Memahami Karakteristik islam Oleh : Ateng Chozany Miftah

Dalam hadits hasan riwayat ar-Rawiyani, ad- Daruquthni, al-Baihaqi, adh-Dhiya, Rasulullah SAW bersabda : “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”.
Sebagai seorang Muslim, mestinya tergugah dan terdorong oleh sabda Rasulullah tersebut untuk mencari tahu dan menyimak di mana letak kelebihan Islam yang tidak mungkin ada yang bisa melebihinya tersebut.
Sangat banyak dan maha luas kelebihan-kelebihan Islam dalam banyak aspek yang harus kita ketahui dan kita yakini. Akar keseluruhan nilai-nilai kelebihan Islam, berkaitan dengan diturunkannya Islam untuk membawa rahmat bagi tata kehidupan alam semesta (rahmatan lil-‘aalamiin).
“Dan tiadalah kami mengutus kamu (dengan membawa risalah Islam), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS : Al-Ambiyaa : 107).
Salah satu aspek yang membuat Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, diantaranya berkaitan dengan “Karakteristik Islam”. Berikut kita simak beberapa diantara karakteristik Islam antara lain:
Rabbaaniyah
Islam merupakan agama yang datang atau diturunkan dari Rabb (Allah). Islam bukan hasil pemikiran, rekayasa atau keputusan manusia, termasuk Rasulullah SAW. Beliau hanya sebagai penerima dari Allah dan menyampaikannya kepada ummat manusia.
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Hai Rasul, sampaikanlah wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika kamu tidak mengerjahkan (apa yang diperintahkan kepadamu itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67)
Dengan demikian segala ketentuan dan bagaimana pokok-pokok tata cara menjalankan ke-Islaman telah ditentukan oleh Allah. Itulah yang disebut dengan Syari’at.
“Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari’at tertentu yang (harus) mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Q:Al-Hajj:67).
Dalam menjalankan ke-Islaman kita harus mengikuti serta tunduk kepada ketentuan-ketentuan dari Allah (Syari’at), baik yang tercantum dalam firman-firman-Nya (Al-Quran) maupun melalui tuntunan Raslullah SAW. Tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi. Sebagai contoh, shalat fardhu itu lima waktu dan telah ditetapkan waktu-waktunya (kitaaban mauquuta). Ketentuan tersebut tidak bisa diubah. Misalnya “Konfrensi Umat Islam Sedunia” menetapkan :” Mengingat kesibukan kehidupan ummat Islam sudah semakin meningkat, maka Konfrensi Ummat Islam Sedunia memutuskan mengubah shalat fardhu dari semula lima kali sehari menjadi cukup tiga kali sehari dengan menghilangkan shalat Dhuhur dan ‘Ashar”. Atau misal yang lain, Takmir Mesjid memutuskan berhubung bertepatan dengan hari Jum’at banyak kegiatan yang tidak bisa ditunda, maka pelaksanaan shalat Jum’at minggu ini dialihkan pada besok hari Sabtu.
Mungkin muncul pertanyaan : “Bagaimana dengan kedudukan hasil ijtihad atau ijma (kesepakatan) para ulama menyangkut amalan-amalan agama, apa itu bukan menambahi Syari’at Allah? Jawabannya : Bukan! Karena hasil ijtihad atau ijma ‘Ulama tidak menambah Syari’at, melainkan hanya dalam rangka menafsirkan atau menterjemahkan dan menjabarkan Syari’at itu sendiri. Hal tersebut tidak berada di wilayah pokok-pokok Syari’at, melainkan berada pada masalah teknis atau tata cara menjalankan Syari’at sesuai dengan yang dituntunkan oleh rasulullah SAW, dengan basis referensi kajian-kajian terhadap Hadits.
Insaniyah
Maksudnya Syari’at Islam itu sangat-sangat manusiawi atau sesuai dengan fitrah manusia. Keseluruhan Syari’at Islam dijamin sepenuhnya secara fisik dan teknis dapat dilaksanakan oleh siapapun manusianya. Tidak ada satupun ajaran Islam yang secara fisik dan teknis tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh manusia (bertentangan dengan fithrah manusia). Atau kalau dilaksanakan akan menimbulkan efek-efek negatif bagi kehidupan manusia.
Beberapa illustrasi bisa kita kemukakan. Tidak ada ceritanya orang cedera atau lumpuh gara-gara rajin mengamalkan shalat lima waktu, bahkan banyak advis kedokteran yang menghubungkan gerakan shalat dengan pemeliharaan kesehatan. Tidak ada ceritanya orang yang meninggal dunia mati lemas gara-gara berpuasa, karena puasa menurut Syari’at Islam secara fisik hanya menahan lapar dan dahaga di waktu siang, itupun disunahkan mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Demikian pula tidak ada ceritanya orang yang harta kekayannya habis gara-gara ta’at menunaikan zakat dan rajin bersodakoh, bahkan sebaliknya harta kekayaannya kian bertambah, karena besar porsi zakat cukup hanya 2 ½ % sedangkan sodakoh ketentuanya sesuai kerelaan.
Jaminan bahwa Syari’at Islam itu sangat manusiawi, tersirat dalam firman Allah.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS : Al-Baqarah : 286).
Demikianlah berkaitan dengan karakteristik Islam yang insaniyah ini, maka dengan berbasis keimanan jauhkan diri kita dari mengatakan “aku tidak bisa” ketika kita belum atau tidak menjalankan Syari’at. Ingat bahwa semua Syari’at Islam sudah dijamin oleh Allah secara teknis (fisik) pasti bisa dilaksanakan manusia sesuai dengan batas kemampuan yang diatur dalam ketentuan-ketentuan dari Allah. Kalaupun ada kendala-kendala yang menghalanginya, bukankah Allah sudah mengatur pula bagaimana menjalankan syari’at Islam dalam berbagai kemungkinan kendala.
‘Alamiyah
Syari’at Islam merupakan petunjuk (hudan) bagi seluruh ummat manusia di ‘alam ini, bukan hanya untuk satu kaum atau golongan saja. Syari’at Islam bersifat universal sehingga dapat diterapkan dalam tata kehidupan di setiap bangsa dan negara. Hal ini tersirat dalam penegasan Allah bahwa Al-Quran (sebagai sumber Syari’at Islam) diturunkan sebagai petunjuk (hudan) bagi kehidupan manusia.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS : Al-Baqarah : 185)
Dengan karakter ‘alamiyahnya, pengamalan Syari’at Islam akan sama saja dimanapun dilaksanakannya. Di Arab, Indonesia, Eropa, Amerika, Asia, Afrika atau di mana saja. Hanya saja ketika menyangkut teknis penjabaran pengamalan syari’at, sepanjang tidak diatur secara mutlak (qat’i) dalam syari’at, maka bisa diasimilasikan dengan kondisi atau kultur setempat.
Sebagai contoh: Syari’at Islam mengatur tentang wajibnya menutup aurat, sedangkan bagaimana caranya, bagaimana model pakaiannya, dan lain sebagainya tidak diatur secara mutlak dalam syari’at. Dalam hal seperti ini maka tentang bagaimana model pakaian yang akan digunakan untuk menutup aurat, bisa saja diasimilasikan dengan model pakaian yang berlaku dalam kultur setempat sepanjang memenuhi esensi dasar syari’at menutup aurat. Jadi tidak harus misalnya seperti pakaian orang Arab, karena Islam bukan berarti Arab, tapi Islam adalah seluruh ummat manusia (‘alamiyah). Sebaliknya, kalau memang nyaman dan mantap meniru model pakaian Arab misalnya, atau pakaian China, pakaian orang Barat,pakaian adat Jawa, adat Sunda, adat Sumatera dan sebagainya, itupun sah-sah saja sepanjang sekali lagi memenuhi esensi dasar syari’at menutup aurat.
Contoh lain misalnya, syari’at Islam mengajarkan tentang membaca Al-Quran dengan baik dan benar (tartil). Termasuk di dalamnya tentang makhraj, tajwid dan adabu at-tilawah. Tentang bagaimana melagukan bacaan Al-Quran, syari’at tidak menentukannya. Sepanjang ke-Rasulannya, Rasulullah tidak pernah mengajarkan atau mengharuskan cara melagukan bacaan Al-Quran mutlak harus begini. Bagaimana melagukan bacaan Al-Quran, dapat diasimilasikan dengan kreatifitas seni baca yang tumbuh berkembang dalam kehidupan, sepanjang tidak keluar dari esensi dasar ajaran syari’at tentang baca Al-Quran. Oleh karena itu dalam dunia seni baca Al-Quran (Qiraat), berkembang berbagai lagu contohnya seperti : Syikah, Husaini, Bayati, Waras dan makin ke sini makin banyak lagi.
Tawazun.
Arti dasar kata “tawazun” adalah seimbang. Islam memiliki karakter tawazun, maksudnya bahwa Syari’at Islam mengajarkan kepada ummat manusia prinsip kehidupan berkeseimbangan.
“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu”. (QS : Ar-Rahman : 9).
Basis ajaran prisip keseimbangan dalam Islam secara umum tersirat dalam Al-Quran surat Al-Qashash ayat 77.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.
Dalam ayat tersebut kita bisa menangkap tiga basis prinsip keseimbangan dalam kehidupan yang diajarkan Islam. Pertama, basis keseimbangan menyangkut orientasi kehidupan, yaitu keseimbangan antara orientasi kepada kehidupan dunia dan orientasi kepada kehidupan akhirat. Kedua, basis keseimbangan dalam melakukan interaksi kehidupan dengan sesama manusia. Ketiga, basis keseimbangan dalam melakukan interaksi kehidupan dengan lingkungan alam.
Islam mengajarkan kepada kita agar dalam setiap melakukan aktivitas kehidupan hendaknya jangan lupa untuk selalu menjaga keseimbangan. Kita ambil beberapa illustrasi. Ketika kita sedang berfikir dan berusaha mengejar kehidupan duniawi, janganlah sampai mengabaikan kepentingan kehidupan akhirat. Ketika kita sedang berfikir dan berupaya membangun kesehatan jasmani, jangan lupa berfikir dan berusaha membangun kesehatan rohani. Ketika kita sedang berfikir dan berusaha untuk memenuhi kepentingan diri jangan lupa kemungkinan ada kepentingan orang lain yang harus kita perhatikan dan kita pertimbangkan. Ketika kita berfikir dan berusaha mengekploitasi sumber daya alam, jangan lupa untuk berfikir dan berusaha memelihara dan menjaga kelestariannya. Dan seterusnya.
Mutasamah
Dari kata “tasamuh”yang berarti “toleransi”. Artinya bahwa Islam merupakan agama yang memiliki nilai-nilai toleransi di dalamnya.
Mengingat keterbatasan halamn yang tersedia, maka kupasan tentang bagaimana Nilai-Nilai Toleransi Dalam Islam, kiranya kita kupas dalam tulisan tersendiri sebagai lanjutan dari tulisan ini. Insya Allaah.