MAKNA CINTA KEPADA ALLAH SWT Oleh : Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA. *)

Sejenak kita rileks, santaikan pikiran dan perasan kita,  sambil memanjatkan istighfat dan  rasa syukur atas nikmat Allah SWT yg tak terhingga (QS. Ibrahim/14: 34) yang artinya :

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakan nya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.

Secara riil dinafaskan oleh Ar Rahman-Ar Rahim, menghirup udara sebanyak 483 m3, sebagiannya adalah oksigen,  didenyutkan  jantung oleh al-Hayyu al-Qayyumu sebanyak 115.200 x diberi kekuatan oleh al-Qawiyyu al-Matinu  untuk menelan untuk beraktivitas, diberi kemampuan oleh al-Kaliimu untuk berbicara (rata-rata) sebanyak 25.000 kata, diberi kekuatan oleh al-Ghaniyyu untuk menggerakkan otot sebanyak 750 otot, diberi kemampuan oleh al-Shamadu untuk menggerakkan sel otak yang terus bekerja sebanyak + 7 juta sel, dan masih banyak lagi. Allah Akbar, Subhanallah. Semua itu kita peroleh secara gratis.

Selanjutnya mari kita bandingkan dengan shalat kita, zakat fitrah, puasa dan haji kita, sedikit sekali. Bandingkan waktu dengan seharinya malaikat mencapai 50.000 tahun hari manusia.  Oleh karena itu untuk mengisi hidup yang sebentar itu, tidak ada jalan lain kecuali mempergunakannya untuk beribadah dalam arti yang seluasnya dan itu kita syukuri. Firman Allah SWT di dalam surat Al A’raf/7 : 156 yang artinya :

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman : “Siksa-Ku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”.

Karena itulah, maka kita masuk surga karena Rahman dan Rahim Allah SWT, bukan usaha kita, Nabi bersabda : “Engkau masuk surga bukan karena amalmu, melainkan karena Rahman dan rahim Allah”. Sahabat bertanya : Apakah engkau juga demikian ya Rasulallah ? “Iya”, jawab beliau, karenanya saya masuk surga. Oleh karena itu, do’a beliau : “Jika saya Engkau perlakukan aku dengan sifat keadilan-Mu, maka aku sangat kurang, tidak sebanding pengabdianku kepada-Mu dengan nikmt-Mu yang Engkau berikan padaku”.

Semua orang pasti ada problem, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anbiya’/21 : 35 yang artinya :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”.

Bagaimana kita memaknai problem/ujian itu ?. Ada yg positif (kaya, pangkat dan sehat) dan ada yang negatif (miskin, rakyat jelata, sakit). Ada problem, perkecil problem itu, dan perbesar Allah, sekecil problem menjadi besar, jika memperkecil Allah. Sebesar apapun problem, apabila kita perbesar Allah, maka terasa ringan beban itu. Oleh karena itu, pasrahkan problem kita (dalam arti tafwidl) kepada-Nya,  Dia akan mencukupi oleh-Nya. Allah berfirman di dalam surat Ath Thalaq/65 : 3 yang artinya :

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Kembangkan sikap sabar dan syukur, qana’ah, ridha, cinta kepada Allah pasti ada hikmah. Hatimu tersakiti karena kamu tidak paham, ada hikmah dibalik  musibah itu (jangan sampai hawa nafsumu menguasai dirimu).

Sekali lagi manusia pasti mempunyai problem, seperti Ibrahim. Dalam diri manusia, ada rasa cinta (hubb), muncul rasa rindu (isyqu), intim (unsun). Karena dalam diri manusia ada ruh (kesadaran), yg berasal dari Allah SWT. (As Sajdah & Shad)  Fenomena ini terwujud dalam kisah Ibrahim AS. ketika meninggalkan isteri dan anak satu-satunya di lembah yang gersang, tandus, belum ada tanaman tidak berpenghuni demi memenuhi panggilan Kekasihnya, Allah SWT. Beliau mampu memecahkan problemanya, menanggalkan egonya demi memenui penggilan-Nya. Ketika beliau pergi menuju Palestina, berkali-kali Hajar memanggilnya : Kemana engkau akan pergi ?. Dijawab oleh beliau sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaffat/37 : 99 yang artinya :

“Dan Ibrahim berkata : “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.

Ketika itu dalam hati Ibrahim bercampur antara cinta keluarga dan pengabdian kepada-Nya. Di hati Hajar terbersit, jika itu panggilan Tuhanmu, maka dia tidak akan menyia-nyiakan aku dan anakku. Sekarang nampak kebenaran itu. Kita diperintah oleh Allah SWT dalam surat          Al Hajj/22 : 78 yang artinya :

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Ternyata lembah yg dipilih oleh Ibrahim sekarang menjelma menjadi kota Makkah yang berjuta-juta umat Muslim berkunjung ke sana. Dan pada tanggal 9 Dzulhijjah mereka sama berkumpul di Arafah dengan pakaian ihram, berkumpul bermusyahadah, mengenal dan mengerti Allah SWT. Dia yang disembah, dicinta dan dituju.

Menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha dan Hari-hari Tasyriq adalah mengikuti jejak beliau. Ada hikmah di balik itu, antara lain :

1) Ujian bagi Ibrahim, terlalu cinta anaknya, Isma’il;

2) Ketangguhan Ibrahim, Hajar dan Isma’il;

3) Digantinya dg kambing kibas dari surga, berarti pengorbanan manusia, harus diakhiri.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Aamiin…3x ya Mujibas Saa‘iliin. ****

————————————–

*) Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA.; Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang & Direktur Lembaga Bimbingan & Konsultasi Tasawuf (LEMBKOTA) Kota Semarang