Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 31 Mei 2013 M / 21 Rajab 1434 H MENYIKAPI PERINTAH ALLAH SWT Oleh : Prof. Dr. H. Muhibbin Noor, MA. *)

Marilah pertama-tama kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, sehingga saat ini kita masih tetap diberikan hidayah untuk memeluk Islam dan melaksanakan syariat-syariatNya dengan penuh kesadaran, konsisten, dan bertanggungjawab. Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada baginda Rasulullah saw sebagai rasul yang santun, peduli, dan bertanggungjawab atas keselamatan dan kesejahteraan umatnya, melalui penyampaian risalah secara benar dan sekaligus menjadikan dirinya sebagai teladan bagi umatnya. Demikian juga salawat dan salam tersebut semoga tercurah kepada seluruh keluarga, sahabat, dan umatnya hinggga hari akhir nanti. Amin. Selanjutnya, marilah kita perbarui komitmen kita untuk tetap senantiasa berusaha dengan kesungguhan hati meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah swt dalam arti yang sesungguhnya, yaitu dengan mengikuti dan melaksanakan perintah-perintah Allah swt dan menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya.

Karena hanya dengan pelaksanaan takwa yang demikianlah kita patut berharap kepada Allah swt bahwa kita akan mendapatkan karunia, taufik, dan hidayah-Nya. Amin. Sebagai hamba Allah swt yang beriman, tentu kita sangat percaya bahwa apapun yang diatur dan ditetapkan di dunia ini oleh Allah pastilah sangat bermanfaat bagi umat manusia, hanya saja terkadang umat manusia itu sendiri yang menyikapinya secara berbeda, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyengsarakan. Ambil contoh saja misalnya perintah Allah kepada umat manusia agar mereka mau menjalankan ibadah shalat 5 (lima) waktu, sebagian manusia menyikapinya dengan sinis dan menganggap hal itu merupakan pembebanan yang sangat memberatkan, bahkan cenderung memaksa manusia untuk melakukan sesuatu yang bukan pilihan mereka.

Padahal kita tahu dan yakin bahwa perintah shalat tersebut merupakan sesuatu yang akan membuat kebaikan bagi manusia sendiri. Semua umat beriman akan menyambut perintah shalat tersebut dengan senang hati dan ketulusan, karena dengan shalat tersebut manusia akan dapat menenangkan dirinya, jiwa, hati, dan pikirannya serta akan lebih mengetahui arti kehidupan ini dengan sebenar dan sesungguh-sungguhnya. Disamping itu menurut Tuhan sendiri shalat itu juga akan dapat menuntun manusia melaksanakan sesuatu yang baik, positif bagi dirinya serta terjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar yang akan dapat menyengsarakan diri mereka. Bukankan Allah swt telah berfirman dalam kitab suci-Nya surat Al Ankabut/29 : 45 yang berbunyi :

“Sesungguhnya shalat itu akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”.

Demikian juga mengenai perintah Allah untuk menjalankan puasa Ramadاan, ada di antara umat manusia yang menyikapinya dengan sinis dan bahkan cenderung merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Mereka menganggap bahwa perintah menjalankan puasa sebulan penuh tersebut sangat memberatkan dan dapat menurunkan prestasi kerja dan lainnya.

Padahal kalau disikapi dengan penuh ketundukan dan ketulusan serta berusaha mau mengerti apa sesungguhnya hikmah di balik perintah puasa tersebut, kita akan dapat mengerti bahwa perintah puasa tersebut sesungguhnya merupakan kebaikan bagi manusia itu sendiri. Secara lebih luas Tuhan menyatakan bahwa puasa tersebut akan dapat membuat seseorang menjadi semakin takwa. Allah berfirman dalam kitab suci yang berbunyi :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian menjalankan puasa sebagaimana puasa tersebut juga diwajibkan bagi umat sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al Baqarah/2 : 183) Ketakwaan yang dimaksudkan oleh Tuhan tersebut ialah kesempurnaan ketaatan yang menyeluruh dari seorang hamba yang mempunyai sifat-sifat terpuji, antara lain mempercayai dengan sepenuh hati dan pikiran mengenai Allah dan hal-hal ghaib lainnya, menjalankan ibadah shalat dan mau menyedekahkan sebagaian rizki yang di karuniakan oleh Tuhan kepadanya, mempercayai kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul serta mempercayai kehidupan akhirat yang kekal. Demikian juga sifat ketakwaan tersebut tercermin dalam kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dari emosi dan hawa nafsu, mudah memberikan maaf kepada sesama manusia yang bersalah kepadanya. Bahkan jikalau dia terlanjur menjalankan sebuah perbuatan yang menyakitkan pihak lain atau perbuatan maksiat lainnya, segera ia ingat kepada Allah serta saat itu pula kemudian ia meminta ampunan dan bertaubat kepada-Nya, dalam arti menyesali perbuatan tidak terpuji tersebut dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Pada saat Allah memerintahkan dan juga menganjurkan untuk berzakat dan bersedekah dari harta yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba, di antara mereka juga ada yang menyikapinya dengan rasa berat, dan kalaupun kemudian terpaksa mengeluarkan zakat ataupun infak tersebut dilakukan dengan rasa kurang ikhlas. Kebanyakan mereka mengira bahwa harta yang ada di tangan mereka itu akan dapat menjadikan mereka hidup bahagia dan mengekalkannya. Padahal sesungguhnya semua harta tersebut sifatnya hanya sementara, dan kalau Tuhan mau mengambilnya, dengan sangat mudah akan lenyap dalam sekejap. Perintah zakat maupun sedekah tersebut sesungguhnya untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia itu sendiri, baik secara individu maupun secara keseluruhan umat. Tuhan bahkan jiga mengancam bagi siapapun yang menumpuk harta di dunia ini dan sama sekali tidak memberikan haknya dengan siksaan yang sangat pedih. Allah swt telah berfirman dalam kitab suci yang berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menumpuk-numpuk harta berupa emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berilah berita kepada mereka tentang siksaan yang pedih”. (QS. At Taubah/9 : 34)

Melihat kenyatan seperti itu, maka sebagai orang yang beriman kepada Allah swt, tentu kita harus menyikapi semua perintah Allah tersebut dengan baik sangka atau khusnudzan dan mempercayai secara penuh bahwa semua yang diputuskan oleh Allah tesebut merupakan kebaikan dan akan membawa serta menghantarkan kita kepada kesejahteraan yang sejati. Kita harus menyakini bahwa semua yang Allah bebankan kepada kita sudah pasti mengandung tujuan yang sangat baik dan menguntungkan kepada kita. Hukum syariat Islam seperti : hukuman mati bagi pelaku kejahatan yang sangat merugikan umat manusia atau yang sangat membahayakan keutuhan dan keberlangsungan manusia, tentu sangat tepat untuk memutus mata rantai kerusakan yang lebih parah. Justru dengan bentuk hukuman berat seperti hukuman mati tersebut, akan ada kehidupan yang lebih baik, dan sebaliknya ketika hukuman yang diterapkan hanya ringan untuk kejahatan yang luar biasa, akan semakin menyuburkan kejahatan itu sendiri. Inilah yang seharusnya difikirkan oleh semua pihak terutama bagi mereka yang mempunyai kebijakan.

Pada akhirnya kita hanya dapat berharap semoga kita, umat Islam yang beriman dapat menyikapi perintah dan ketetapan Allah dengan legowo dan yakin bahwa semua itu merupakan keputusan yang terbaik bagi kita dan akan membawa kesejahteraan sejati bagi kita. Dengan begitu kita sangat patut untuk berharap bahwa Tuhan akan senantiasa memberikan anugerah-Nya kepada kita dan membimbing kita kepada kebenaran sejati serta menempatkan kita bersama dengan golongannya para ulama, para muttaqin, shiddiqin, mukhlisin dan mereka yang mendapatkan nikmat dari Allah swt. Sekali lagi, semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari sikap menentang dan sinis terhadap semua keputusan Allah swt, serta menghindarkan kita dari perbuatan mungkar yang hanya akan menggiring kita kepada kesengsaraan dan neraka.

Amin ya Rabbal ‘alamin. ***** =========================== *)

Prof. Dr. H. Muhibbin Noor, MA.; Rektor IAIN Walisongo Semarang & Pembina YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah