M U H A S A B A H Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. *)

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan limpahan kenikmatan yang tidak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita; kenikmatan yang tidak mungkin kita menghitung-hitungnya;Kita bersyukur atas segala Karunia-Nya terutama nikmat Iman, Nikmat Islam, nikmat Rezeki dan Kesehatan serta kesempatan beribadah sampai hari ini, termasuk saat ini kita hadir di masjid ini untuk melaksanakan perintah Allah  yaitu shalat Jumat; semoga Allah menerima niat dan ibadah kita, amin ya Rabbal alamin.

Shalawat serta salam kita senandungkan, kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., kepada keluarga dan sahabatnya serta kepada kita dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Semoga iman Islam dan upaya kita meningkatkan taqwa kita menambah perbekalan kita di masa depan kita nanti.Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiap-siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumul hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak. Allah SWT berfirman (QS.AlHasyr/59:18) yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan takwa kepada Allah; karena di sisi Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah takwa.

Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal:“Haasibu anfusakum qabla an tuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).

Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk mendapat ampunan-Nya dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran 3:133)

Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah, sejak dini, secara berkala, kapan saja, bahka setiap detik, setiap denut jantung kita;  karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannyakelak di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman yang artinya : “(yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS.Qaaf/50:17-18)

Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran. Demikian pula dengan  keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya. Firman Allah yang artinya :

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah/99 : 7-8)

Bila kita mengingat betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, maka wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Dan Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”(QS. 59:18).

Ingatlah Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat‘Abasa/80:34-37 dimana tidak ada lagi tempat pertolongan kita, ayat tersebut yang artinya :

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,dari ibu dan bapaknya,dari istri dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.Banyak muka pada hari itu berseri-seri,Tertawa dan bergembira ria, Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, Dan ditutup lagi,oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka”.

 Dengan demikian tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri.

Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: “Kemana tempat lari?. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali”. Firman Allah dalam surat AlQiyamah/75:7-12yang artinya :

“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayaNya,dan matahari dan bulan dikumpulkan,pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari ?”sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung ! hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali”.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ada 7 (tujuh) golongan yang akan mendapat naungan/perlindungan Allah di mana di hari tidak ada naungan/perlindungan selain naungan/perlindungan Allah (Yaumul Qiyamah atau Yaumul Hisab). Ke-7 (tujuh) golongan itu adalah:

  1. Imam yang adil;
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT;
  3. Pemuda yang lekat hatinya dengan masjid;
  4. Orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah;
  5. Orang yang digoda wanita cantik lagi bangsawan dia berkata : “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”;
  6. Orang yang bersedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya (secara sembunyi-sembunyi);
  7. Dan orang yang berkhalwat dengan Allah di tengah malam dan meneteskan airmata karena takut kepada Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang pertama dihisab adalah :

– Mereka yang berjihad, berinfak dan beramal shaleh (QS. 22:77, 2:177);

– Kemudian sabda Rasulullah SAW di hadits lainnya: “Ada 70.000 orang akan segera masuk surga tanpa dihisab”. “Do’akan aku termasuk di dalamnya, ya Rasulullah!”, mohon Ukasyah bersegera. “Ya, Engkau kudo’akan termasuk di antaranya”, sahut Nabi SAW. Ketika sahabat-sahabat yang lain meminta yang serupa, jawab Nabi SAW singkat, “Kalian telah didahului oleh Ukasyah”. “Siapa mereka itu ya Rasulullah?”, tanya sahabat. “Mereka adalah orang yang rajin menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di akhirat”. Subhanallah.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antri dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata : “Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab”.

Betapa beruntungnya ke-7 (tujuh)golongan itu padahal hari penghisaban itu begitu dahsyatnya sampai banyak yang ingin langsung ke neraka saja karena merasa tak sanggup segala aibnya diungkapkan di depan keseluruhan umat manusia.

Apalagi tak lama kemudian atas perintah Allah, malaikat Jibril menghadirkan gambaran neraka yang dahsyat ke hadapan mereka semua sampai-sampai para Nabi dan orang-orang shaleh gemetar dan berlutut ketakutan.Apalagi orang-orang yang berlumuran dosa.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat).Dan Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr/ 59 : 18)

Mudah-mudahan saja kita tidak termasuk orang yang bangkrut/pailit di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggungjawabannya. *****

—————————————–

*) Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA.; Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah & Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah