MAKNA SHALAT DALAM KEHIDUPAN (Renungan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw) Oleh : Drs. H. Ahmad Anas, M.Ag. *)

Alhamdulillah Allah swt masih menganugerahkan kepada kita berupa kenikmatan hidup, dengan harapan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kita akan mampu menjadikan kita untuk selalu mengingat dan melaksanakan perintah Allah swt, mensyukurinya dengan berusaha keras dengan meninggalkan larangan-larangan Allah swt.

Anugerah terindah yang diberikan oleh Allah swt kepada baginda Rasulullah saw adalah diperintah dan diwajibkannya untuk kita yakni shalat 5 (lima) waktu dalam sehari semalam. Kewajiban ini merupakan anugerah terbesar dalam sebuah perjalanan Rasulullah saw yang maha dahsyat yang diqudrah dan iradahkan Allah swt sehingga termaktub di dalam Al Qur’an yang berbunyi :

Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Isra’/17 : 1)

Peristiwa yang terjadi dimana oleh para Mufasir menyebutkan bahwa tanggal 27 Rajab dijadikan sebagai momentum sejarah guna merefleksi kembali bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw adalah atas ke-Maha Besaran Allah swt, sampai sekarang tradisi Peringatan Isra’ Mi’raj masih terus diperingati di seluruh penjuru dunia dan tak terkecuali di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini, lebih khusus lagi di daerah kita masing-masing. Peringatan ini menjadikan kita agar mampu mengingat kembali sebuah peristiwa agung yang tidak menjadi “karep” baginda Rasulullah saw tetapi merupakan bisyaroh (bebungah) dari Allah swt yang diberikan kepada hamba-Nya yang terkasih, di mana sebelum peristiwa tersebut terjadi beliau mengalami ‘Amul Huzn (tahun-tahun kesedihan) lantaran ditinggal wafat, mulai dari pamanda tercinta yakni Abu Thalib dan istri tercinta yaitu Siti Khatidjah. Di situlah Allah swt menganugerahkan dengan memperjalankan beliau yang didampingi oleh Malaikat Jibril yakni perjalanan Isra’ Mi’raj.

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj ini ditunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah melalui visualisasi nyata, beliau menyaksikan secara langsung bagaimana seseorang hidup dengan penuh kemakmuran dan hasil panen yang melimpah ruah tanpa pernah berhenti, dijelaskan oleh Malaikat Jibril bahwa ini gambaran umatmu kelak dimana selama hidup di dunia selalu mengeluarkan sedekah kepada sesamanya. Kemudian beliau diperlihatkan pada orang-orang yang memukul-mukul kepalanya sendiri hingga berdarah-darah, inilah gambaran umatmu kelak yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban shalat.

Rasulullah juga diperlihatkan orang-orang yang disediakan makanan berupa daging yang lezat tetapi justru memilih memakan daging yang mentah lagi busuk. Ini adalah gambaran umat beliau yang suka memakan hasil riba. Di samping itu, ketika Rasulullah diajak oleh Malaikat Jibril memasuki sebuah dimensi, beliau mencium bau yang sangat harum, Malaikat Jibril menceritakan kan itulah gambaran seorang ibu bernama Masithoh beserta keluarganya yang dalam hidupnya mengabdi kepada Raja Fir’aun tetapi dia bersama seluruh keluarganya wafat dalam mempertahankan keimanan lantaran tidak mengakui Fir’aun sebagai Tuhan.

Refleksi sejarah yang terjadi 15 (lima belas) abad yang lalu ini harus kita jadikan warning (peringatan) bagi kita, sudahkah kita sadari bahwa fenomena yang terjadi sekarang ini menunjukkan betapa wabah-wabah seperti itu telah menjangkiti sebagian umat Islam. Kejadian-kejadian yang diperlihatkan oleh Allah pada saat Rasulullah diperjalankan yakni peristiwa Isra’ Mi’raj itu, saat ini betul-betul terjadi dan inilah yang menjadi kekhawatiran beliau.

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang disebut dengan Isra’ ini adalah sebagai sentral dimulainya perjalanan spiritual beliau, Baitullah adalah sentral tertujunya seluruh aktivitas ibadah yang kita lakukan, Ka’bah As Syarifah adalah kiblat umat Islam di seluruh penjuru dunia, bukan kepada batu melainkan tertuju pada satu tujuan yakni Allah ‘Azza Wajalla. Dan barangsiapa yang hatinya terkunci hanya menyembah Allah swt maka akan dirasakan olehnya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karenanya, jangan sekali-kali kita mati dengan tidak membawa iman karena peristiwa Isra’ Mi’raj ini hanya bisa ditelaah dengan “iman”, sehingga ketika kita berkiblat ke Baitullah disitulah hati kita tertuju “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ‘ardh”, menyatukan ruh dan hati kita hanya tertuju kepada Allah swt, karena hanya hati yang suci nan bersih yang mampu merasakan kehadiran Allah swt. Maka tidak sedikit orang yang saat mengawali shalat dengan membaca takbiratul ihram langsung menitikkan air mata lantaran mengakui akan kebesaran Allah swt Sang Maha Pemilik Ruh.

Inilah yang kemudian disebut “Ash shalatu mi’rajul mukminin” (shalat adalah Mi’raj kita kepada Allah swt), Inna shalati wanusuki wa makhyaya wa mamaati lillahi Rabbil ‘alamin, kepasrahan total inilah yang menjadikan kita tunduk, tawadhu dan patuh hanya kepada Allah swt. Meskipun dalam pepatah Jawa kita mampu : “ngesak lesus, njugrug gunung, ngasat segoro, ngetung cacahing banyu udan” tetapi ketika : “Celupkan jarimu di lautan lalu angkat, maka air yang menempel di jarimu adalah ilmu kita, sedangkan air di samudera nan luas itulah ilmu/kekuasaan Allah yang Maha Luas”. Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Perintah shalat dari Allah secara langsung melalui Rasulullah saw merupakan cermin yang dijadikan oleh Allah swt sebagai tolok ukur sempurnanya iman karena shalat adalah amaliah yang pertama kali akan dihisab oleh Allah swt kelak di Yaumul Qiyamah. Shalat adalah kebutuhan primer jasmani dan rohani kita, sarana untuk berkomunikasi secara intens dengan Allah swt. Memasuki era globalisasi sekarang ini dimana Ronggowarsito menyatakan : “Jamane wes jaman edan, yen ora ngedan jare ora bakal keduman, hananging bejaning wong kanng bejo yoiku wong sing tansah eling, ngati-ati lan waspodo”, maka kita harus terus berupaya sekuat tenaga guna membentengi diri dengan keimanan dan ke-Islaman agar keluarga kita dan umat Islam pada umumnya terhindar dari segala bujuk rayu syaitan sebagai musuh abadi kita.

Mari kita jadikan momentum Isra’ dan Mi’raj ini untuk terus maju ke depan guna meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat atas ridho Allah swt, mumpung padang rembulane jembar kalangane, kita jadikan semangat untuk terus bekerja sebagaimana Rasul mengatakan : “I’mal lidunyaka ka annaka ta’isyu abadan, menggapai kebahagiaan dunia agar tetap survive.

Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita rizki yang halal dan barokah, kemampuan dan kekayaan lahir batin di dunia ini, namun demikian harus kita imbangi dengan equillibrium system agar mampu berjalan beriringan, yakni wa’mal li akhiratika ka annaka tamutu ghadan” tidak lupa untuk mencari kemuliaan akhirat dengan memperbanyak amal salih sebagai bekal menghadap ke hadirat Allah swt kelak.

Sebelum Allah swt mengambil ruh kita, maka mari kita perbanyak taubat, mohon ampun ke hadirat Allah swt atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Disamping itu mari tegakkan shalat 5 (lima) waktu dan memperbanyak shalat malam, karena tegaknya agama adalah dengan shalat.

Dengan selalu menegakkan shalat maka komunikasi dengan Allah akan semakin terjalin dengan intens. Semoga Allah swt menerima semua amal ibadah kita dan dapat meraih 2 (dua) kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Amin ya Robbal ‘alamin. *****