MAKNA DATANGNYA TAHUN BARU HIJRAH Oleh : KHM.Syarofuddin Husein *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 22 Nopember 2013 M / 18Muharram 1435 H

Dengan bergulirnya waktu dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun, tidak terasa kita kini berada di awal tahun baru Hijriyah 1435. Sebagaimana kita ketahui bahwa di negara kita ini, untuk perhitungan hari dan tanggal adalah menggunakan 3 (tiga) perhitungan dari kebanyakan pendudukan negara, yaitu :

1) Menggunakan perhitungan kalender Miladiyah atau Masihiyyah, yakni : bulan Januari s/d Desember yang sampai sekarang sudah menginjak tahun 2013 M dan hampir menuju tahun 2014 M.

2) Menggunakan perhitungan kalender jawa yang ditetapkan oleh Raja Sultan Agung dari kerajaan Mataram dengan menggunakan perhitungan bulan : Syuro, Sapar, Mulud dan seterusnya sampai bulan Besar, selain itu juga ditambahkan hari pasaran (Dinten Pitu Pekenan Gangsal) Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

3) Menggunakan perhitungan tahun Hijriyah, di mulai dari bulan Muharam s/d Dzulhijjah. Lafadz Hijriyah ini berasal dari kata Fi’il Madhi : Hajara, Yuhajiru, Hijratan, yang berarti : pindah dari tempat satu menuju tempat lain, ada juga yang memaknai meninggalkan sesuatu, kemudian dipasang Ya’ Nisbat sehingga dikatakan Hijriyah.

Seperti Kanjeng Rasul Muhammad saw, beliau merupakan penduduk asli Mekah yang diangkat oleh Allah swt menjadi Nabi dan Rasul, lantas menjalankan tugasnya berdakwah dengan diberi pegangan Al Qur’an untuk dakwah agama Islam selama 13 (tiga belas) tahun dan telah dituruni/dibekali 81 surat Al Qur’an. Karena prinsip aqidah agama Islam bertentangan dengan kepercayaan orang kafir Quraisy, maka orang-orang kafir tersebut yang dipimpin oleh pamannya sendiri Abu Jahal, Abu Lahab dan teman-temannya akhirnya bermusyawarah di gedung Darun Nadwah yang menghasilkan keputusan akhir mereka ingin membunuh Kanjeng Rasul Muhammad saw, bahkan disayembarakan barang siapa dapat menangkap Muhammad hidup atau mati, akan diberi hadiah atau imbalan 100 (seratus) ekor unta, kemudian Allah memberitahu kepada Kanjeng Rasul dengan menurunkan wahyu surat Al Anfal/8 : 30 yang berbunyi :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.

Setelah diturunkannya ayat tersebut, akhirnya Allah swt memberikan ijin kepada Kanjeng Rasul untuk berhijrah dengan menurunkan surat Al Isra/17 : 80 yang berbunyi :

Artinya : “Dan katakanlah : “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”.

Setelah mendapatkan ijin dari Allah untuk berhijrah, kemudian beliau memerintahkan para sahabat untuk hijrah terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya pada malam Kamis, 8 Rabiul Awal Kanjeng Rasul didatangi Malaikat Jibril dan berkata : “Janganlah kamu tidur menginap pada malam ini”.

Ternyata, sejak sore di luar rumah telah banyak didatangi banyak orang kafir Quraisy dan menunggu saat yang tepat untuk menangkap dan membunuh Kanjeng Rasul, sampai-sampai mereka kecapekan hingga tertidur pulas. Kemudian Rasulullah memanggil Sayidina Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan tidur di tempat tidur beliau, kemudian Rasulullah keluar rumah dan menggenggam segenggam pasir dan disawur-sawurkan kepada orang-orang kafir yang sedang tertidur pulas sambil membaca surat Yasin. Alhamdulilah Rasulullah berhasil lolos dari kepungan kaum kafir Quraisy, kemudian bergegas menuju rumah Abu Bakar Ash Shidiq, sambil berkata : “Sesungguhnya aku telah diberikan ijin untuk keluar dari Mekah”.

Kemudian Sayidina Abu Bakar matur dengan tebusan ayahku ijinkan aku untuk menamaminu ya Rasulullah. Rasul menjawab : Ya, aku minta kamu menemaniku. Kemudian beliau berdua berkemas meninggalkan rumah pada malam itu juga. Rasulullah menggunakan siyasah tidak langsung menuju Madinah, tetapu menuju gua Tsur di Jabal Tsur, tetapi keberadaan Rasulullah masih diketahui oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah yang berusaha untuk mengejar dan akan membunuh Rasulullah. Tiba-tiba kuda Suraqah yang berusaha mengejar beliau jatuh terperosok sampai 3 (tiga) kali, akhirnya Suraqah justru ditolong oleh Rasulullah sambil berkata : Hai Suraqah, jika kamu naik kuda berhati-hatilah agar tidak jatuh, padahal sebagaimana kita tahu bahwa Suraqah jelas-jelas akan membunuh beliau tetapi dengan keluhuran budi pekerti beliau justru menasehatinya yang akhirnya Suraqah beriman dan memeluk Islam.

Adapun keberadaan Ali bin Abi Thalib di Mekah mendapat kepungan dari orang-orang kafir Quraisy dan hampir saja nyawanya melayang, orang-orang kafir Quraisy masuk ke kamar dan membuka selimut, setelah selimut dibuka ternyata bukan Kanjeng Rasul melainkan Sayidina Ali bin Abi Thalib, tetapi atas ijin Allah Ali selamat tidak kurang suatu apa.

Rasulullah dan Sayidina Abu Bakar Ash Shuduq melanjutkan perjalanan menuju Gua Tsur dan sebelum memasuki gua, Abu bakar matur : “Ya Rasulullah, ijinkan aku masuk ke dalam gua ini sebelum engkau, jika di dalam gua ternyata ada ular atau sesuatu yang dapat membahayakan keselamatanmu maka biarlah aku saja yang terkena bukan engkau ya Rasul. Lalu Rasulullah menjawab : Silahkan masuk”.

Setelah masuk ke dalam gua, Abu bakar meraba seluruh penjuru gua dan ketika dijumpai ada lubang maka ditutup dengan merobek jubahnya sehingga habislah jubah Abu Bakar. Ketika pagi Rasulullah mengetahui hal itu, lalu beliau berkata : “Ya Abu Bakar, di mana jubahmu ?. Abu Bakar menjawab : Habis untuk menutupi lubang-lubang pada gua. Kemudian Kanjeng Rasul mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah : Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar bersamaku dan satu derajat denganku di surga. Allah swt mendengar doa Rasulullah dan menurunkan wahyu : Sesungguhnya Allah telah mengabulkan doamu”.

Kanjeng Rasul bersama Abu Bakar menginap di gua Tsur selama 3 (tiga) hari dan Allah memerintahkan laba-laba untuk membuat rumah di pintu gua dan memerintahkan juga kepada 2 (dua) burung merpati untuk bertelur di pintu gua. Orang-orang kafir Quraisy melacak keberadaan Rasulullah sampai pada pintu gua dan mereka tidak yakin jika beliau berdua berada di dalam gua karena ada sepasang merpati dan sarang laba-laba di pintu goa, akhirnya mereka kehilangan jejak Rasulullah dan Abu Bakar.

Pada malam harinya, tepatnya hari Isnain, 12 Rabiul Awal, Kanjeng Rasul dan Abu Bakar keluar dari gua menuju Madinah, sesampainya di sana pada hari Isnain juga(sebagaimana disebutkan dalam Kitab Mukhtasyar Siraturrasul, hal 187-191).

Adapun dalam Tafsir Munir Lin Nawawi jus awal shahifah 340 disebutkan, ketika Kanjeng Rasul dan Abu Bakar berada di dalam gua, Sahabat Abu Bakar mengetahui bahwa orang-orang kafir Quraisy berada di luar gua dan beliau menangis, Rasulullah mengetahui hal itu dan bertanya : “Hai Abu Bakar, kenapa engkau menangis ? Abu Bakar menjawab : Ya Rasul, aku menangis bukan menangisi pribadiku, tetapi menangisi engkau. Jika aku mati maka aku adalah seorang diri, tetapi jika engkau yang sedo (mati) niscaya umat dan agama akan hancur”. Kemudian Rasulullah berkata : La tahzan innAllaha ma’ana (janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah bersama kita).

Persitiwa tersebut adalah bagian dari beberapa keistimewaan Rasulullah, antara lain :

1) Lahir pada hari Isnain (12 Rabiul Awal);

2) Hijrah pada hari Isnain (12 Rabiul Awal); dan

3) Wafat pada hari Isnain (12 Rabiul Awal).

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, tugas beliau belumlah selesai, dengan dibantu kaum Muhajirin dan Anshor beliau kembali berdakwah. Pada tahun 8 hijriyah Allah swt memberi bantuan kepada beliau untuk membuka pintu hidayah bagi orang-orang Mekah dan mereka berbondong-bondong masuk agama Islam, sebagimana firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An Nashr/110 : 1-3)

Setelah kanjeng Rasul wafat, perjuangan beliau dilanjutkan oleh para sahabat (Khulafaur Rasyidin) yakni : Abu Bakar Ash Shidiq, Umar ibn Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, banyak kebijakan yang diambil dan belum pernah terjadi pada masa Rasulullah, dikutip dari kitab Mukhtasyar Siraturrasul hal 537 disebutkan bahwa Sayidina Umar bin Khattab adalah :

1) Sahabat pertama yang disebut sebagai Amirul Mukminin;

2) Sahabat pertama yang menetapkan penanggalan tahun Islam dengan sebutan tahun baru Hijriyah, beliau menetapkannya pada tahun ke 17 dari hijrahnya Rasulullah; dan

3) Sahabat pertama yang mengumpulkan umat untuk berjamaah Qiyamul Lail (shalat Tarawih) dengan satu Imam di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan.

Peristiwa Hijratur Rasul  tersebut banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil, antara lain :

1) Hidup di dunia ini memerlukan iman dan Islam, baru kemudian mencari ridha Allah swt. Dalam mencari ridha Allah, pasti akan mengalami ujian dan cobaan, bahkan para Nabi dan Rasul ujian dan cobaannya jauh lebih berat dibandingkan orang biasa. Seperti : Nabi Ibrahim As diberi cobaan akan dibunuh oleh kaumnya dengan dimasukkan ke dalam api. Bahkan para Nabi yang lain mengalami cobaan yang sama, seperti : Nabi Isa As dan Nabi Zakariya. Rasulullah pernah bersabda  yang artinya :

“Seberat-beratnya ujian dari Allah adalah para Nabi, Ulama, orang-orang yang utama, dan orang-orang yang sederajat Ulama”.

2)Untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, kita harus berusaha untuk menguatkan iman dan Islam kita dengan memperbanyak taat kepada Allah swt.

3) Sebagai bukti kesetiaan dan kecintaan para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya serta guna mendapatkan ridho Allah, para sahabat yang sudah memiliki tempat tinggal dan ekonomi yang sudah mapan di Mekah, dan mereka rela meninggalkannya untuk mengikuti jejak Nabi, yakni hijrah menuju Madinah, bahkan nyawapun dipertaruhkan, seperti : Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Hal ini serupa dengan anjingnya Ashabul Kahfi yang rela menemani kekasih dan ulama Allah selama 300 (tiga ratus) tahun di dalam gua dan akhirnya masuk ke dalam surga. Oleh karena itu di dalam Al Qur’an tidak dijumpai ayat yang mengharamkan anjing, karena Allah telah memutuskan ada anjing yang masuk surga.

4) Apabila seorang berada di suatu tempat yang tidak dapat menjalankan syariat Islam dengan baik, maka diperbolehkan untuk pindah ke tempat lain yang dapat menjalankan syariat Islam dengan tanpa gangguan.

5) Kekuasaan Allah itu di atas segala kekuasaan, buktinya hanya dengan laba-laba dan burung merpati dapat menggagalkan rencana pembunuhan Kanjeng Rasul saw.

6) Sayidina Umar bin Khattab ra adalah sahabat yang sangat berani berijtihad. Pertama; Mau dipanggil dengan sebutan Amirul Mukminin. Kedua; pertama kali mempersatukan umat berjamaah Qiyamul Lail (shalat Tarawih) pada bulan Ramadhan di Masjid dengan satu imam. Ketiga; beliaulah yang menetapkan perhitungan tanggal tahun baru Islam, tahun baru Hijriyah dimulai pada bulan Muharam sampai dengan bulan Dzulhijjah, sedangkan kita tahu bahwa hal tersebut di zaman Rasulullah saw belum ada. Dengan demikian kita perlu mengingat kembali sabda Kanjeng Rasul Muhammad saw yang artinya :

Tetaplah kalian menjalankan sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk dan gigitlah erat sunah tersebut dengan gigi gerahammu (maksudnya adalah peganglah erat-erat sunah tersebut)”.

Dengan demikian, apakah kebijakan Umar bin Khattab tersebut dinamakan bid’ah dhalalah, yang diharamkan, dan yang masuk neraka ?. Padahal Kanjeng Rasul telah menjamin ada 10 (sepuluh) sahabat yang masuk surga termasuk 4 (empat) Khalifah tersebut. Kita juga tahu makam beliau sekarang berkumpul menjadi satu di Madinah bersama dengan makam Rasulullah dan Sayidina Abu Bakar Ash Shidiq.

6) Bagaimana sikap kita dalam memasuki tahun baru Hijriyah ini ?. Marilah kita ingat sabda Rasulullah Muhammad saw yang artinya :

“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka termasuk orang beruntung. Barang siapa hari ini dan hari kemarin sama saja, maka termasuk orang yang rugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia termasuk orang yang rusak/hancur. Oleh karena itu, dalam memasuki tahun baru Hijriyah ini mari kita tingkatkan ketaatan kita kepada Allah swt.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

=====================

*) KHM. Syarofuddin Husein; Pengasuh Pondok Pesantren SYAROFUL MILLAH Penggaron Pedurungan Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved