KUKUHKAN KEMENANGAN FITRI DAN SEMANGAT PROKLAMASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG GEMILANG Oleh : H. Ateng Chozani Miftah, SE, A.KP, M.Si. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 16 Agustus 2013 M / 09Syawal 1434 H

 

Puji dan syukur kita panjatkan ke  hadlirat Allah swt atas limpahan nikmt-Nya yang tidak mungkin kita dapat menghitungnya. Salah satu nikmat yang sedang sama-sama kita rasakan saat ini adalah nikmat kemenangan telah selesainya kita melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Semoga kita termasuk golongan orang yang telah selesai menjalankan ibadah puasa dengan penuh  ketaqwaan kepada Allah, sehingga layak untuk mengukuhkan kemenangan.

Rasa syukur  kita panjatkan pula karena saat ini kita bangsa Indonesia telah sampai pada kurun waktu 68 tahun menikmati anugerah agung dari Allah swt yaitu   ANUGERAH KEMENANGAN MERAIH KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur, marilah senantiasa kita pelihara dan tingkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya taqwa sebagaimana pesan Allah dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Setiap kali memasuki Idul Fithri,  kita sama-sama mempunyai getaran hati penuh harap agar  termasuk orang yang mendapat predikat minal-‘aidiin wal-faaiziinyaitu orang yang kembali kepada fitrah  dan meraih kemenangan.  Setelah mengembara begitu jauh dan banyak melakukan hal yang mungkin menyimpang, di hari Raya Idul Fitri kita mengukuhkan diri bahwa kita telah kembali ke fithrah sebagai hamba Allah yang beriman. Mengukuhkan diri untuk kembali memilih jalan berdasar agama yang lurus (hanif) dan selalu berjalan di atas kebaikan dan kebenaran.

Dengan berbekal kefithrahan yang telah kita raih ini, mari  kita kukuhkan pula tekad bahwa  hari-hari depan kita akan menjadi hari-hari yang lebih baik dan gemilang serta penuh kemenangan, baik kemenangan di dunia sampai kepada kemenangan di akhirat kelak, sesuai dengan yang dituntunkan Allah swt  dalam surat  al-Qashash 77.

“Dan carilah dari apa-apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu bekal untuk kebahagian akhiratmu, dan jangan engkau abaikan kehidupanmu di dunia”.

Secara fundamental, kefithrahan manusia berbasis pada “kefithrahan aqidah” yaitu kekukuhan iman dan tauhid sebagaimana firman Allah SWT  dalam surat Al-A’raf 172 :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: “bukanlah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab: “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”.

Ukuran lain dari fithrah manusia adalah ketika kita berada pada posisi yang “hanif”, atau posisi yang lurus, yaitu posisi yang selalu condong kepada kebenaran. Hal ini tersirat dalam al-Quran surat Ar Rum ayat 30.

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah dengan lurus, (tetaplah atas fithrah Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

Untuk menghasilkan kemenangan yang total, “kefithrahan aqidah”  harus direfleksikan kepada “kefithrahan amaliyah”  yang mencakup antara lain “kefitrahan ‘ubudiyah”  yang berada pada dimensi tata hubungan dengan Allah (hablun minallaah), dan “kefithrahan bermuamalah” atau “kefithrahan sosial” yang berada pada dimensi tata hubungan dengan sesama manusia (hablun min an-naas). Kefithrahan yang demikian, akan melahirkan konsep berfikir “al-ikhlash lillah” (segalanya untuk mengabdi kepada Allah), dan konsep berpikir “al-ikhlash baina an-naas”, yaitu pola pikir “hidup untuk menciptakan kemaslahatan bagi sesama manusia”. Pada gilirannya, tatanan kehidupan yang berdasarkan pada kefithrahan yang demikian, dipastikan akan dapat  memberikan kedamaian, kemaknaan dan kemantapan hidup bagi individu, serta memberikan kemaslahatan dan kedamaian bagi kehidupan manusia. Hal tersebut sejalan dengan misi universal diturunkannya Risalah Islamiyah yaitu “rahmatan lil-‘alamiin” (membawa rahmat bagi kehidupan alam semesta). Kefitrahan ubudiyah dikristalkan dalam sikap dasar yang selalu wajib diucapkan dalam setiap rakaat shalat ketika kita membaca surat Fatihah yaitu : “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Sikap dasar tersebut akan teraktualisasi ke dalam bentuk kemampuan kita untuk menjalankan ibadah-ibadah mahdhoh disertai kelurusan hati semata-mata mengharap keridloan Allah SWT. Di sisi lain, refleksi dari kefitrahan sosial akan melahirkan pola-pola dasar kehidupan yang dihiasi oleh berbagai perilaku konstruktif dan dijauhinya prelilaku-perilaku yang destruktif dalam bertata hubungan hidup dengan sesama manusia (bermasyarakat, berbangsa, bernegara dsb), sesuai  tuntunan al-Quran.

Diantara nilai-nilai kefitrahan sosial yang diajarkan Al-Quran, banyak nilai-nilai kefitrahan mendasar yang kadang atau sering pudar dalam tata kehidupan kita dan mari kita kukuhkan lagi dalam mewarnai Idul Fitri dan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI saat ini, seperti  antara lain:

1.  Ta’aruf. Yaitu hidup saling kenal-mengenali, faham-memahami, harga-menghargai, hormat-menghormati, berdampingan secara damai dan berinteraksi secara positif dan kostruktif satu dengan yang lain, sebagaimana tersirat dalam Surat Al-Hujurat ayat 13.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal………..”

2.  Tasamuh. Yaitu semangat hidup saling toleransi, berlapang dada dalam mensikapi berbagai perbedaan, termasuk perbedaan agama, sebagaimana tersirat dalam surat Al-Kafirun. Ayat 6 dan surat as-Syura ayat 15.

“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”

Demikian pula toleransi dalam beramal sebagaimana tersirat dalam surat as-Syuura ayat 15.

“Bagi kami amal kami, bagi kalian amal kalian,tidak perlu ada pertentangan diantara kami dan kalian, Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nya semua keputusan akan kembali”

3.  Musawwah (kesetaraan).Kefithtrahan sosial yang memandang strata kehidupan tidak hanya  dilihat dari aspek lahiriah (ekstrinsik)-nya, akan tetapi lebih ditentukan oleh aspek kualitas pribadi (inttrinsik)-nya. Kelebihan seseorang tidak dilihat dari apa peran yang dimiliki dan disandangnya, akan tetapi lebih ditentukan oleh bagaimana seseorang mampu melaksanakan dan memainkan peran yang diamanahkan kepadanya. Hal ini sesuai dengan prinsip nilai dalam surat al-Hujurat ayat 13.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah, adalah siapa yang paling bertaqwa diantara kalian”

4.  Semangat berbuat kebajikan. Baik kebajikan terhadap sesama manusia, maupun kebajikan terhadap alam, sebagaimana diperintahkan Allah  dalam surat al-Qashash ayat 77.

“Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya allah sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

5.  Ta’awun. Yaitu semangat untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, sebagaimana diperintahkan Allah dalam surat al-Maidah ayat 2.

“Dan bertolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

6.  Semangat membangun komunikasi dan bermusyawarah. Membangun komunikasi aktif dengan kesejukan satu dengan yang lain dalam menghadapi serta menyelesaikan permasalahan, sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali-Imran ayat 159.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan keras hati, niscaya mereka akan menjauhkan diri darimu. Karena itu maafkanlah mereka, mohon ampunkanlah mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu”.

7.  Semangat saling peduli dan membangun kesejahteraan bersama. Semangat ini tersirat dari ajaran untuk menafkahkan sebagian harta untuk orang lain, perintah menyantuni anak yatim dan perintah memeberi makan orang miskin, sebagaimana tersirat dalam firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 134, dan surat al-Ma’uun ayat 1 s/d ayat 3.

“Orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit”.

|“Tahukan kamu orang yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memeberi makan orang miskin”.

8.  Bukan pemarah, tapi pemaaf, dan introspektif. Sikap hidup tersebut digambarkan dalam al-Quran sebagai bagian dari ketaqwaan sosial seseorang, sebagaimana tersirat masih dalam surat Ali-Imran ayat 134.

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

9.  Taat hukum dan aturan.Al Qur’an memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan tiga ketaatan hukum/aturan yaitu : taat aturan Allah, mentaati tuntunan Rasul, dan aturan-aturan yang berlaku dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara (ulil amri). Hal ini tersirat dalam al-Quran surat an-Nisaa ayat 59.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’ati Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”.

10.  Berkeadilan. Dalam Al-Quran digambarkan bahwa perilaku adil lebih dekat kepada ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surat al-Maidah ayat 8.

“Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

11.  Amanah. Al-Quran menegaskan bahwa salahsatu manifestasi dari keimanan seseorang adalah keampuan memelihara amanah dan janji-janjinya.‘

“Dan orang-orang yang memelihara amanah yang dipikulnya dan janjinya”.

12.  Bukan perusak tapi pengelola.Ini merupakan kefithrahan sosial manusia terhadap alam yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi pengelola yang baik dan tidak berbuat kerusakan, sebagaimana tersirat dalam surat Hud 61 dan Al-Qashash 77.

“Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya”.

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya allah sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Ketika kita,  individual dan secara kolektif mampu mengaktualisasikan nilai-nilai kefithrahan sebagaimana telah diuraikan di muka, insya Allah kita akan sampai kepada pencapaian kemenangan hidup yang hakiki, sejalan dengan apa yang diingatkan Allah dalam surat Al-‘Ashr..

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Dalam surat Al-‘Ashr tersebut, Allah swt mengingatkan tentang siapa orang-orang yang akan meraih kemenangan dan terlepas dari kerugian hidup. Mereka itu adalah oarang-orang yang  memiliki kekokohan iman (kefithrahan aqidah);  senantiasa beramal shaleh (kefithrahan amaliyah); dan senantiasa menjaga diri agar selalu dalam kebenaran serta kesabaran (hanif), . Di samping itu, Allah swt telah menggunakan waktu sebagai alat sumpahnya. Hal tersebut  mengingatkan kita tentang betapa penting dan berharganya waktu bagi kehidupan. Waktu adalah modal kehidupan. Tanpa ada waktu kita tidak mungkin bisa berbuat apa-apa. Dengan demikian beruntunglah orang yang mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan akan rugilah orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya. Kiranya kita dapat merumuskan inti dari nilai ajaran Allah SWT tersebut, dan mari kita jadikan semangat Iedul Fitri, dalam sebuah semboyan kefithrahan untuk meraih kemenangan hidup sebagai berikut :

DENGAN BERLANDASKAN KEFITHRAHAN AQIDAH,  MANFAATKAN WAKTU DAN BANGUN KEFITHRAHAN AMALIYAH, SERTA POSISIKAN DIRI SELALU DALAM KEBENARAN DAN KESABARAN (HANIF), SEBAGAI WUJUD KETAQWAAN UNTUK MERAIH KEMENANGAN HIDUP.

Semboyan kefithrahan tersebut, kiranya relevan pula untuk kita implementasikan dikaitkan dengan tanggung jawab kita sebagai warga bangsa untuk mengisi dan mencapai cita-cita proklamasi kemerdekaan sebagaimana teramanahkan dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945, yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial. Oleh karena itu, untuk mensyukuri dan mewarnai semangat Idul Fitri sekaligus semangat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, kita gelorakan semboyan kefitrahan sosial: KUKUHKAN KEMENANGAN FITRI DALAM RANGKA MENSYUKURI, MENGISI, DAN MENCAPAI CITA-CITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA.

=========================

*) H. Ateng Chozani Miftah, SE, A.KP, M.Si.; Ketua I YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah