Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 22 Maret 2013 M / 10 Jumadil Awal 1434 H MANAJEMEN PRIBADI MUSLIM

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 22 Maret 2013 M / 10 Jumadil Awal 1434 H

 

MANAJEMEN PRIBADI MUSLIM

Oleh : dr. H. Affandi Ichsan, Sp. PK. (K) KKV, M.Ag. *)

Tiada kata terindah selain puji dan syukur ke hadirat Ilahi Rabbi atas berbagai nikmat yang dikaruniakan kepada kita, antara lain : kesehatan, kelonggaran waktu, dan lebih-lebih lagi nikmat Iman dan Islam. Dalam rangka menambah kwalitas iman dan takwa kepada Allah, maka marilah kita memperbanyak berdzikir, seperti : bertasbih, tahmid, dan tahlil. Karena dengan selalu ingat kepada Allah maka insya-Allah kita akan tergolong sebagai orang-orang yang beruntung. Dengan tergolongnya kita sebagai orang-orang yang beruntung, maka kita akan terjaga dari sesuatu yang dapat merusak tatanan di masyarakat, agama, bangsa, dan bernegara.

Manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk termulia, sesungguhnya telah menerima tugas yang diamanatkan oleh Allah untuk tidak saja menerima, tetapi juga memelihara dan mengembangkan alam semesta ini dengan sebaik-baikinya, bahkan manusia yang dilengkapi pula dengan “akal” yang tidak saja untuk menjaga keseimbangan hidup tetapi juga untuk mensejahterakan manusia itu sendiri. Di dalam menerima tugas dari Allah tersebut, Allah memberikan 3 (tiga) tugas utama, yakni :

1) Sebagai makhluk bio genetis; yaitu makhluk yang berhubungan dengan manusia itu sendiri, seperti : air, udara, matahari, sandang, papan, pangan dan sebagainya termasuk kebutuhan seks yang merupakan sunnatullah.

2) Sebagai makhluk sosio genetis; berhubungan dengan komunikasi antar sesama manusia karena kita diciptakan oleh Allah bukan sebagai makhluk yang “tunggal”, justru manusialah yang paling banyak membutuhkan komunikasi dengan siapapun dibandingkan dengan ciptaan Allah yag lain.

3) Sebagai makhluk teo genetis; yakni kebutuhan manusia yang berhubungan dengan sang Kholiq yakni Allah swt. Itulah sebabnya manusia diciptakan oleh Allah tidak saja sebagai makhluk pribadi tetapi juga makhluk sosial dan sekaligus hamba Allah swt.

Agar manusia dapat memenuhi 3 (tiga) kebutuhan dasar sebagaimana tersebut di atas, maka Allah menurunkan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup kita, berbagai contoh kehidupan yang bernilai baik maupun tidak baik banyak dicontohkan sebagaimana terdapat di dalam Al Qur’an surat Az Zumar/39 : 27

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”.

Di samping itu Allah swt juga memberikan pelajaran agar manusia dapat mengambil hikmah dan mampu memanaj kehidupannya dengan baik, antara lain melalui berbagai kisah sebagai berikut :

1) Anak-anak muda yang mempertahankan keimanan dan rela meninggalkan kehidupan dunianya dengan masuk ke dalam gua selama 309 tahun;

2) kIsah anak Adam As bernama Qabil yang membunuh saudaranya sendiri bernama Habil karena keinginan nafsunya untuk memperistri adiknya sendiri;

3) Raja Ramses dari Mesir atau yang terkenal dengan nama Raja Fir’aun yang haus kekuasaan dan bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan;

4) Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa As dan dikenal sebagai pribadi yang taat, khusyu’, dan tawadhu, berubah 180 derajat lantaran godaan iblis lewat istrinya yang bernama “Ilfa” dan hartanya yang melimpah ruah, bahkan Qarun mengatakan bahwa harta yang diperoleh bukan atas pemberian Allah. Melihat hal itu, kemudian Allah meluluh lantakkan seluruh harta dan kekayaan yang dimilikinya ke dalam tanah.

5) Seorang anak kecil bernama Ibrahim dalam mencari Tuhannya, sehingga doa-doanya diabadikan di dalam Al Qur’an; dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang dapat kita ambil pelajarannya.

Dari kisah-kisah tersebut, kita harus mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar jauh lebih baik, kesimpulan dari kisah-kisah tersebut adalah :

1) Mari kita pelihara kebersihan jiwa dan raga kita secara maksimal;

2) Memperbanyak syukur kepada Allah;

3) Berbuat baik kepada sesama;

4) Saling mencintai di antara sesama;

5) Menjadi manusia muttaqin yang membumi, yang menjadikan agama kita lebih bermakna dalam kehidupan bermasyarakat, menjadikan iman menyatu dengan amal kebajikan, dan menjadikan ibadah kita menjadi payung kemanusiaan, serta mampu menjadikan agama kita menjadi rahmatan lil ‘alamin, tidak hanya di dalam ceramah maupun retorika.

Itulah sebabnya Rasulullah saw menggambarkan dalam hadistnya bahwa : “Iman itu bagaikan pohon yang rindang lagi kuat, akarnya menghunjam ke bumi, daunnya lebat, dan buahnya enak untuk dimakan”.

Akar yang menghunjam ke bumi dimaksudkan : mampu mencegah banjir, rob, dan tanah longsor. Batangnya yang kuat bisa digunakan untuk sandaran dan jika dipotong dapat dijadikan sebagai alat pembangunan. Daunnya yang lebat bisa digunakan sebagai tempat berteduh dan buahnya yang lezat bisa kita makan sehingga mampu menghasilkan energi untuk beraktivitas. Iman yang tanpa dimaknai dan dimanaj dengan baik, maka tidak akan memiliki arti apa-apa dan bahkan kita tidak akan mampu merasakan apa yang disebut dengan lezatnya iman. Oleh karena itu, marilah kita telaah satu demi satu bagaimana cara diri kita dapat merasakan lezatnya iman, yakni :

1) Mensucikan diri secara lahir batin; karena hal ini merupakan pra syarat dalam beribadah kepada Allah swt. Suci mental kita, karena di era globalisasi seperti sekarang ini dikhawatirkan akan dapat membawa kepada perbuatan syirik kecil, seperti : rasa cinta yang berlebih-lebihan kepada harta, tahta/jabatan, wanita yang dilakukan secara instan dengan melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, perdagangan illegal (narkoba dan obat-obatan terlarang).

2) Memperbanyak syukur; banyak orang berbicara tentang syukur namun berhenti pada taraf kognitif saja, tidak sampai pada tataran afektif apalagi psikomotorik sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Qur’an.

Untuk itu, dalam bersyukur hendaknya kita mengacu pada beberapa hal berikut ini, yakni :

1) Qanaah; yakni merasa cukup terhadap apa yang dikaruniakan Allah swt kepada kita. Orang yang tidak qanaah maka dalam hidupnya merasa kurang, dia tidak akan merasakan kenyamanan dalam hidup. Bersyukur tidak sekedar saat memperoleh materi semata, tetapi apapun yang dianugerahkan Allah kepada kita harus disyukuri, seperti : ilmu, jabatan, anak & istri kita dan lain sebagainya.

2) Hidup ini 2 (dua) pasangan, yakni : atas-bawah, kiri-kanan, laki-laki-perempuan, kaya-miskin, siang-malam, sedih-gembira dan seterusnya, dan Rasulullah saw telah mengingatkan : “Lihatlah mereka yang ada di bawah, janganlah kamu melihat yang di atas karena jika kamu terus saja melihat ke atas maka yang ada hanya ketidak puasan”.

3) Apapun yang dikaruniakan Allah kepada kita, hakekatnya tidak akan kekal, semuanya akan kita tinggalkan kecuali iman dan takwa kita ke hadirat-Nya.

Dalam sebuah kisah terjadi percakapan antara Sayyidina Umar ibn Khathab ra dan sahabat Hudzaifah, Hudzaifah berkata : Wahai Umar, aku sekarang senang kepada fitnah, benci kepada kebenaran, shalat tanpa wudhu, dan aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Allah di ‘Arsy. Mendengar perkataan Hudzaifah tersebut, Umar ibn Khathab ra berkata : Subhanallah, astaghfirullah, lalu mereka bersalaman dan dengan muka yang merah padam Umar ibn Khathab meninggalkan sahabat Hudzaifah, di tengah perjalanan Umar ibn Khathab bertemu dengan sahabat Abu Bakar Ash Shidiq ra dan menceritakan percakapan keduanya, karena dianggap dapat merusak aqidah. Namun Abu Bakar Ash Shidiq ra tersenyum simpul dan berkata : Apa yang dikatakan Hudzaifah adalah benar adanya, ia mengatakan :

1) Senang kepada fitnah; ingatlah bahwa harta, istri, dan anak jika tidak dimanaj dengan baik maka akan menimbulkan fitnah di kemudian hari.

2) Benci kepada kebenaran; kematian adalah kebenaran dan keniscayaan, maksudnya ia takut akan kematian sebelum mampu mengumpulkan amal kebajikan dan memperbanyak ibadah kepada Allah swt.

3) Shalat tanpa wudhu; karena ia telah berwudhu, doa wudhu, shalat sunnah wudhu, kemudian shalat rawatin. Ia tidak wudhu lantaran tidak batal dan mampu menjaga wudhunya dengan beribadah ke hadirat Allah swt.

4) Memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Allah swt di ‘Arys; maksudnya adalah bahwa Hudzaifah memiliki anak, istri, harta dan sebagainya, karena sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ikhlas/112 : 1-4

“Katakanlah : “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Maka marilah memanaj hidup ini dengan selalu berbuat baik kepada sesama maupun lingkungan di sekitar kita. Ketaukidan dan ketakwaan kita kepada Allah swt tidak akan memiliki makna apapun manakala kita tidak mampu berbuat kebaikan di muka bumi ini.

Marilah kita simak firman Allah surat Al ‘Ashr/103 : 1-3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen mencintai sesama manusia, Allah swt menciptakan kita berada dalam satu kesatuan yakni “ketaukidan”, tetapi juga menciptakan kondisi sosial yang berbeda-beda. Kita patut bersyukur, walaupun berbeda-beda namun Allah memandang orang yang ber-takwa-lah yang paling mulia di sisi-Nya. Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya : “Tidak akan masuk surga bagi orang yang tidak beriman, kalian tidak beriman jika tidak saling mencintai”.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa “iman” dan “takwa” adalah modal utama dalam rangka meraih kemuliaan di sisi Allah swt, di samping itu kita harus selalu menanamkan budaya saling mencintai antar sesama dan lingkungan dalam koridor yang telah diatur dalam Al Qur’anul Karim.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

 

=================================

*) dr. H. Affandi Ichsan, Sp PK (K) KKV, M.Ag.; Ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq, & Sadaqah (LAZISBA) Masjid Raya Baiturrahman Semarang