MAKNA SPIRITUAL IBADAH HAJI Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. *)

الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنـًـا أَشْهَـدُ أَنْ لَا ِالَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ جَـعَـلَ حَجَّ اْلبَيْتِ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْنًا وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلتَِهِ فَكاَنَ مِنْ نِعْمَتِهِ اْلعُظْمَى وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ الْعَتِيْقِ ذَاكِرًا أَسْمَاءَ رَبِّهِ الْحُسْنَى اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَ شَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ أَمَّا بَعْـدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَهِيَ نِعْمَةُ العُدَّةِ لِيَوْمِ اْلمِيْعَــادِ قال الله تعالى في القرأن العظيم

Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah !

Mari kita buka hati, pikiran, dan perasaan (fuad) kita, untuk senantiasa mensyukuri karunia dan hidayah Allah SWT. Atas kemurahan Allah, kita bisa hadir di sini, untuk menjalankan kewajiban sekaligus kita memperbaharui cinta kita kepada-Nya. Mari kita bershalawat dan sampaikan salam kepada Baginda Rasulullah saw, agar niat dan usaha kita untuk meneladani beliau, sedikit demi sedikit dapat kita tingkatkan kualitasnya. Semoga di akhirat nanti, kita mendapat syafaat beliau dan ridha Allah SWT.

Ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya itulah, dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, akan mampu mengisi jati diri kita, untuk meraih dan meningkatkan kualitas taqwa, dan itulah bekal yang paling berharga di kehidupan masa depan kita nanti.

Ayyuha al-muslimun al-kiram!

Tanggal 20 Agustus 2015 yang lalu, umat Islam Indonesia mulai berangkat menuju tanah suci Makkah al-Mukarramah dan Madinah, guna menunaikan ibadah haji tahun 2015, yang berpuncak di padang Arafah tanggal 9 Dzulhijjah 1436 H.. Ibadah haji menjadi salah satu rukun atau pilar ajaran Islam. Haji diwajibkan bagi yang mampu, biaya, perjalanan, dan kesehatan. Namun demikian, satu-satunya ibadah yang oleh Rasulullah saw diperintahkan untuk berburu-buru melaksanakannya adalah ibadah haji. Rasulullah saw bersabda:

تعجلوا الى الحج فإن أحدكم لا يدري ما يعرض له رواه احمد وغيره

“Bersegeralah kalian untuk menunaikan ibadah haji, karena seseorang tidak mengetahui sesuatu yang akan menghalanginya”.

Meskipun sekarang, di Jawa Tengah daftar tunggu sudah sampai 16 tahun untuk calon jamaah haji regular, dan 5 tahun untuk perjalanan haji khusus. Karena demikian banyaknya calon jamaah yang mendaftar, yang mengakibatkan makin panjangnya daftar tunggu. Lebih dari itu, ibadah haji merupakan ibadah yang merupakan gabungan, harta, jasmani dan kesehatan, emosi dan spiritual sekaligus. Ibadah haji, secara ritual, adalah ibadah kebendaan, berupa dam bagi yang memilih haji tamattu’ dan qiran, dan dianjurkan kurban bagi yang mengerjakannya. Allah SWT menegaskan:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-Hajj:37).

Pesan Zuhud dan Hakikat Taqwa

Ibadah haji sebagai ibadah yang komprehensif, adalah bentuk ritual pencucian diri manusia, harta, dan spiritualitasnya. Karena itu, selain dianjurkan untuk bersegera bagi yang sudah memiliki kemampuan, seseorang disyaratkan mempersiapkan harta bekal ibadahnya, dari rizqi yang halal. Karena setiap orang yang melaksanakan haji yang ingin meraih kemabruran ibadahnya, maka harus diawali dari harta yang halal dan bersih. Setelah itu kemabruran di dalam memenuhi syarat, rukun, dan sunnahnya, dan setelah selesai ibadah haji, dituntut dapat juga menjaga kemabruran ibadah hajinya. Karena itu, kemabruran ibadah haji, dapat dilihat pada indicator amaliyah seseorang apakah terjadi peningkatan menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Tidak kurang dari 160.000 jamaah haji Indonesia tahun ini berangkat menunaikan ibadah haji. Insya Allah tahun depan sudah kembali kepada kuota normal, sebanyak 215.000 jamaah, syukur bisa lebih. Bahwa sampai hari ini masih terdengar, bahwa masih banyak yang visa hajinya belum selesai, semoga cepat teratasi dan tidak menimbulkan problem psikologis bagi calon jamaah.

Ibadah haji yang disimbolkan dengan busana ihram yang berwarna putih bersih, adalah pesan spiritual yang selayaknya difahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh para jamaah dan seluruh kaum Muslim di negeri ini. Busana putih adalah symbol kain kafan, yang kita gunakan ketika kita menghadap kepada Allah SWT, sekaligus sebagai penyamaan status sebagai hamba di hadapan Allah. Ini dipertegas lagi, oleh Rasulullah saw:

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه رواه البخاري

“Barangsiapa haji, tidak rafats, tidak fasiq, dan tidak jidal, maka ia akan kembai ke kampong halamannya, laksana bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibunya”. Riwayat Imam al-Bukhary

Karena itu, Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang menunaikan ibadah haji yang mampu dan berhasil menjaga kemabrurannya, jaminan surga sebagai imbalannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW:

العمرة الى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له الجزاء ال الجنة رواه البخاري ومسلم

Di tengah tuntutan dan sergapan budaya materialistik dan hedonistik, di mana eksistensi seseorang sering hanya dilihat dari materi dan kekayaan, maka syariat ibadah haji dan ajakan berkurban di hari raya haji ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu, mengandung makna dan pesan spiritual yang amat mulia. Agar kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur, khusyu’ dalam ibadah, dan membuktikan makna ibadah vertical kita kepada Allah dalam wujud kesalehan sosial kita. Ajaran berkurban ini sekaligus melatih dan membiasakan diri untuk menjauhkan diri dari sifat serakah, cinta harta secara berlebihan, dan jauh dari angan-angan ingin memiliki harta yang bukan haknya, apalagi melakukan korupsi yang merugikan Negara dan uang rakyat. Apalah artinya kekayaan materi apabila diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal. Apalah artinya tumpukan harta, tetapi justru memperbudak diri kita. Cinta harta secara berlebihan, adalah biang kekeliruan atau kesalahan. Barang siapa di dalam aliran darahnya dimasuki dari rezqi yang tidak halal, maka haram baginya sentuhan surga. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Taubah: 111:

* ¨bÎ) ©!$# 3“uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur  cr’Î/ ÞOßgs9 sp¨Yyfø9$# 4 šcqè=ÏG»s)ム’Îû È@‹Î6y™ «!$# tbqè=çGø)uŠsù šcqè=tFø)ãƒur ( #´‰ôãur Ïmø‹n=tã $y)ym †Îû Ïp1u‘öq­G9$# È@‹ÅgUM}$#ur Éb#uäöà)ø9$#ur 4 ô`tBur 4†nû÷rr& ¾ÍnωôgyèÎ/ šÆÏB «!$# 4 (#rçŽÅ³ö6tFó™$$sù ãNä3Ïèø‹u;Î/ “Ï%©!$# Läê÷ètƒ$t/ ¾ÏmÎ/ 4 šÏ9ºsŒur uqèd ã—öqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÊÊÊÈ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” (QS. Al-Taubah:111).

Mengakhiri khutbah ini, mari kita renungkan sabda Rasulullah saw :

أفشوا السلام و أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام رواه البخاري

“Tebarkanlah kedamaian/kesejahteraan, berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah kalian di kala kebanyakan orang sedang tidur nyenyak, maka kalian akan masuk surge dengan penuh kedamaian” (Riwayat Imam al-Bukhary).

Semoga saudara-saudara kita yang akan berangkat menunaikan ibadah haji di hari raya Haji 1435 H sebentar lagi, diberi kemudahan dan mendapatkan haji yang mabrur, dan menjadi manusia-manusia yang bersih dan suci yang siap mengabdikan dirinya untuk perbaikan dan kemajuan bangsa ini. Semoga kita yang sudah melaksanakanya dapat makin ikhlas menyisihkan sebagian rizqi untuk berkurban, setidaknya seekor kambing setiap tahun, untuk membuktikan kepatuhan dan kecintaan kita kepada Allah yang senantiasa melimpahkan karunia dan hidayah-Nya kepada kita. Alangkah nistanya kita, diberi rizqi melimpah oleh Allah, kita tidak memahami, bahwa hakikat rizqi kita yang akan “dibeli” oleh Allah dan dibayar dengan surga dan ridha-Nya adalah yang kita keluarkan untuk membantu orang lain. Dan bagi saudara kita yang belum ada niat, setelah ini tergugah hatinya untuk segera mendaftar dan mengantri menjadi calon tamu Allah. Semoga Allah memberi kemudahan rizqi kepada kita dan pandai mensyukurinya. Amin.

Allah a’lam bi al-shawab.