MENYONGSONG BULAN SUCI RAMADHAN Oleh :Drs. KH. Abdul Hamid Syuyuthi *)

Seringkali kita diingatkan oleh Allah agar kita menjadi orang yang bertakwa karena takwa merupakan bekal kita yang terbaik ketika kita menghadap ke hadirat-Nya. Firman Allah dalam Al Qur’an :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran/3 : 133)

Surga yang seluas langit dan bumi dibentangkan bersama dan dikalikan 7 (tujuh) itu oleh Allah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Pada ayat lain Allah swt menyebut :

“Bersiap-siaplah kamu untuk bekal di akhiratmu, dan bekal yang terbaik bagimu adalah takwa”.

Bulan suci Ramadhan 1437 H sudah tiba, ketika kita sedang berpuasa maka Allah menyebut dalam ayat :

 “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah/2 : 183)

Jadi Allah swt menyebut orang-orang yang bertakwa diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana Allah mewajibkan puasa kepada orang-orang sebelum kamu, dimana tujuan puasa adalah agar menjadi orang yang takwa. Maka menjelang Ramadhan ini, kita semua pasti berharap bisa berjumpa dengan bulan yang mulia tersebut. Datangnya bulan suci Ramadhan membuat orang berbeda persepsi dalam menyambutnya, ada yang biasa-biasa saja, ada yang justru susah, dan ada pula yang senang gembira, ini semua karena karakter manusia yang tidak sama antara satu dengan yang lain.

Ramadhan datang orang merasa biasa-biasa saja, inilah kelompok orang-orang kafir karena orang kafir tidak perlu berpuasa, oleh karenanya manakala Ramadhan tiba mereka tidak berpuasa, di luar Ramadhan mereka tidak akan pernah berpuasa dan sikapnya akan selalu biasa-biasa saja.

Jika Ramadhan datang ada yang merasa susah, mereka itu golongan orang munafik. Orang munafik tidak akan berpuasa dan malam harinya walaupun mereka sahur tetapi sahurnya dalam rangka menghindari kecaman dari keluarga, malam hari mereka terpaksa bangun untuk sahur, namun di siang harinya mereka tidak berpuasa.

Adapula Ramadhan datang, mereka merasa bahagia dan gembira, itulah kelompok orang-orang yang bertakwa. Hal ini disebabkan manakala mereka beribadah di bulan suci Ramadhan nilai pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah swt. Misalnya : Kata Nabi di dalam kitab Riyadhus Shalihin apabila kita mendatangi Majelis Taklim/tempat pengajian di bulan Ramadhan, maka nilai pahalanya adalah tiap langkah perjalanannya dari rumah sama dengan ibadah sunnah selama 1 (satu) tahun, sabda Rasulullah saw tersebut adalah sebagai berikut :

Jadi orang yang mendatangi tempat majelis taklim ilmu agama di bulan suci Ramadhan maka nilai pahala yang diberikan kepadanya dari Allah dihitung tiap langkah kakinya. Beruntunglah bagi mereka yang rumahnya cukup jauh dari tempat kajian Islam diselenggarakan ataupun dari masjid terdekat, atau bisa dibuat strategi jika orang yang rumahnya dekat dengan masjid maka pada saat akan menuju ke masjid jalannya bisa memutar, Allah swt tidak akan menyia-nyiakan usaha manusia, oleh karenanya Allah Allah swt pasti akan membalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang oleh Allah disebut di dalam kitab suci Al Qur’an, sebagaimana termaktub di dalam surat Al Baqarah/2 : 185 yang artinya :

Artinya : “(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Di bulan suci Ramadhan Allah swt telah menurunkan permulaan Al Qur’an, yaitu 5 (lima) ayat surat Al ‘Alaq, dimana fungsinya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Maka orang yang hidup setelah Rasulullah dan mendapatkan Al Qur’an sampai dengan datangnya hari kiamat maka yang masih terpakai hanyalah Al Qur’an, karena yang digunakan adalah kalimat “Hudan linnasi”, jadi orang Eropa, Amerika, Afrika maupun Asia jika merasa sebagai manusia maka secara otomatis menggunakan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Persamaan prinsip dari 4 (empat) macam kitab suci dari Allah swt adalah “Tauhid”, oleh karenanya Taurat, Zabur, dan Injil semuanya termuat di dalam Al Qur’an, sehingga orang yang hidup pada saat ini sudah semestinya harus ber-Al Qur’an. Jika sudah ber Al Qur’an maka akan bertemu dengan surat Ali Imran/3 : 19 yang artinya :

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. iada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

Di samping itu akan ketemu dengan firman Allah surat Ali Imran/3 : 85 yang artinya :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

Oleh karenanya, tradisi orang Jawa menjelang Ramadhan biasanya banyak yang berdatangan ke kuburan, seperti : nyadran, bersih-bersih kubur, Arwah Jama’, dan bersedekah untuk orang-orang yang sudah meninggal. Inilah tradisi yang berlaku di pulau Jawa dan ini semua berdasar dari kegiatan Rasulullah saw. Ketika Rasulullah berusia 6 (enam) tahun pernah diajak oleh ibundanya berziarah ke makam ayahandanya yang bernama Sayyid Abdullah di Madinah selama hampir 3 (tiga) bulan, kemudian beliau kembali ke Mekah bersama pembantunya yang bernama Maemun karena ibunda Rasulullah jatuh sakit lalu wafat dalam perjalanan pulang dari ziarah kubur Sayyid Abdullah, lalu Siti Aminah dimakamkan di tanah “Abwa’.

Adapun Rasulullah saw berziarah kubur setelah beliau hijrah ke Madinah setiap menjelang shalat Shubuh, jadi Rasulullah berziarah kubur tidak setiap bulan Ruwah/Sya’ban tetapi beliau berziarah kubur setelah shalat Tahajud dan sebelum shalat Shubuh (baca : Kitab Jami’us Shaghir juz 2).

Ada etika ketika kita masuk area kuburan, sebagaimana apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah yakni dengan mengucap salam, sebagaimana yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihul Muslim  :

“Assalamu ‘ala ahli ad diyar innaa insya-Allahu bikum laahiquun”

Dalam Hadist yang ditulis oleh Imam Abu Dawud salam kepada ahli kubur sebagai berikut :

“Assalamu ‘alaikum daara qoumin mu’miniin innaa insya-Allahu bikum laahiquun”

Adapun hadist yang ditulis oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah uluk salam Nabi ketika memasuki kuburan adalah :

“Assalamu ‘alaikum yaa ahlal qubuur innaa insya-Allahu bikum laahiquun”

Ketika mereka datang ke kuburan kemudian mereka membaca Al Qur’an, Yasin, tasbih, shalawat, istighfar dan seterusnya, disamping pahalanya didapat bagi mereka yang membaca juga dialamatkan kepada keluarga yang telah meninggal dunia. Dasarnya sebagaimana termaktub di dalam kitab Adzkar hal 256-262.

Adapula tradisi di masyarakat kita kirim pahala dengan bersedekah, orang Jawa mengatakan bulan “Ruwah” alias arwah, Sya’ban (cabang-cabang) adalah waktu, tempat dan kesempatan untuk mencari pahala. Oleh karenanya kita sering menyaksikan di masyarakat kita ada sebuah tradisi yakni “Arwah Jama”yang maksudnya adalah kirim arwah secara bersama-sama dan biasanya mereka bersedekah berupa uang ataupun makanan.

Orang bersedekah berupa makanan menurut Kanjeng Sunan Kalijaga biasanya terdiri dari 4 (empat) jenis, yaitu : Khotho’an (ketan), Afwan (apem), Fashum (pasung), dan Ghodan (gedang). Maksudnya adalah dosa dan kesalahan berharap mendapatkan ampunan dengan berpuasa besok pagi harinya. Oleh karenanya jika kita bersedekah untuk keluarga kita yang telah wafat maka pahalanya akan sampai kepada orang tersebut. Namun bagi mereka yang belum membaca hadistnya maka akan mengatakan tidak sampai karena tidak ada sumber dasarnya. Padahal dasarnya terdapat di kitab Shahihul Muslim juz 3 hal 73 yang menyebutkan :

“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasul, dia berkata : Ya Rasul, sesungguh- nya ayahku telah wafat dan telah meninggalkan harta, ketika ayahku wafat beliau tidak meninggalkan wasiat atau tidak pesan apa-apa. Apakah harta peninggalan ayahku tadi jika aku sedekahkan orang pahalamnya bisa menutup dosa ayahku ? Jawab Rasul : Na’am (ya) bisa”.

Demikian tulisan yang singkat ini, semoga menambah pengalaman kita dan semakin membuat kita ingat akan mati serta makin bertambah iman kita kepada Allah swt. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

*) Drs. KH. Abdul Hamid Syuyuthi; Muballigh dari Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved