MENJALANKAN SHALAT YANG BERKWALITAS Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal             08 Maret 2013 M / 25 Rabiul Akhir 1434 H

 

MENJALANKAN SHALAT

YANG BERKWALITAS

Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. *)

Alhamdulillah wa al-syukru lillah, marilah segala puji dan syukur senantiasa kita tingkatkan ke hadirat Allah swt, hanya atas limpahan kasih sayang dan pertolongan-Nya semata. Kenikmatan yang paling berharga, adalah nikmat Iman dan Islam. Demikian juga nikmat sehat wal ‘afiat, lahir dan batin. Namun demikian, fisik dan jasmani yang sehat, akan mubadzir dan sia-sia, manakala tanpa disertai ruh dan spirit iman dan takwa kepada Allah swt. Oleh karena itu, marilah kita tidak henti-hentinya untuk berikhtiar meningkatkan iman dan takwa kita sebagai bekal hidup di masa depan.

Salawat dan salam, marilah kita senandungkan pada tokoh panutan kita, Rasulullah Muhammad saw. Semoga kasih sayang Allah akan meluber pada kita, sebagai pecinta dan pengikut beliau. Amin.

Sengaja saya mengutip QS. Al Mu’minun/23 : 1-2 dan QS. Al Baqarah/2 : 46 dengan tujuan agar kita dapat mengambil pelajaran berharga bagaimana kita berusaha menjaga dan menghunjamkan dalam-dalam ke dalam hati kita, agar iman tersebut tidak terancam virus-virus materialism, hedonism, dan pragmatisme yang setiap saat dapat tercerabut dari hati (qalbu) kita. Itu harus dipupuk dengan menjalankan shalat dan memeliharanya, agar kita sebagai hamba tidak pernah putus komunikasi dengan Allah swt yang telah menciptakan dan memelihara kita. Ayat tersebut berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, (QS. AlMu’minun/23 : 1-2)

Adapun firman Allah surat Al Baqarah/2 : 46 berbunyi :

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.

Ayat tersebut menegaskan kepada kita, bahwa sungguh berbahagia orang-orang yang apabila menjalankan shalat dia khusyu’, mereka itu yakin bahwa dengan shalat tersebut, dia “menemui” Tuhannya, Allah swt, yang telah menciptakan, memelihara, dan insya-Allah juga akan menjumpai kita di akhirat kelak.

Apalagi Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya yang artinya :

“Amal-amal yang pertama-tama akan ditanyakan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya di hari kiamat nanti adalah shalat. Apabila shalatnya diterima, maka akan diterima seluruh amalnya, dan apabila shalatnya ditolak, maka ditolak seluruh amalan lainnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dari Tamim al-Dary).

Bagaimana kita dapat memelihara shalat kita agar berkualitas, menghasilkan kekhusyu’an, sehingga akan menjadi modal kita untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Ada beberapa langkah yang harus kita penuhi, antara lain :

Pertama; marilah kita jadikan shalat kita sebagai media yang akan menolong kita. Karena melalui shalat kita sebagai hamba, sedang sangat-sangat membutuhkan pertolongan Allah swt.  Karena itu kita musti menata niat kita dengan penuh kejujuran, keikhlasan, kita jadikan sebagai kebutuhan kita. Shalat tidaklah sekedar kewajiban, tetapi shalat itu adalah komunikasi kita dengan Allah tanpa ada sekat apapun, kecuali sekat yang membalut dan mengotori hati dan pikiran kita sendiri. QS. Al Baqarah/2 : 45 yang berbunyi :

Artinya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.

Dan QS. Al Baqarah/2 : 153 yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Kedua; marilah kita laksanakan shalat dengan penuh kesabaran dan ketawadluan. Dalam shalat, kita sedang menghadap Allah swt. Karena itu, kita musti menjaga kesopanan dan kerendahhatian di dalam menjalankan semua tahapan shalat, sejak dari takbiratul ihram sampai selesai salam. Rasulullah saw bersabda yang artinya :

“Apabila kamu berdiri shalat, bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sehingga thuma’ninah dalam keadaan ruku’, kemudian bangkitlah sehingga i’tidal dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah sehingga thuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah sehingga thuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian sujudlah sehingga thuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian berbuat demikian dalam semua shalatmu”. (HR. AlBukhari, Muslim, dan Ahmad).

Jika Rasulullah saw menunjukkan tata cara chalet dengan detail seperti hadits tersebut, boleh jadi beliau telah memprediksi, kelak umatnya akan banyak mengerjakan shalat, tetapi yang didapat hanyalah lelah dan capek. Beliau menegaskan dalam sabdanya yang artinya :

“Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah”. (HR. Abu Dawud).

Sabda Rasulullah saw yang artinya :

Akan datang suatu masa atas manusia, mereka mengerjakan shalat namun pada hakikatnya mereka tidak shalat”. (HR. Ahmad).

Implikasi dari shalat yang dilaksanakan, selain hanya mendapatkan capek, lelah, dan boleh jadi rasa jenuh, Rasulullah saw mengingatkan melalui sabdanya yang artinya :

“Kehilangan atau tercecer yang pertama dari agamamu adalah amanat, dan yang terakhir adalah shalat. (Akan terjadi) orang-orang mengerjakan shalat, sedang mereka tidak berakhlak”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah). 

Allah swt menegaskan dalam QS. Al Ankabut/29 : 45 yang berbunyi :

Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa apabila ternyata shalat yang kita kerjakan tidak mampu menjadi benteng untuk menghadang diri kita dari berbuahat keji dan mungkar, maka itu pertanda bahwa shalat yang kita laksanakan belumlah membawa hasil.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa kenikmatan iman dan Islam adalah kenikmatan yang luar biasa besarnya. Shalat yang kita laksanakan, kelak akan menjadi barometer ibadah kita kepada Allah, dan akan ditanyakan pertama kali di akhirat kelak. Karena itu, marilah kita jaga dengan membiasakan diri mengerjakan shalat dengan niat yang tulus, ikhlas, sabar, dan melaksanakannya dengan kekhusyu’an, ketawadhuan, dan thuma’ninah, kita pupuk dengan memperbanyak dzikir kepada Allah swt, mendengar ayat-ayat suci firman-Nya, insya-Allah dengan demikian, akan dapat menghasilkan ketenangan, kenyamanan, dan kesejatian makna hidup kita di dunia dan mampu menjadi benteng bagi diri kita dari jebakan kemaksiyatan. Pada akhirnya kita mampu memahami bahwa arti dan keberadaan kita sebagai hamba Allah, sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini, dan akan memberi nilai serta keberkahan hidup. Insya-Allah sebagaimana janji-Nya, kita akan mendapat derajat yang tinggi dari Allah, pengampunan, dan rizki pemberian-Nya makin bertambah lagi berkah.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin. Allah a’lam bi al-shawab. *****

 

=================================

*) Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA.; Guru Besar Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, Sekretaris Umum MUI Jawa Tengah & Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah