LANGKAH MERAIH HAJI MABRUR Oleh :Prof. Dr. H. Muhtarom HM *)S

Saat ini kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia yang akan menunaikan ibadah haji berduyun-duyun menuju Mekah. Mereka terus berbenah diri untuk menuju puncak ibadah hajinya yakni tanggal 10 Dzulhijjah. Niat mereka untuk menunaikan ibadah haji telah lama ditancapkan di dalam hati para dhuyufurrahman, dana dikumpulkan, kesehatan badan dijaga, manasik haji dihafalkan, dan fatwa-fatwa para ulama dihayati dalam-dalam dengan harapan agar cita-cita menunaikan ibadah haji tidak sia-sia di hadapan Allah swt.
Ibadah haji memberikan pelajaran dan pengalaman sangat besar bagi setiap hamba Allah yang melakukannya, yakni :
1) Membina jamaahnya agar senantiasa mengagungkan Asma Allah swt;
2) Membina umat guna membina semangat ukhuwah Islamiyah, tidak hanya dalam bentuk jiwa melainkan juga raga, karena telah dipertemukan oleh Allah swt dalam satu tempat, maksud dan tujuan yang sama;
3) Menumbuhkan semangat berqurban, karena ibadah haji memang harus ditunaikan dengan pengorbanan yang besar;
4) Memperkuat ikatan sejarah Islam pertama, bahwa haji merupakan napak tilas perjuangan Khalilullah yakni Nabi Ibrahim As dengan kecintaan yang luar biasa kepada Allah swt;
5) Memberikan pembelajaran dari ibadah haji agar seorang muslim yang sudah haji (khususnya) agar selalu menjaga kehormaan dan harkat martabat dirinya.
Setiap jamaah haji, seusai menunaikan ibadah haji pasti menginginkan menjadi haji yang “Mabrur”. Seorang haji yang mabrur tentu harus membuktikan kemabruran hajinya dengan selalu menjaga kehormatan diri, dengan tidak melakukan hal-hal yang menodai nilai hajinya. Karena yang hajinya mabrur-lah yang oleh Allah akan dijamin “Surga”. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw yang artinya :
“Nabi Muhammad saw bersabda : Dari umroh pertama hingga umroh kedua menjadi penebus dosa yang terjadi di antara keduanya, dan Haji Mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam masalah/hal haji ini “Al Mabrur” artinya : diterima, maksudnya adalah diterima ibadah hajinya oleh Allah swt. Orang yang hajinya diterima oleh Allah adalah orang yang mengalami/melakukan perubahan perilaku yang lebih baik daripada sebelum berhaji. Menurut Sayed Al Imam Muhammad Ismail Al Kahlany dalam Subulu As Salam juz 2 hal 178 disebutkan :
“Haji Mabrur yaitu haji yang tidak dicampuri dosa, dan hal ini dikuatkan oleh Imam Nawawi : Haji Mabrur adalah haji maqbul, yang nampak hasilnya, ada perubahan bagi yang telah menunaikan haji, haliyah-nya (perilakunya) lebih baik daripada sebelum menunaikan ibadah haji”.
Menyebut “Hal” (perilaku) haji mabrur mempunyai arti umum yang menyangkut seluruh aspek kegiatan hidupnya sebagai seorang muslim yang sudah haji. Perialakunya sesudah haji harus lebih baik dari perilaku sebelum haji, semisal :
1) Menjaga stabilitas keimanan dan ketakwaan serta terus meningkatkan kwalitasnya;
2) Senantiasa bersyukur atas nikmat dan karunia Allah swt, serta memanfaatkan dengan benar/pada tempatnya;
3) Memperkokoh tali hubungan dengan Allah swt dan sekaligus tali hubungan dengan sesama manusia;
4) Rendah hati, tidak congkak dan tidak takabur artinya lebih mengedepankan sikap mukhlis;
5) Meningkatkan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, baik kwalitas maupun kwantitasnya dan meninggalkan hal-hal yang dapat merusak dan menghilangkan pahalanya, seperti : tidak berlaku riya, sum’ah, dan menyakitkan hati orang lain.
Simak firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah/2 : 264 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Demikianlah, semoga dapat memberikan arti dan manfaat bagi kita, dan terpelihara serta terjaga kemabruran hajinya sampai akhir hayat. Aamiin Allahumma Aamiin. *****

======================
*) Prof. Dr. H. Muhtarom HM; Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang & Rektor Universitas IslamNahdhatul Ulama (UNISNU) Jepara