rasulullah menganjurkan untuk berziarah kubur agar kita selalu mengingat akan kematian.

Nabi memberikan tuntunan ketika kita berziarah kubur, diantaranya : mengucapkan salam ketika memasuki kuburan, sebagaimana ditulis oleh Imam Muslim yakni : “Assalamu ‘ala ahlid diyar”, adapun yang ditulis oleh Imam Abu Dawud disebutkan : “Assalamu ‘alaikum daara qaumim mukminin”. Kemudian salam Nabi kepada ahli kubur yang ditulis oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah : “Assalamu ‘alaikum ya ahlal qubur inna insya-Allahu bikum laahiquun”.

Oleh karena itu, ketika orang datang ke kuburan kemudian mengucapkan salam maka penghuni kubur akan mendengar dan menjawabnya, namun yang pasti kita tidak akan mampu melihat dan mendengarnya karena jika kita mampu melihat dan mendengar maka justru kita akan ketakutan. Hal ini sama ketika kita menonton televisi, ketika seorang mubaligh mengucap salam dari studio televisi tentu dia tidak melihat kita, tetapi kita sebagai pemirsa bisa melihat mubaligh tersebut, sehingga kita bisa langsung menjawab salam yang diucapkan oleh mubaligh tersebut.

Dalam hal ini Nabi pernah memberi contoh sebagaimana tersebut di dalam kitab Shahihul Bukhari juz 3 halaman 6-7. Ketika terjadi perang Badar, beliau melihat seorang kafir yang mati, lalu beliau berkata : Hai orang kafir, ketika kamu masih hidup selalu saja memusuhi orang Islam, saat inilah kamu akan merasakan siksa Allah menimpamu selama-lamanya. Secara kebetulan Umar bin Khathab melihat tindakan Rasulullah tersebut lalu berkata : “Ya Rasul, orang yang ada di hadapan engkau itu sudah mati, mengapa engkau justru mengajak bicara ?”. Selengkapnya dialog tersebut termaktub di dalam kitab Shahihul Bukhari juz 3 sebagaimana tersebut di atas.

Oleh sebab itu, pada bulan Sya’ban ini masyarakat kita banyak yang mentradisikan ziarah kubur, makan bersama, Arwah Jamak’ dan tradisi-tradisi yang lain dalam rangka mendoakan ahli kubur yang telah wafat. Biasanya mereka sambil membawa ketan, apem, pasung, dan gedang (pisang). Itu adalah tradisi yang dulu pernah dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, kalimat tersebut sebenarnya adalah : khatha’an fashum ghodan. Sedekah seperti ini pahalanya tidak saja untuk si pemberi tetapi bisa dialamatkan kepada keluarga yang telah meninggal dunia, hal ini sebagaimana termaktub di dalam kitab Shahihul Muslim juz 3 halaman 73 yang menyebutkan bahwa suatu ketika Rasul pernah didatangi seorang laki-laki lalu bertanya : “Wahai Rasul, sesungguhnya ayahku telah wafat dan meninggalkan harta tetapi tidak berpesan apa-apa. Apakah harta peninggalan ayahku apabila aku sedekahkan pahalanya bisa sampai dan menghapus dosa-dosa ayahku ?. Rasulullah menjawab : Iya, bisa”.

Sepenggal dialog tersebut menggambarkan bahwa sedekah dari orang yang telah meninggal dunia mampu menghapus dosa-dosa yang bersangkutan. Bagi orang yang tidak pernah membaca kitab Shahihul Muslim tersebut tentu akan mengatakan bahwa : sadakah, kendurinan, berkatan itu adalah bid’ah atau bahkan syirik karena tidak ada tuntunannya. Sekali lagi hal ini wajar karena mereka tidak pernah membaca kitab tersebut.

Oleh karenanya mari kita kaji secara mendalam Al Qur’an, Al Hadits, Ijma’, Qiyas, Ijtihad, dan Istihsan. Karena kalau diibaratkan, orang yang hanya mengkaji Al Qur’an saja maka diibaratkan hanya tahu jalan tol saja. Orang yang mengkaji Al Qur’an dan Al Hadist diibaratkan tahu jalan tol dan jalan arteri. Tetapi jika kita mengkaji Al Qur’an, Al Hadist, Ijma’, Qiyas, Ijtihad, dan Istihsan maka kita akan tahu jalan tol, jalan arteri, jalan protokol, gang-gang kampung, dan bahkan gang-gang tikus sekalipun.

Maka tidak akan pernah ketemu jika terjadi diskusi yang melibatkan orang yang hanya mengkaji Al Qur’an dan Al Hadist saja dengan orang yang mengkaji Al Qur’an, Al Hadist, Ijma’, Qiyas, Ijtihad, dan Istihsan karena pengalamannya yang jelas-jelas jauh berbeda.

Demikian, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved