MEMAKNAI ISRA’ MI’RAJ DALAM KONTEKS KEHIDUPAN SOSIAL Oleh : Drs. H.Mohamamad Ahyani, M.SI.*)

 

Tanpa terasa saat ini kita telah berada di bulan Rajab, bulan yang di dalamnya terdapat sebuah peristiwa maha penting dalam catatan sejarah peradaban umat manusia, yakni peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW 1400-an tahun yang silam. Isra’ Mi’raj merupakan sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, di mana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan tetap aktual dan abadi sepanjang zaman. Oleh karenanya, adalah hal yang wajar jika kemudian setiap tanggal 27 Rajab peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini selalu diperingati oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, dan dijadikan momentum untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai penting di dalamnya.

Paling tidak ada 4 (empat) nilai fundamental yang sangat penting untuk kita maknai dari peristiwa Isra Mi’raj tersebut, yakni :

Pertama; peristiwa Isra’ yang berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Peristiwa itu memberikan isyarat kepada kita bahwa manusia perlu membangun komunikasi sosial yang baik. Peristiwa Isra’ adalah perjalanan Nabi SAW bersifat horizontal dari wilayah bumi yang satu ke wilayah bumi lainnya yang disimbolkan dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Maka, masjid yang merupakan simbol pusat kegiatan keagamaan umat Islam, harus pula ditransformasikan nilai-nilainya di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan secara nyata. Umat Islam harus mampu membangun relasi sosial (hablun min annas) yang rukun dan harmonis di tengah-tengah kehidupannya.

Dengan kata lain, kwalitas iman seseorang tidak cukup hanya diukur ketia ia berada di dalam masjid, akan tetapi bagaimana nilai-nilai ibadah dan kehusyu’an yang telah dilakukan-nya di dalam masjid itu, diwujudkan pula di luar masjid, yakni ketika berada di lingkungan kerja maupun di tengah-tengah masyarakatnya. Inilah yang disebut dengan kesalehan sosial. Sebab tidak jarang sewaktu berada di dalam masjid seseorang tampak khusyu’ beribadah, namun begitu keluar masjid nilai-nilai kekhusyu’an ibadahnya itu ia tinggalkan. Akibatnya, di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakatnya ia masih kerap melakukan perilaku-perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai ibadah yang telah dilakukan-nya. Model beragama seperti itu jelas merupakan wujud kebaragaman yang semu, sebab salah satu wujud keberagaman yang hakiki ditandai dengan kemampuan seseorang menjalin komunikasi dan interaksi sosial yang baik dengan sesamanya, sesuai dengan akhlak-akhlak luhur yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (Khoirunnas anfa’uhum linnas).

Disamping itu, peristiwa Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha juga memberi isyarat bahwa mestinya antara satu masjid dengan masjid lainnya harus ada sinergi atau kerjasama yang harmonis dalam membangun kegiatan dakwah dan pendidikan keagamaan kepada masyarakat secara luas. Jangan sampai masjid justru hanya dijadikan sebagai ajang untuk membentuk ideologi sektoral secara eksklusif dan sempit, yang justru merusak jalinan ukhuwah antar umat Islam. Misalnya, dengan mudah orang lalu mengkafirkan atau mem-bid’ahkan kelompok lain yang berbeda, apalagi masjid lalu dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan ideologi politik “ke-Islaman sempit”.

Kedua; Peristiwa Mi’raj di mana Nabi SAW dari Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratil Muntaha berjumpa dengan Allah SWT. Perjalanan spiritual ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya harus melakukan upaya “transedensi”, yakni mendekatkan diri kepada Tuhannya yakni Allah SWT sehingga terhindar dari jebakan-jebakan materi duniawi yang seringkali membuat manusia kalap dan lupa diri, hingga berani melakukan tindakan-tindakan penyelewengan ataupun pelanggaran hukum yang banyak merugikan orang lain.

Nilai-nilai kejujuran harus terus ditegakkan untuk melawan segala bentuk de-moralisasi. Kita tentunya sangat prihatin dan sedih ketika kejujuran tidak lagi dianggap penting. Kita mungkin saja bisa membohongi puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang, namun kita tidak akan bisa membohongi hati nurani kita sendiri, apalagi membohongi Allah SWT.

Ketiga; dalam peristiwa Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratil Muntaha, Nabi SAW berjumpa langsung dengan Allah SWT. Ini merupakan puncak pengalaman spiritual sekaligus nikmat yang sangat indah dan tak tertandingi oleh nikmat-nikmat apapun. Namun, di sinilah nampak sifat keluhuran dan keluar biasaan Rasulullah SAW dimana setelah bertemu dengan Tuhannya yakni Allah SWT, beliau justru masih mau turun lagi ke dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Allah demi keselamatan umatnya. Seandainya Nabi SAW adalah orang yang sangat egois dan hanya memikirkan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri, niscaya beliau enggan untuk turun lagi ke dunia. Itulah cermin bahwa beliau adalah seorang manusia paripurna, yang tidak hanya berpredikat shalih(berkepribadian baik secara personal), tetapi juga seorang mushlih(menjadikan orang lain menjadi baik).

Peristiwa ini mengandung pelajaran yang sangat penting bahwa kita tidak boleh terjebak pada kesalihan ritual spiritual yang bersifat personal semata. Sebab kesalihan yang sejati adalah manakala seseorang bisa membangun relasi yang harmonis dan seimbang, baik antara dirinya dengan Tuhannya (hablun min Allah),antara dirinya dengan sesamanya (hablun min annas), maupun antara dirinya dengan alam dan lingkungan sekitarnya (hablun ma’a al bi’ah).

Keempat; dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi SAW mendapat perintah yang sangat penting berupa perintah shalat. Sedemikian pentingnya shalat, sehingga perintah itu diterima langsung oleh Nabi tanpa melalui perantara Malaikat Jibril. “Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat berarti ia menegakkan agama, barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia menghancurkan agama”.Demikian sabda Nabi.

Namun hal yang sesungguhnya paling penting adalah bagaimana kita menjiwai dan menerapkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam ritual shalat tersebut. Jangan sampai kita memahami shalat hanya sebatas “rutinitas”dan “seremonial”  belaka tanpa memahami makna apa-apa di dalamnya. Al Qur’an mengkritik orang-orang yang melakukan shalat sebagai “pendusta agama” dan bahkan dianggap celaka manakala mereka melalaikan atau tidak melaksanakan pesan-pesan moral yang terkandung di balik shalat yang dilakukannya (sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Maa’uun/107 : 3-4).

Shalat mengajarkan kita akan pentingnya disiplin dan menghargai waktu. Maka, salah satu ciri dari kwalitas shalat seseorang adalah sejauh mana ia disiplin dan menghargai waktu, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Di dalam shalat juga terkandung pesan ke-tawadhu’-an (rendah hati), sebab betapa di dalam shalat kita rela meletakkan kepala kita yang merupakan mahkota atau anggota tubuh yang paling mulia, merunduk ke tempat sujud sejajar dengan kaki kita. Maka kesombongan dan sikap kesewenang-wenangan jelas bukanlah sifat orang yang baik shalatnya.

Shalat juga mengajarkan kita akan pentingnya menebarkan nilai-nilai kedamaian, keharmonisan, dan persaudaraan. Karena, bukankah setiap kali kita mengakhiri shalat, kita selalu mengucapkan salam (Assalamu ‘alaikum warahmatullah) sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Maka indikator lain dari orang yang baik shalatnya adalah ia senantiasa menebarkan rasa kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang di tengah-tengah masyarakatnya. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan berbagai pelajaran penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj serta betul-betul mengaktualisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat secara nyata. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. *****

————————————–

*) Drs. H.Mohammad Ahyani, M.SI.;Kepala Bidang Pendidikan Diniyah&Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved