MENUJU HAYATAN THOYYIBAH Oleh : KHM. Syarofuddin Husein *)


Untuk mewujudkan dan melanggengkan takwa kita kepada Allah Swt itu kebanyakan orang berpendapat, hal itu harus ditopang dengan hayatan thoyyibah (hidup bahagia). Yang dimaksud hidup bahagia adalah kehidupan dunia ini yang serba kecukupan segala-galanya dan ini sudah diisyaratkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya yang artinya :

“Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a : Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”. (QS. Al Baqarah/ 2 : 200)
Dengan peringatan Allah Swt tersebut, sebagaimana kita ketahui di tengah-tengah masyarakat kita sekarang ini, pola pikir sudah berubah demi memenuhi kebutuhan mereka, karena kita telah disuguhi dengan segala kebutuhan hidup yang serba bergengsi, maka banyak dari mereka yang kena penyakit gengsi (Al Khaya’u min asy syaithan). Orang-orang kecil karena gengsi sudah tidak tahan lagi dengan kekerean itu, akhirnya untuk menuruti gengsinya banyak yang memilih jalan pintas dengan cara mencuri, menjambret, nodong, begal, merampok dan lain-lain.
Orang-orang golongan menengah karena merasakan sulitnya putaran ekonomi, juga memilih jalan pintas dengan cara penipuan dengan segala cara, seperti : investasi, tanam modal bodong, gayanya agamis biro perjalanan umroh, memakai narkoba, ganja, morfin, dan lain-lain.
Untuk orang-orang gedean, papan atas, karena keserakahannya terhadap dunia dan karena kena penyakit gengsi pula akhirnya juga memilih jalan pintas berupa : pungli, korupsi, manipulasi dan lain-lain. Dan lebih parah lagi karena memang sudah parah penyakit yang ada di masyarakat kita, sehingga ada istilah penyakit masyarakat (pekat). Baru saja kita disuguhi berita, ada orang yang dapat menggandakan uang, baru berapa tahun sudah ada + 20.000 orang tergiur dan tertipu dengan rayuan dan janji-janjinya, bahkan ada satu orang yang katanya sudah menyerahkan + 300 Milyard dan jika dikalikan 20.000 orang berapa uang yang telah diperoleh, namun alhamdulillah Allah Swt telah membongkar penipuan tersebut.
Oleh karena itu, mulai sekarang buanglah jauh-jauh penyakit gengsi . Untuk mengobati penyakit tersebut maka solusinya sangat mudah, sebagaimana ada tulisan di bak truk yang berbunyi : “Nuruti gengsi mara’i darah tinggi, nuruti gengsi cepet mati”. Di samping itu mari kita ingat pesan Allah Swt dalam firman-Nya yang artinya :
“Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Kemudian mari kita mengintip apa sebenarnya yang dimaksud ayat tersebut di atas. Syekh Imam An Nawawi Banten dalam Tafsir Munirnya (juz awal hal 53), beliau memberi penjelasan tentang “khasanah fid dunya”, yaitu : Ilmu manfaat, ibadah yang diterima, dijaga dari melakukan dosa, mati syahid berjuang di jalan Allah, mendapat harta rampasan yang halal, diberi sehat wal afiat, cukup rizki, dan mendapat petunjuk untuk kebaikan”.
Wafil akhirati khasanah yaitu kenikmatan surga, kemudian masih ditutup dengan waqinaa adzaaban naar (semoga dijaga dari sengatan api neraka).
Setelah kita memahami dan meyakini dari isi kandungan ayat di atas, bahwa hidup di dunia ini garis besarnya ada 2 (dua) golongan :
1) Golongan yang hanya memikirkan dan meyakini bahwa kebahagiaan itu hanya di dunia saja, tidak ada urusan dengan akhirat;
2) Golongan yang kedua mengakui dan meyakini bahwa kebahagiaan itu adalah ada di dunia ini hingga sampai di akhirat.
Jumlah umat Islam di dunia ini konon beritanya hanya 1,5 milyard dari penduduk dunia, inipun belum tentu sudah memutuskan putusannya kepada golongan mana ? I atau II, akhirnya dihadapkan dengan kedua pilihan Allah tersebut di atas. Kelihatannya jawabannya golongan II tetapi perilakunya kurang Islami, mobilnya Al Fatihah tetapi pelit dan meditnya na’udzubillah. Jika di dalam lubuk hati kita ingin memilih pilihan Allah untuk bergabung golongan yang ke-II (dua), maka Allah Swt masih memberi waktu berfikir dengan akal sehat, sebagaimana firman-Nya :
“Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl/16 : 97)
Semua orang Islam seharusnya percaya dengan sepenuh hati atas apa yang terkandung dalam kitab suci Al Qur’an jika ingin mendapatkan kehidupan yang bahagia (hayatan thoyyibah), namun jika masih tidak masuk dalam hati kita dipersilahkan mencari kitab suci yang lain.
Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

—————————————–
*) KHM. Syarofuddin Husein; Pengasuh Pondok Pesantren SYAROFUL MILLAH Pedurungan Lor Penggaron Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved