MENYIKAPI SEBUAH KEMATIAN Oleh : Drs. H. Musman Tholib, M.Ag. *)

Marilah kita persembahkan puji syukur ke hadirat Allah swt atas segala karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga, yang dengan nikmat-nikmat itu marilah kita syukuri dengan senantiasa memperbaiki dan meningkatkan ibadah kita ke hadirat Allah swt. Hanya dengan sungguh-sungguh beribadah sesuai dengan syariat-Nya itulah upaya untuk memupuk dan meningkatkan ketakwaan kita.

Allah swt menegaskan bahwa “kullu nafsin dza’iqatul maut” (setiap jiwa pasti merasakan mati), tentunya juga kita semua. Kemudian bagaimana kita harus menyikapinya tentang kematian itu. Mari kita perhatikan firman Allah sebagai berikut :

“Artinya : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk/67 : 2)

Teranglah bahwa Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup, tentu timbul pertanyaan mengapa di dalam ayat ini maut yang disebut dulu baru kemudian disebut hayat ?. Mengapa mati disebut terlebih dahulu, sesudah itu baru disebut hidup ? Padahal manusia hidup dahulu sebelum mati. Tujuannya ialah member peringatan kepada manusia bahwa hidup ini tidak berhenti di dunia saja. Ini adalah peringatan kepada manusia agar mereka insaf akan mati di samping dia terpesona oleh hidup. Banyak manusia lupa akan mati bahkan takut menghadapi maut karena hatinya terikat kepada dunia. Berkenaan dengan ayat peringatan mati di samping hidup inilah Ibu Hatim merawikan sebuah hadist dari Qotadah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan maut dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian negeri itu untuk mati dan Dia jadikan negeri akhirat untuk menerima ganjaran dan negeri yang kekal”. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Hadirin Jamaah Jum’ah Rohimakumullah

Dengan demikian, asal kita lahir ke dunia sudahlah berarti bahwa kita pasti akan mati. Di antara waktu hidup dan mati itulah kita anak Adam menentukan nilai diri sebagaimana ditegaskan ayat kelanjutannya :

Artinya : “……supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…”. (QS. Al Mulk/67 : 2)

Maka di antara hidup dan mati itulah kita mempertinggi amalan diri, berbuat amalan yang lebih baik atau yang berkwalitas/yang bermutu. Yang dikehendaki Allah adalah “ahsanu ‘amalan” (amalan yang lebih baik) biarpun sedikit tetapi berkwalitas, bukan amalan yang banyak tetapi tidak bermutu.

Dengan menonjolkan terlebih dahulu sifat Allah “Al Aziz” (Yang Maha Perkasa) dijelaskan bahwa Allah tidak boleh dipermain-mainkan. Di hadapan Allah tidak boleh beramal separo hati ataupun ragu-ragu, melainkan berjalan dengan sungguh-sungguh, hati-hati, dan penuh disiplin. Karena jika tidak demikian, maka Allah swt akan murka. Tetapi Allah swt mempunyai sifat “Al Ghofur” (Maha Pengampun) atas hamba-hambaNya yang tidak sengaja hendak melanggar hukum Tuhannya dan selalu berniat hendak berbuat amalan yang lebih baik namun tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk mencapai yang lebih baik itu. Pada waktu itulah Tuhan menunjukkan belas kasih-Nya, karena Allah tidak memberati seseorang kecuali sekedar kesanggupan yang ada padanya. Firman Allah yang berbunyi :

ŸArtinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al Baqarah/2 : 286)

 Selanjutnya mari kita perhatikan pesan Ibnu Mas’ud :

Saudara-saudaraku; Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidak harus tua. Jangan terpedaya oleh tubuh sehat, karena syarat mati tidak mesti sakit. Jangan terpedaya dengan harta kekayaan, sebab si kaya tidak pernah menyiapkan kain kafan buat dirinya meski Cuma selembar. Mari terus berbuat baik, berniat baik, berkata baik, member nasehat yang baik meskipun banyak yang tidak mengenalimu dan tidak suka dengan nasehatmu. Cukuplah Allah yang mengenalimu lebih dari yang lain. Jadilah bagai jantung yang tidak terlihat tetapi terus berdenyut setiap saat hingga kita terus dapat hidup, berkarya dan menebar manfaat bagi sekeliling kita sapai di perhentikan oleh-Nya. Harta yang banyak, status social yang tinggi, jabatan yang tinggi tidak dilihat oleh Allah Ta’ala bila hanya akan menjauhkan diri dari ibadah kepada-Nya.

Saudara-saudaraku. Waktu yang kusesali adalah jika pagi hingga matahari terbenam amalku tidak bertambah sedikitpun, padahal aku tahu saat ini umurku berkurang. (Ibnu Mas’ud).

 Seorang Penyair Arab mengatakan yang artinya : “Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang cerdik, yaitu yang tidak mementingkan/tidak terlena masalah dunia karena mereka takut fitnah. Mereka sangat berhati-hati terhadap dunia, kemudian ketika mereka mengerti bahwa dunia bukanlah tempat tinggal untuk hidup selama-lamanya. Kemudian mereka menganggap dunia ini bak samudera dan mereka menjadikan amal-amal salih sebagai sampan/perahu untuk mengarungi”.

Untuk mengisi waktu hidup sampai menjelang mati, kita mengambik i’tibar dari sikap ulama besar bernama Hasan Bisri tatkala ditanya apa rahasia zuhudnya dan ketaatan dalam beribadah di dunia ini :

  1. Aku tahu rizqiku tidak akan diambil oleh orang lain, karena itu hatiku selalu tenang;
  2. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, karena itu ikutlah aku sibuk beramal salih;
  3. Aku tahu bahwa Allah swt selalu memperhatikanku, karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang dalam kemaksiyatan;
  4. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.

 Demikian pula kita mengambil i’tibar dari sikap Sufyan Atsauri di kala di Masjidil Haram menangis sepanjang malam, kemudian ditanya oleh sahabatnya : “Apa gerangan anda menangis sepanjang malam, apakah anda berbuat dosa atau berbuat maksiyat ?. Kemudian Sufyan Atsauri menjawab : Tidak sahabatku, yang menyebabkan aku menangis karena aku teringat guru besar yang telah mengajar 40 (empat puluh) tahun dengan tekun, tetapi na’udzubillah di saat wafatnya tidak membawa iman. Itulah yang aku takuti kalau sampai matiku dalam keadaan su’ul khatimah/tidak khusnul khatimah”.

Alangkah indahnya dan harapan kita dengan doa berikut ini : “Ya Allah, jadikanlah sebagus-bagusnya umurku penghabisnya, dan sebagus-bagus amalku penutupnya, sebagus-bagusnya hariku hari saat perjumpaanku dengan-Mu. Ya Allah yang mengendalikan Islam dan pemeluknya, teguhkanlah/mantapkanlah imanku sehingga perjumpaan dengan-Mu”. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****