MEMAHAMI ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL-‘AALAMIIN Oleh : H. Ateng Chozany Miftah, SE, M.Si.

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَ تُهُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ اَلَّذِي اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ سَيِّدِنَا مُحَمٍّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ رَحْمَةً لِى الْعلَمِيْنَ, اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْحَقُّ الْمُبِيْن وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ خَاتَمِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ . اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاَخِرِيْنَ وَعَلى الِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالْتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلى يَوْمِ الْدِّيْنِ.

اَمَّا بَعْدُ. فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

Kaum Muslimin rahimakumullah

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT, karena alhamdulillaah pada hari ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memenuhi perintah-Nya menunaikan ibadah shalat Jum’at. Rasa syukur juga kita panjatkan karena sampai hari ini kita masih diberi semangat, kekuatan dan kesempatan oleh Allah SWT untuk terus bisa melaksanakan tugas-tugas dan aktivitas kehidupan, baik kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita lakukan seluruh aktivitas kehidupan itu semua, tiada lain dalam rangka kita ingin meraih dua kemenangan hidup yaitu “bahagia di dunia dan bahagia di akhirat”. Itulah visi dan misi atau tujuan mendasar kehidupan orang yang beriman sebagaimana diarahkan oleh Allah dalam firmannya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia”. (Q:al-Qashash:77).

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW berikut para sahabat dan keluarganya.

Ma’aasyiral-muslimiin rahimakumullaah!

Sebagai upaya mendasar agar kita dapat mencapai kemenangan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, marilah senantiasa kita betaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taqwa, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”. (Q:Ali-Imran:102)

Ketaqwaan kita wujudkan dalam bentuk ketulusan serta kemampuan secara penuh untuk melaksanakan kehidupan sesuai dengan ajaran Allah, baik berupa perintah-perintah-Nya, larangan-Nya, juga segala petunjuk-petunjuk kehidupan lainnya. Mari kita yakini dengan nur iman, bahwa hanya ketaqwaanlah yang akan bisa menghantar kita kepada peraihan kemenangan hidup, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, sebagimana firman Allah dalam Al-Quran :

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan”. (Q:An-Nuur:52).

Ma’aasyiral-muslimiin rahimakumullaah!

Dalam ajaran Islam, aktualisasi atau perwujudan perilaku ketaqwaan tidak hanya menyangkut perilaku dalam dimensi tata hubungan hidup vertikal manusia dengan Tuhan (Allah), akan tetapi menyangkut pula perilaku dalam dimensi tata hubungan hidup manusia dengan manusia, serta manusia terhadap alam. Banyak firman Allah yang memerintahkan berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, demikian pula terhadap alam, seperti antara lain firman Allah dalam Al-Quran surat Al-qashash ayat 77.

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q:Al-Qashash:77)

Dalam firman yang lain Allah mengingatkan tentang keharusan serta pentingnya kita menjaga hubungan yang baik dengan Allah (hablun min-Allah), serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablun min-an-naas), dalam rangka menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kehinaan, sebagaimana tersirat dalam ayat berikut:

“ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”. (Q:Ali-Imran:112).

Demikianlah ajaran Islam diturunkan melalu diutusnya Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi tata kehidupan semesta alam, sebagaimana tersirat dalam firman Allah:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q:Al-Ambiyaa:107)

Islam sebagai rahmatan lil-‘aalamiin, mengandung makna bahwa pengamalan nilai-nilai ajaran Islam akan menjadi rahmat bagi kehidupan semesta alam. Oleh karena itu, pengamalan nilai-nilai ajaran Islam oleh setiap pribadi muslim, hendaknya mampu memberikan rahmat (kebaikan-kebaikan) bagi tata kehidupan manusia dan alam semesta dan bukan sebaliknya bahkan menjadi ancaman. Dengan demikian sebagai perwujudan dari Islam sebagai rahmatan lil-‘aalamiin, maka kehadiran seorang muslim dalam berbagai kapasitas atau peran diri dalam berbagai dimensi tata kehidupan, hendaknya harus mampu membawa rahmat (kebaikan-kebaikan), dan sekali lagi bukan sebaliknya, melalui pengamalan secara utuh dan benar nilai-nilai ajaran Islam. Sebagai individu, seorang muslim harus mampu memberi rahmat bagi dirinya. Sebagai orang tua, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi anaknya. Sebagai anak, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi orang tuanya. Sebagai tetangga, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi tetangganya. Sebagai anggota warga, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi sesama warganya. Sebagai warga bangsa, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi bangsanya. Sebagai pemimpin, seorang muslim harus mampu menjadi rahmat bagi yang dipimpinnya. Demikian seterusnya, dalam berbagai kapasitas atau peran-peran diri dimensi kehidupan yang lainnya.

Jamaah shalat Jum’ah rahimakumullaah.

Demikianlah sekelumit renungan kita tentang bagaimana kita memahami serta mengaktualisasikan/mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-‘aalamiin. Semoga ada manfaatnya, dan semoga Allah SWT memberikan rahmat karunia serta kemampuan kepada kita untuk mampu menjadi seorang pribadi muslim yang siap mengamalkan seluruh ajaran Islam secara kaffah, sehingga kehadiranya dalam tata kehidupan dalam apapun peran atau kapasitasnya, mampu membawa rahmat/kebaikan-kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالْذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالْسَّمِيْعُ الْعَلِيِمِ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ