MENYAMBUT KEDATANG BULAN SUCI RAMADHAN Oleh Prof. Dr. Suparman Syukur, MA.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ

يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ(19)مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي

حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

(الشورى: 20)

(Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba- Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungandi dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat).

Pada surat al-Syura ayat 20 dan 21 itu Allah menunjukkan Zat kasih sayangNya kepada seluruh makhluk terutama bagi manusia. Ia memberi rizki kepada siapapun makhlukNya yang benar-menghendakinya. Allah juga memberikan kebebasan kepada ummat manusia untuk melakukan amalan ibadahnya sepanjang masa dan apalagi menjelag bulan suci Ramadhan. Hal seperti Nampak sekali pada penamaan bulan ini dengan nama Sya’ban. Artinya, secara etimologis ia berasal dari kata sya’uba – yasy’ubu – sya’banan, yang berarti “berhimpitan” karena terlalu penuh dengan sesuatu kebaikan. Dengan demikian bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang baik sekali sebagai persiapan masuk ke bulan Ramadhan. Persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan sangat baik melakukan dan meningkatkan berbagai ibadah, seperti dzikir, berdoa, membaca al-Quran, bersedekah dan lain sebagainya.

Kenyataan itu bagi setiap muslim tentu merupakan hal yang sangat menggembirakan, mengapa demikian, karena seorang muslim yang salih akan selalu menanti kedatang bulan suci Ramadhan, karena bulan itu bulan suci yang penuh rahmat, berkah dan maghfirah. Itulah sebabnya umat Islam selalu berdo’a: Allahumma bariklana fi rajaba wa barik lana fi Sya’bana wa Ballighna Ramadan (Ya Allah berkahilah amalan kami pada bulan Rajab, dan juga berkahilah amalan kami pada bulan Sya’ban dan berilah kami kesempatan untuk memasuki bulan suci Ramadhan).

Begitu besarnya harapan seorang muslim atas kedatangan bulan suci Ramadhan, maka umat Islam Indonesia di berbagai belahan daerah mempersiapkan dengan menyambut kedatangan bulan suci itu dengan berbagai amalan, baik amalan yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam, dan atau amalan yang dilakukannya secara tradisional sesuai dengan kearifan lokal sepanjang amalan itu tidak bertentangan dengan syaria’ah. Dengan demikian umat Islam sangat berharap bahwa bulan yang dinantikan itu benar-benar benar membawa perubahan bagi kehidupan mereka. Harapan positivisme semacam itu menyebabkan umat Islam sangat berhati-hati dalam mempersiapkan dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang dihadapinya sebelum masuk bulan suci Ramadhan itu.

Permasalahan yang hendak diselesaikannya itu sanyat terkait dengan dirinya, seperti amalan apakah
yang mereka lalukan demi mendapatkan kerahmatan yang diinginkannya. Ada hal lain juga yang mereka gelisahkan, manakala ada amalan puasa di bulan Ramadhan pada tahun sebelumnya belum
diselesaikannya. Itulah beberapa hal yang akan diselesaikan pada tulisan berikut ini.

Permasalahan
1. Menjelang Ramadhan, sering kali orang melakukan berbagai hal dan terutama pada malam nisfu sya’ban dengan berbagai do’a dan amalan2 yang lain

2. Ada seseorang yang tidak berpuasa bertahun-tahun, sedangkan ia tidak sakit, tidak lupa, dan tidak pula inkar terhadap kewajiban menjalankan puasa dan bahkan dia mengakui kewajiban puasa bagi seorang yang baligh, sehat dan berakal. Seseorang tadi tidak puasa karena lemah jiwanya syahwatnya yang terlalu berlebihan.

3. Tahun ini dia puasa, lalu bagaimana dengan puasa yang bertahun-tahun ditinggalkannya? Apakah dia harus berpuasa 300 hari karena yang ditinggalkan adalah 10 tahun; atau harus dengan kafarat untuk menebusnya?;

Pembahasan

Jika diperhatikan beberapa hadith yang menyatakan adanya beberapa amalan pada bulan Sya’ban, maka amalan untuk berdo’ dan berzikir serta meningkatkan membaca al-Quran dan bersedekah adalah amalan-amalan yang baik sekali dilakukan pada bulan Sya’ban.

Salah satu hadith berbunyi yang menerangkan keterangan tentang malam nisfu sya’ban adalah:
إن الله تعالى يتجلى فيها على عباده ويستجيب دعاءكم الا بعض العصاة
Sesungguhnya Allah Ta’ala menampakkan diri pada malam nisfu sya’ban kepada hamba- hambaNya serta mengabulkan do’a mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.
Do’a yang diucapkan adalah:

Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisiMu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, terhalang, terusir, atau sempit rizki, maka hapuskanlah dengan karuniaMu semuanya itu. Tetapkanlah aku di sisimu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya. Sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firmanMu adalah benar, di dalam kitabMu yang Engkau turunkan dan melalui lisan RasulMu yang Engkau utus (Allah menghapuskan apa-apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisiNyalah terdapat Ummul Kitab)

Analisis
Jika diperhatikan lebih lanjut terkait dengan doa tersebut, tentu kita menyadari bahwa doa
tersebut mengandung beberapa hal yang harus dicermati lebih lajut:

1. Kita mendapatkan kejanggalan susunan kalimat dalam doa tersebut, akan tetapi karena logika bhs Arab sering berbeda dengan logika Bahasa Indonesia, maka berdoa dengan memohon kebaikan kepada Allah adalah hal yang dibolehkan.

2. Terdapat keraguan dalam berdo’a, Rasulullah bersabda : إذا سألتم الله فاجزموا فى المسألة

Tentu orang yang sedang berdoa harus meyakini sepenuhnya bahwa doanya itu akan dikabulkan Allah. Oleh karena itu berdoalah pada malam-malam nisfu Sya’ban dengan penuh kekhusyukan dan perasaan optimis atas jawaban Allah.

والحق ان المؤمنين إذا استغل فى تلك الليلة الخاصة بأنواع العبادات من الصلاة والتلاوة والذكر والدعاء

يجوز ولا يكرة. (عثمان بن حسن بن أحمد الشاكر الخوبوي، درة الناصحين: 219-210)

(Hal yang hak adalah bahwa setiap orang beriman jika melakukan hal-hal yang baik seperti salah sunnah, membaca al-Quran, dzikir dan doa adalah hal yang baik).

Qadla Ramadhan

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 193)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(البقرة: 184)

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ

مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ

وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: 185)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Penyelesaian

Selama orang tadi masih mengakui bahwa puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap muslim yang sudah baligh, berakal yang tidak mempunyai uzur, berkeyakinan bahwa puasa adalah rukun Islam yang keempat dan tidak mengingkarinya, ia masih mau melaksanakan salat, maka kita tidak boleh mengatakan ia telah kafir dan sekarang “kembali masuk Islam”.

Hal itu bisa didasarkan pada firman Allah al-Anfal: 38) sebagai berikut;

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”;.Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”;.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

(الأنفال: 39)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Dengan demikian berbagai amalah Nisfu Sya’an perlu diperhatikan untuk dijauhkan dari amalan yang bertentangan dengan syariah, sedangkan berbagai amalan yang baik (sesuai dengan kearifan lokal) dan tidak bersifat syirik adalah dibolehkan, karena hal itu menunjukkan tuntutan sosiologis yang tidak ada kaitannya langsung dengan keyakinan keagamaan. Hal lain yang sangat penting untuk diperhatikan sebelaum memasuki bulan Ramadhan adalah meengkodho kewajiban puasa yang ditinggalkannya pada tahun sebelumnya, karena puasa bagi seorang muslim tidak bisa ditinggalkan. Hadith Rasulullah SAW, dalam kitab Lu’luk wa al-Marjan disebutkan:

فدين الله أحق أن يقضى (رواه البخارى و المسلم)

Utang kepada Allah (mengkodho puassa Ramadhan) lebih utama untuk dibayar. Akhirnya kita selalu berusaha untuk mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan sebaik-baiknya, semoga Allah memberi kemudahan bagi setiap muslim dalam menjalankan ibadah puasa dan kelah Allah memberinya rahmat, maghfirah dan pengampunan dari segala dosan, amin, wassalam.