MELATIH KESABARAN DIRI Oleh : Dr. H. Abdul Muchayya, MA. *)

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan cara melakukan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena sesungguhnya ketakwaan adalah bekal kehidupan yang paling utama, tidak hanya sekedar bekal kehidupan di dunia tetapi bekal setelah kita mati nanti. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah marilah kita selalu melaksanakan perintah-perintahNya dan berupaya sekuat tenaga untuk menjauhi larangan-laranganNya, jangan sampai kita terseret pada arus fitnah yang saat ini sedang marak terjadi dan jangan terprovokasi situasi yang mengarah pada persoalan yang kurang kondusif ini. Marilah kita kembali pada pedoman kitab suci kita yaitu Al Qur’anul Karim, karena Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah SWT berfirman sebagaimana termaktub di dalam surat Al Kahfi/18 : 28 dalam rangka agar kita mampu menempatkan diri dengan baik maka kita diperintahkan untuk “bersabar”.Ayat tersebut artinya adalah sebagai berikut :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Ayat ini diturunkan oleh Allah SWT ketika orang-orang kafir Madinah mengumumkan bahwa Nabi dalam rangka memberikan penyuluhan/pengajian supaya mereka dipisahkan dari kaum muslimin dimana saat itu kebanyakan penghuni emper-emper masjid yang berjumlah kurang lebih 700 orang, mereka adalah fuqoro’ wal masakin dari kelompok muslim. Orang-orang kafir merasa terhina manakala dikumpulkan bersama orang-orang muslim yang miskin sehingga mereka menghendaki agar dipisahkan. Di satu sisi Rasulullah menyampaikan dakwah kepada fakir miskin dan di sisi yang lain beliau menyampaikan dakwah kepada kaum yang terhormat tersebut.

Ketika ada tawaran ini maka Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk bersabar dan senantiasa memohon ke hadirat Allah SWT dalam rangka memperoleh ridho-Nya.

Disamping itu ayat ini menegaskan bahwa sebagai muslim ketika ada pilihan yang lebih menguntungkan, maka Allah menyuruh kita supaya tetap bersabar terutama orang-orang yang senantiasa memohon kepada Allah semata-mata karena ridho-Nya. Bahkan lebih ditegaskan lagi jangan sekali-kali engkau memalingkan kedua mata kamu (Muhammad) dari mereka. Jika kita berpaling dari fuqoro’ dan masaakin, padahal mereka tulus dalam berdo’a. Dalam hal ini Nabi diwarning oleh Allah SWT untuk tidak meninggalkan/memalingkan diri dari orang-orang yang tulus dalam beribadah kepada-Nya.

Di sini sangat jelas sekali bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk hidup “istiqamah” dan tetap dalam barisan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah baik di siang maupun malam hari, di mana mereka berdzikir dan berdoa hanya karena Allah. Bahkan pada ayat tersebut di atas juga ditegaskan : “….dan jangan sekali-kali kalian taat kepada orang yang telah dilupakan hatinya dari mengingat Allah”. Orang yang demikian ini hidupnya selalu mengikuti hawa nafsu pribadi, hal ini karena sikap dan perbuatan mereka jauh dari kebenaran.

Oleh karenanya, marilah kita bersama-sama selalu dekat dengan orang yang memiliki qurbah (kedekatan) dengan Allah SWT yakni orang-orang yang senantiasa taat dalam menjalankan ibadah. Disamping itu mari kita renungkan ayat Allah yang mengangkat tema tentang ciri-ciri orang beriman, yakni firman Allah yang artinya :

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Dalam ayat ini Allah memberikan i’tibar bahwa orang-orang yang beriman paling tidak harus memiliki beberapa indikator, antara lain :

1) Mampu berbagi kebahagiaan di waktu lapang maupun sempit. Orang yang beriman adalah mereka yang mampu melahirkan “social cospority” (kesejahteraan sosial) yakni tidak egois, tetapi memikirkan tentang lingkungannya.

2) Mampu menahan amarah, karena marah adalah sesuatu yang menjadi transportasi syaitan.

Dalam sebuah Rasulullah SAW menyatakan bahwa ketika seseorang sedang marah maka akalnya akan hilang karena dipermainkan oleh syaitan sebagaimana seorang anak kecil memainkan bola. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman harus memiliki kematangan dalam mengontrol emosi dan amarah, jangan sedikit-sedikit marah tetapi sikap amarah yang ada pada diri kita harus mampu kita kelola secara maksimal agar tidak muncul.

3) Mudah memberikan maaf pada orang lain.

Kemampuan untuk memberikan maaf kepada orang lain tidaklah mudah, karena dibutuhkan keluhuran dan kerendahan hati, Oleh karenanya Allah menyuruh kita agar mampu memberikan maaf kepada siapapun yang pernah berbuat salah kepada kita. Dengan menahan marah kedamaian hidup akan kita dapatkan dan dengan kemampuan untuk memberikan maaf maka akan terjadi pola hubungan yang sangat kondusif, di mana satu dengan yang lain tidak saling curiga tetapi justru saling bahu membahu dengan melakukan aktivitas dan kegiatan secara sinergis.

Oleh karena itu, mari kita renungkan ayat tersebut di atas tidak hanya sepotong-sepotong, tetapi mari terus kita pelajari secara utuh sehingga Islam yang kita peluk ini betul-betul “ya’lu wala yu’la alaih”, semua orang mengakui dan angkat jempol lantaran nilai Islam betul-betul melebihi sebagaimana yang diusung oleh ideologi-ideologi lain. Tentunya hal ini membutuhkan perjuangan batin kita secara maksimal dan mengontrol emosi dengan cara mengendalikan dengan hikmah. Hikmah akan muncul manakala akal kita dibimbing dengan menekuni agama yang kita peluk ini.

Marilah kita wujudkan kedamaian dan perdamaian karena Islam adalah agama damai dan selalu menebar keselamatan dengan kalimat “Assalamu ‘alaikum” yakni mendoakan agar orang lain selamat. Di samping itu, mari kita bersikap dewasa dalam menghadapi setiap persoalan karena dengan sikap ini maka orang lain akan merasa takluk, dalam arti orang lain akan memberikan apresiasi lantaran Islam adalah agama yang lurus dan benar.

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan kepada kita semua sehingga kita betul-betul menjadi “khaira ummah” yang mampu mengapresiasi dan berperilaku secara baik. Aamin ya Mujibas saa‘iliin. *****

———————————————————————————————–

*) Dr. H. Abdul Muchayya, MA.; Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang