MAKNA DAN HAKIKAT IBADAH HAJI Oleh : Dr. H. Abdul Muchayya, MA. *)

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan cara melakukan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan yang telah digariskan dan ditentukan oleh Allah, karena pada hakikatnya perintah yang sudah ditentukan oleh Allah melalui syariat yang kita miliki yakni berupa agama Islam tidak lain adalah agar kita semua selamat dan mendapat kasih sayang Allah di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, bertakwa adalah modal yang paling penting dan utama untuk menghadap ke hadirat Allah swt. Karenanya mari kita tingkatkan dan berupaya sekeras mungkin untuk memperbaiki kwalitas ketakwaan kita kepada Allah swt.

Sebagian dari umat Islam Indonesia pada tahun ini dipanggil oleh Allah untuk menunaikan ibadah haji, bahkan sebagian dari mereka sudah berada di tanah suci. Oleh karena itu marilah kita telaah sesungguhnya makna dan hakikat ibadah haji dalam syariat Islam itu apa ?. Sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi :

Artinya : “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al Baqarah/2 : 197)

Pada dasarnya haji dilaksanakan pada bulan yang sudah ditentukan oleh Allah, oleh karena itu barangsiapa yang sudah bertekad bulat untuk menunaikan ibadah haji maka hendaknya mereka harus “Rafats”, artinya : perilaku yang menjurus pada pornografi maupun pornoaksi atau dapat pula di artikan mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh. Kita juga tidak boleh melakukan hal-hal yang “fusuq”, artinya : sesuatu yang dapat menimbulkan kerusakan, disamping itu kita dilarang juga untuk “jidal”, yakni : saling berdebat/bertengkar.

Pada ayat tersebut Allah juga menegaskan bahwa apapun yang kita lakukan sesungguhnya diketahui oleh Allah swt, karenanya bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji bekal yang paling mulia tidak lain adalah “ketakwaan” kepada Allah swt. Bekal takwa juga berarti bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

Ketika kita menunaikan ibadah haji terkadang lupa hakikat, esensi, dan makna yang tersembunyi di dalam haji itu, kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang bersifat duniawi sehingga persiapan kitapun terfokus pada kesiapan-kesiapan yang bersifat lahiriyah, kita lupa bahwa sesungguhnya haji itu memiliki makna batin yang luar biasa. Oleh karena itu Rasulullah saw dalam sebuah sabdanya beliau pernah mengungkapkan yang maksudnya : “Akan datang suatu zaman di mana umatku saat menunaikan ibadah haji semata-mata melakukan perjalanan lahiriyah (turis) untuk menghibur diri/berwisata, sedangkan para pedagangnya pergi haji semata-mata untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi, ulama-ulama nya juga berhaji bukan “Lillah” tetapi “riya” agar layak untuk dihormati. Sedangkan orang fakir yang pergi haji bukan untuk Allah tetapi hanya mengemis atau meminta-minta”.

Apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw ini jangan sampai terjadi di antara kita, jika kita berhaji semata-mata dengan niat berdarma wisata maka hanya bekal lahiriyah semata yang mesti dipersiapkan. Jika kita berangkat haji dengan niat berdagang maka kalkulasinya adalah barang apa yang nanti akan kita bawa pulang dan profit apa yang kita lakukan guna mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut. Jika kita berhaji karena ingin tenar, maka akibatnya persiapan yang dilakukan hanya terfokus bagaimana kita memoles diri supaya menjadi tenar dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama fahami bahwa sesungguhnya ketika seseorang akan melaksanakan ibadah haji harus memperhatikan hal-hal yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Mari kita lihat aspek batin yang terkadang membuat kita lupa makna dan hakikat haji. Para Ulama sufi menyatakan bahwa ketika kita melaksanakan ibadah haji maka yang terjadi secara batin tidak lain adalah kita harus melakukan proses transformasi spiritual dari kondisi biasa menuju sikap kepasrahan hanya kepada Allah. Kita teladani Nabiyullah Ibrahim As yang terkenal memiliki karakteristik kepasrahan begitu tinggi ke hadirat Allah swt.

Sikap pasrah yakni sikap tunduk dan patuh serta memuji akan kebesaran Allah harus senantiasa kita miliki ketika menunaikan ibadah haji. Haji bermakna melakukan proses transformasi jiwa seseorang menuju pada kwalitas spiritual yang lebih tinggi. Maka ukuran haji itu mabrur atau mardud indikatornya, antara lain :

1) Mampu menjadi penebar ketentraman dan kedamaian di masyarakat sekitarnya, bukan karena banyaknya oleh-oleh yang dia bawa ke tanah air.

2) Tutur katanya menjadi semakin lembut dan tidak suka menyakiti orang lain. Dan ini esensi seorang muslim.

3) Peduli terhadap sesama terutama orang-orang yang membutuhkan, orang lemah dan orang yang terpinggirkan. Tidak saja menolong tetapi sekaligus mengentaskan ke arah kehidupan yang lebih baik.

Karenanya, jika tahun ini kita belum diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji maka secara batin kita melakukan proses rihlah (perjalanan spiritual) dari kondisi spiritual biasa menuju kepasrahan secara total kepada Allah swt dengan mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim As.

Dengan demikian, insya-Allah apabila kita memiliki sikap kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya maka do’a dan hajat kita akan diijabah oleh Allah swt sebagaimana do’a Nabiyullah Ibrahim As.

Semoga Allah swt senantiasa menolong kita sehingga dari hari ke hari akan semakin matang, kuat, pandai, dan cerdas spiritual kita. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****