KORELASI ANTARA TAUHID DAN MARTABAT MANUSIA SEBUAH USAHA MEREVITALISASI SIFAT MANUSIA YANG TERPUJI Oleh : Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA. *)

الحمد لله رب العالمين الذي خلق الإنسان أحسن التقويم وأرشدهم إلى سبيل المرشدين وأنعمهم نعما وفير ثم أدخلهم جنة النعيم. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وهو الملك القدير، وأشهد ان محمدا عبده ورسوله الأمين المرسل رحمة للعالمين لتتميم الأخلاق الكريم. أللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين إلى يوم الدين. أما بعد
فيا أيها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وانتم مسلمون. اعوذبالله من الشيطان الرجيم : لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Para Nabi sebagaimana kita ketahui mengemban misi utama untuk membimbing umatnya kejalan yang benar. Memupuk Sifat Terpuji Adalah Tugas Utama Para Nabi yang harus selalu diulang dan diperbaharui, sehingga umatnya kelak mampu memahami dan menyadari untuk melakukannya sesuai sifat tersebut.
Revitalisasi sifat dan perilaku terpuji bagi setiap muslim dapat dimulai dari bagaimana seorang muslim dapat mengintegralkan keimanan kepada Allah ke dalam perbuatan dan tingkah lakunya di dunia ini. Hal itu dapat dimengerti oleh siapapun, karena secara umum misi risalah Rasulullah tidak lain adalah untuk menyempurnakan perilaku manusia dalam penghambaan dirinya kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda : Innama bu’itstu liutammima makarim al-akhlaq (sesungguhnya aku diutus ke bumi ini hanya untuk menyempurnakan akhlak). Kesempurnaan akhlak berarti bagaimana manusia mampu meningkatkan segala perilakunya berdasarkan sifat-sifat terpuji dalam rangka penghambaan diri kepada Allah. Oleh karena itu segala perilaku manusia harus berdiri kokoh diatas tiga pilar yaitu iman, islam, dan ihsan. Hadits Rasulullah saw. mengingatkan kita tentang tiga hal tersebut melalui pembelajaran Allah kepada Nabi yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ

Hadits tersebut di atas menggambarkan ibarat Rasulullah seorang murid yang sedang dibelajar dihadapan gurunya. Saat itu beliau sedang ditempa materi pokok tentang dasar perilaku manusia melalui iman lalu diimplementasikan dalam perbuatan melalui rukun Islam, dan kemudian dianjurkan untuk selalu meningkatkan perbuatannya mencapai keikhlasan dalam berbuat untuk mencapai tingkat ihsan.

Dengan demikian usaha untuk meningkatkan perilaku terpuji, seorang muslim harus benar-benar memahami posisi mereka sebagai hamba Allah. Oleh karena itu ia harus mampu menyadari bagaimana ia harus berbuat, berperilaku, dan bagaimana ia harus bersyukur kepada Allah. Berbagai tugas dan kewajiban itu jika diamati dengan saksama sebenarnya terletak pada sejauh mana seorang muslim mampu mengimplikasikan peran tauhid dengan kehidupan manusia sebagai implementasi kewajiban manusia di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pilar dasar yang menyangga keyakinan seorang muslim adalah:

يأيها الناس اعبدوا ربكم الذى خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة: 21)

Perkataan tawhid sudah tidak asing lagi bagi setiap pemeluk Islam. Kata-kata itu merupakan kata benda kerja (verbal noun) aktif yang merupakan derivasi dari kata-kata “wahid” yang artinya “satu” atau “esa”. Berasal dari makna dasar itu, maka kalimat tawhid memiliki maksud menyatukan atau mengesakan, juga bisa diambil makna generiknya “mempersatukan” hal-hal yang terserak-serak atau terpecah-pecah.

Kata itu dalam istilah ilmu kalam diciptakan oleh para mutakallimun (ahli teologi dialektis Islam). Kata-kata itu dimaksudkan sebagai paham “me-Maha Esakan Tuhan”, ia disebut juga sebagai paham “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bentuk harfiah kata-kata tawhid sendiri tidak terdapat dalam kitab suci al-Qur`an, yang ada dalam Al Qur`an adalah kata-kata “ahad” atau “wahid”. Meski demikian istilah itu memang secara tepat mengungkapkan isi pokok ajaran kitab suci Al Qur`an itu. Pemahaman terhadap kalimat tauhid sebenarnya mengungkapkan inti ajaran semua Nabi dan Rasul yang diutus ke setiap kaum dan sampai kepada tampilnya Nabi Muhammad s.a.w. yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Itulah sebenarnya ajaran tentang bagaimana manusia harus berbuat di dunia ini sesuai dengan sifat-sifat terpuji yang telah diajarkan para Nabi dan Rasul.

Tawhid dan Kepercayaan Sebelum Islam

Rasanya masih perlu membicarakan masalah hubungan tauhid dan sikap percaya atau beriman kepada Allah. Hal itu diperlukan, karena dalam pandangan keagamaan pada umumnya, bahwa kaum Muslimin memiliki kesan bertauhid itu hanyalah berarti beriman atau percaya kepada Allah bagi kaum muslim dan tidak bagi kaum lainnya. Padahal jika mau lebih teliti memahami isi Al Qur`an, bahwa mereka yang dahulunya memusuhi Muhammad Rasulullah dari kaum musyrikin Mekkah adalah kaum yang benar-benar percaya kepada Allah. Perhatikan Q.S. Al Zumar/39: 38 sebagai berikut:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُون

(Dan sungguh jika kau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapa yang menciptakan seluruh langit dan bumi?, pastilah mereka akan menjawab, “Allah. Katakan: “Apakah telah kamu renungkan sesuatu (berhala) yang kamu sembah selain Allah itu? Jika Allah menghendaki bahaya atasku, apakah mereka (berhala-berhala) itu mampu melepaskan bahaya-Nya? Dan jika Dia menghendaki rahmat untukku, apakah mereka (berhala-berhala) mampu menahan rahmat-Nya? Katakan (Muhammad): “Cukuplah bagi Allah ; Kepada-Nya lah bertawakal bagi mereka yang mau bertawakal). Lihat pula Q.S. Al ’Ankabut/29: 63 sebagai berikut:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

(Dan sungguh jika kau -Muhammad- tanyakan kepada mereka: “Siapa yang menurunkan air hujan dari langit, sehingga dengan air itu dihidupkan bumi sesudah kematiannya? pastilah mereka akan menjawab: “Allah” Katakan al-hamdulillah! Tetapi kebanyakan mereka itu tidak berakal.)
Firman-firman yang merupakan penuturan tentang kaum kafir itu dengan jelas membawa kita kepada kesimpulan bahwa Tawhid tidaklah cukp dan tidak hanya berarti percaya kepada Allah saja, tetapi mencakup pula pengertian yang benar tentang siapa Allah yang kita percayai itu dan bagaimana sikap kita kepada-Nya. Penuturan Al Qur’an itu sebenarnya menunjukkan bahwa siapapun memiliki dasar sifat yang terpuji, bzaik oerang kafir maupun orang yang beriman. Bedanya adalah bagi orang kafir sifat itu tidak dikembangkan melalui penghambaan diri kepada Tuhan, sedangkan bagi orang muslim sifat-sifat terpuji itu justru berkembang seiring dengan keimanan mereka kepada Tuhan. Oleh karena itu berikut ini disajikan pemahaman yang benar tentang tauhid uluhiyyah dan rububiyyah.

Tawhid Rububiyah dan Implikasi Pembebasan

Uraian tentang sistem kepercayaan kaum musyrik Arab Jahiliyyah di atas itu dapat disimpulkan dengan pasti bahwa percaya kepada Allah tidaklah dengan sendirinya berarti tawhid. Sebab percaya kepada Allah semacam itu masih mengandung kemungkinan percaya kepada hal-hal selain Allah dalam keilahian. Hal ini fakta yang cukup realistis. Manusia pada umumnya menyadari dan percaya kepada Allah, namun kepercayaannya tidak heginis murni terlepas dari kemusyrikan. Perhatikan firman Allah, surat Yusuf/12: 103-106:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ(103)وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ(104)وَكَأَيِّنْ مِنْ ءَايَةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ(105)وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُون)

(Sebagian besar manusia itu, betapapun kau (Muhammad) inginkan, tidaklah beriman. Padahal engkau tidak meminta dari mereka upah sedikitpun. Ini tidak lain adalah peringatan untuk seluruh alam. Dan betapa banyaknya ayat di seluruh langit dan bumi yang lewat pada mereka, namun mereka berpaling. Dan tidaklah mereka beriman kepada Allah melainkan mereka juga adalah orang-orang musyrik)
Teguran yang berupa sindiran itu merupakan problem kemanusiaan yang berupa pemahaman politeisme, bukan ateisme. Oleh karena itu program pokok Al Qur`an adalah membebaskan manusia dari belenggu pemahaman dan kepercayaan kepada banyak tuhan dengan mencanangkan dasar pemahaman dan kepercayaan yang terungkap dalam kalimat, “al-nahyu wa al-ithbat” (negasi-konfirmasi) yaitu kalimat “La ilaha illallah” (لاإله إلا الله ) yang diterjemahkan sebagai “Tidak ada tuhan selain Allah”. (Nurkholish Madjid. Islam Doktrin dan Perdaban. Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina, 1995, 79).

Proses pembebasan diawali dari proses negasi, yaitu pembebasan martabat manusia dari kepercayaan kepada hal-hal yang palsu. Demi kesempurnaan kebebasan itu, manusia harus mempunyai kepercayaan kepada sesuatu yang hak dan benar. Hal itu amat penting, karena hidup tanpa kepercayaan sama sekali adalah hal yang mustahil. Sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman komunisme. Seseorang dapat memulai dari tidak percaya sama sekali, namun kekosongan keimanan itu memberi tempat bagi timbulnya kepercayaan baru, yakni melalui keercayaan yang bersifat konfirmatif. Kebebasan yang tak terbatas dan tidak bertanggungjawab pada hakekatnya bertentangan dengan hakekat martabat kemanusiaan. Kebebasan pada hakekatnya terwujud, jika disertai dengan ketundukan tententu, yaitu ketundukan kepada yang secara intrinsik benar, benar pada diri sendiri, tidak terpaksa akibat faktor luar yang tidak sejati. Kepercayaan seperti itu justru mendapat dukungan dan aplaus dari ahli filsafat modern Huston Smith, ia menyatakan: Submission (in Arabic Islam) was the very name of the religion that surfaced through the Koran, yet its entry into history occasioned the greatest political explosion the world has known. (Huston Smith: Beyond the Post-Modern Mind. New York, Crossroad, 1982, 141)
Sikap yang harus dilakukan sebagai pembebasan hakekat martabat manusia dari kepercayaan politeisme itu dapat dilalui melalui dua cara. Pertama, melepaskan diri dari kepercayaan kepada yang palsu. Kedua dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar. Perhatikan surat al-Ikhlas/112 dan surat al-Kafirun/109, yang menurut Ibn Taimiyyah merupakan landasan tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.
Tawhid Rububiyyah, sebelumnya harus memahami makna kata-kata “al-rabb” yang menjadi sumber derivasi kata-kata “al-rububiyyah”; ia berarti “sayyid” (tuan), “al-malik” (raja), “al-murabbi” (pendidik), “al-muslih” (pembenar), dan “al-ma’bud” (yang disembah). Tauhid Rububiyyah berarti mempercayai Allah sebagai, pencipta, pemberi rizki, memiliki kerajaan, sebagai tuan, pendidik, pembenar, dan pengatur. (Abu Bakr Jabir al-Jazairi. ‘Aqidat al-Mu`min. al-Jazair: Diwan al-Matbu’at al-Jami’ah, 1984, 89).
Kitab al-Dar al Manthur, Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, Ibn al Anbari meriwayatkan di dalam al Masahif, dari Sa’id ibn Mina` Maula Abi Al Bukhturi, ia mengatakan: pada suatu saat Al Walid ibn Al Mughirah, Al ’Asi ibn Wail, Al Aswad ibn Al Mutallib dan Umayyah ibn Khalaf bertemu dengan Rasulullah SAW., mereka berkata Wahai Muhammad, kiranya kita menyembah sesembahanmu, dan engkau menyembah sesembahan kita, kita bersama-sama di dalam masalah kita, jika kita benar terhadap sesembahan kita, maka anda telah mendapatkan bagian kebenaran itu, juga jika anda yang benar dengan sesembahanmu, maka kita juga boleh mendapat bagian dari kebenaran itu; lalu dari situlah turun surat al-Kafirun. (al-Tabtaba`i: al-Mizan fi Tafsir Al Quran 20: 434)

Revitalisasi Sifat Terpuji Melalui Pembumian Tawhid
Memahami makna “Al Rabb” sebagai “pendidik”, “pembenar”, dan “pemberi rizki”, tidak bisa manusia lepas tangan dan hanyalah memanjatkan do’a dan kepercayaan kepada Tuhan, karena Maha Pencipta pada hakekatnya tidak pernah melakukan sesuatu terlepas dari historisitas yang dilakukan manusia di bumi. Sebagai “pendidik”, Allah tidak memerlukan apa-apa dan tidak memiliki tujuan apa-apa, dan Ia mampu menciptakan apa-apa buat siapa dan apa saja. Manusia dan apa saja yang bersifat dahir di bumi ini, ternyata tidak sepenuhnya mampu menangkap dan merasakan adanya pendidikan dari Tuhan, kecuali jika pendidikan itu disampaikan melalui realitas cosmos yang terasa, terdengar dan atau terlihat oleh manusia dan makhluk lainnya yang secara biologis dirasakan oleh indera dan terpikirkan oleh akal bagi manusia melalui kematangan keilmuannya.

Filsafat Krisna dalam ceritera Mahabarata menekankan adanya empat pengorbanan yang harus dilakukan manusia; pertama, korban secara material bagi rakyat jelata; kedua, korban perasaan bagi para petapa; ketiga, korban jiwa bagi para pejuang kesatria; dan keempat, korban ilmu pengetahuan bagi pada pendidik dan teknokrat. Pengorbanan yang disebut terakhir itu paling tinggi bagi martabat kemanusiaan. Pengorbanan terhadap ilmu pengetahuan, berarti seseorang memiliki ilmu pengetahuan untuk melenyapkan kebobdohan, kemudian melakukan tindakan tanpa melihat hasil dan tujuan yang akans dicapainya. Ia melakukan tindakan dan perbuatan itu hanya karena kewajiban, dan orang yang mampu melakukan kewajibannya tanpa mengharap sesuatu itu adalah berbuat darma, dan yoga. Itulah orang yang akan mendapatkan pahala dan berada dalam kebaktian. (Ceritera Mahabarata)

Ungkapan filosofis yang mengacu kepada pemahaman deontologis itu, jika ditimbang melalui pernyataan religious filosofis islami, maka menunjukkan kepada perbuatan seorang mukmin yang kuat pendirian tentang ketauhidan.
Perhatikan ayat Al Qur`an surat Al Mujadalah/58: 11 menyatakan :

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير.

(Allah akan meninggikan orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang dberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.)

Secara hermeneutis, dapat dipahami bahwa orang mukmin yang akan mendapat martabat kemuliaan disisi Tuhannya adalah orang beriman yang memiliki ilmu pengetahuan dan mau serta mampu mempergunakan dalam tindakan berdasarkan sifat-sifat primordial mereka yang terpuji. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan pernyataan-Nya bahwa Ia akan selalu melihat dan menyaksikan siapa saja orang-orang yang mau melakukan tindakan dengan baik dan terpuji. (al-Tabtaba`i: al-Mizan, 19: 196). Tindakan yang dimaksud di atas bersifat neutral, artinya tergantung motivasi dorongon kejiwaannya. Jika tindakannya itu didasari dengan kepercayaan diri kepada Tuhan dan ia melakukannya dengan penuh tanggungjawab atas kewajiban sebagai pengganti Tuhan di bumi ini, maka ia adalah seorang yang bermartaban karena kesaksiannya melalui ketauhidan.

Martabat kemanusiaan, dengan demikian akan tercapai melalui keyakinan atas Pencipta (Khaliq) dan keyakinan melakukan apa yang menjadi “kewajiban” di muka bumi. Penggabungan secara vertikal dua pendekatan itu akan merupakan keharusan bagi setiap mukmin yang sejati. Betapapun seorang mukmin itu, ia adalah makhluk yang bersifat biologis yang terkait dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu bersifat metafisis, akan tetapi pengejawatahan keduanya sangat terikat dengan metodelogi yang bersifat epistemologis. Tata surya yang dalam terminologi klasik dipahami sebagai hal yang sangat metafisis, ternyata melalui perkembangan keilmuan menjadi sesuatu yang sangat realistis karena terkait dengan sunnatullah yang tidak lain adalah hukum alam yang bersifat pisik.

Penutup

Pemahaman seperti yang disebut terkhir itu sangat sensitif jika dihadapkan pada keyakinan yang selama ini berlaku, karena sebagian banyak “keyakinan islami” saat ini masih belum mampu menembus batas-batas sakralitas transendental yang cukup kokoh menuju profanitas yang terkait erat dengan metodologi keilmuan yang nyata. Tidak kurang seorang Mohammed Arkoun menyadarinya, bahwa bangunan keyakinan yang ada pada diri muslim, masih saja tercover lebih rapat dengan keyiknan yang secara essensial bersifat religious dari pada keyakinan yang didasarkan pada hasil penelitian historis yang terkait dengan sejarah perkembangan ide (history of ideas), sejarah sistem pemikiran ( history of systems of thought), sejarah psikologi (historical psychology), dan antropologi budaya (cultural anthropology). (M. Arkoun: Rethinkig Islam, Common Question, Uncommon Answers, 1994: 75.

Kerancuan keyakinan semacam itu menyebabkan tidak sedikit para sarjana muslim menghadapi kesulitan dalam menciptakan meteode keilmuan untuk menciptakan peningkatan martabat dan sifat terpuji kemanusiaan muslim melalui keyakinan monoteisme. Muhammad al-Ghazali juga mengingatkan agar pengembangan metode pemahaman dan keilmuan menjadi tulang punggung peningkatan keimanan dan ketauhidan, yang pada gilirannya akan memperkokoh sifat terpuji manusia dalam menjalankan tugas kehidupan. Beriman kepada Yang Ghaib bukan berarti mengimaninya dengan wahm (utopis) akan tetapi dengan tindakan nyata yang terpuji sesuai dengan sifat-sifatnya yang di dasari ketakwaan kepada Allah, sehingga manusia pada akhir selalu berada di bawah naungan keridaan Ilahi, Amin.