Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 05 April 2013 M / 24 Jumadil Awal 1434 H MEMBANGUN GENERASI YANG KUAT

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 05 April 2013 M / 24 Jumadil Awal 1434 H

 

MEMBANGUN GENERASI YANG KUAT

Oleh : Drs. H. Ahmad Anas, M.Ag. *)

Ada sejumlah anak yang mudah putus asa, rendah diri, dan selalu kebingungan. Akibatnya ia mudah terjerumus ke dalam jurang kesesatan, ia terjebak dalam dunia malam, narkotika, obat-obatan terlarang, berani melawan orangtua, suka menipu dan penyimpangan sosial lainnya. Semua capaian hidup kita akan hilang begitu saja manakala generasi di belakang kita adalah generasi dengan penyakit rohani yang kompleks. Segala jerih payah orangtua baik harta benda, kedudukan, maupun pangkat menjadi sirna begitu saja manakala kita diuji dengan berbagai penyimpangan sosial akibat perilaku dari anak-anak kita.

Allah swt memerintahkan kepada kita agar mempersiapkan generasi yang kuat lahir dan batin, sebagaimana termaktub dalam surat An Nisa’/4 : 9 yang berbunyi :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Pemahaman kita pada generasi yang kuat bukanlah sekedar pada fisik atau tubuhnya saja, melainkan lebih penting pada kekuatan mental. Dalam sejarah kenabian disebutkan ada seorang keturunan Bani Israil yang bernama Simson atau Sam’un, dia memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tubuhnya kekar dan dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani di masa itu, hal ini bukan saja karena otot-ototnya yang kekar, melainkan karena orang tuanya telah bernazar kepada Allah agar Simson menjadi abdi Allah yang setia. Allah swt mengabulkan nazarnya dan menganugerahi Simson keperkasaan tubuh guna melawan kebatilan. Di kemudian hari Simson menjadi pembesar Bani Israil.

Meskipun dia memiliki kedigdayaan, namun pada kenyataannya dia adalah seorang yang lemah. Kekuatan Simson runtuh manakala ia tidak menuruti perintah-perintah Allah. Dikisahkan bahwa ia bergaul dengan para penyembah berhala, peminum khamr, dan orang-orang durhaka yang akhirnya merusak dirinya. Di puncak pergaulannya ia terjerumus oleh tipu daya perempuan yang telah memperbudaknya menjadi orang lemah dikarenakan ia telah dikendalikan oleh perempuan durhaka.

Ia tidak lagi memiliki kekuatan pikiran dan jiwanya untuk tunduk kepada Allah swt, sebaliknya ia tunduk kepada perempuan yang durhaka kepada Allah. Berharap pada kekuatannya yang besar, ternyata ia tersungkur oleh pengaruh-pengaruh perempuan yang memanjakan nafsu birahi yang bejat. Di hadapan perempuan yang durhaka itu, Simson memperlihatkan rahasia kekuatannya. Sekiranya Simson tetap berpegang teguh pada aqidah dan tidak memperlihatkan rahasia kepada si wanita tersebut, niscaya ia akan terselamtkan dari tipu daya syetan yang hendak meruntuhkan mukjizatnya.

Selama ribuan tahun manusia bergelut melawan tipu daya syetan melalui berbagai cara. Sebagai orangtua, kita berkewajiban menjauhkan anak-anak dari segala tipu daya syetan agar tidak tersesat dari jalan-Nya. Kesesatan adalah suatu kelemahan karena hanya akan menghantarkan kesengsaraan manusia di dunia dan akhirat. Kelemahan, kesesatan, dan kedurhakaan inilah yang dikehendaki oleh syetan agar manusia menjadi golongannya.

Ketika syetan telah berkuasa di dalam diri kita, maka sudah pasti kita akan lupa dengan Allah swt, sehingga manusia tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk beribadah kepada Allah swt. Allah swt berfirman dalam surat Al Mujadalah/58 : 19 yang berbunyi :

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”.

Agama yang sejati mengajarkan kita supaya menjauhkan sama sekali segala hal yang membahayakan serta menggunakan dengan bijaksana segala hal yang menyehatkan, sebaliknya larangan-larangan Allah sudah pasti membahayakan.

Guna memastikan anak yang kita terima dari Allah itu memiliki kekuatan yang sejati, maka kebiasaan-kebiasaan anak harus diatur dengan seksama. Orangtua, apakah ibu, ayah, atau guru sangat berperan dalam membiasakan kebaikan ataupun keburukan anak-anak. Setiap hari anak belajar dalam kesempatan, yakni dikala : tidur, makan, berbicara, mengenakan pakaian dan bahkan buang air besar maupun kecil-pun anak-anak belajar dari apa yang diajarkan oleh orangtua.

Setiap  orangtua memiliki dorongan untuk memperkuat anaknya. Orangtua yang bijaksana dan tunduk pada Allah memperkuat anaknya dengan membiasakan kehidupan yang tunduk kepada Allah juga. Orangtua terlibat dalam tanggungjawab ini, sehingga seringkali akibat dari kelalaian orangtua, anak-anak memiliki kekurangan jasmani dan rohani. Akibatnya anak-anak secara mental dan moral menjadi lemah. Orang yang tidak bermoral atau tidak tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya seringkali mewariskan kecenderungan-kecenderungan asusila kepada keturunan atau lingkungannya.

Kecenderungan setiap generasi untuk jauh lebih merosot ke dalam jurang kehancuran makin tampak karena tidak adanya penguatan moral, iman, takwa, dan mental. Oleh karenanya, ketika Tuhan berpesan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, maka pesan ini sesungguhnya tidak selalu berhubungan dengan anak-anak yang memiliki tubuh besar, otot kuat, dan bisa mengalahkan lawan-lawannya. Namun sesungguhnya Allah sedang berbicara kepada kita mengenai generasi yang memiliki kekuatan jiwa untuk membangun diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Dan kekuatan jiwa ini dapat kita tumbuhkan melalui pelatihan dan pembiasaan untuk senantiasa tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.

Akhirnya, semoga harapan kita sebagai orangtua dapat mewujudkan kewajiban untuk mempersiapkan generasi yang kuat lahir dan batin. Ingatlah wahai saudaraku, generasi yang kuat mental dan fikirannya tidak akan terwujud tanpa pendidikan yang memadai. Demikian pula generasi yang sehat dan kuat tubuhnya tidak akan terwujud manakala kita tidak memperhatikan makanan yang halal dan thayyib.

Sesungguhnya bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu memenangkan pertempuran melawan hawa nafsunya. Dengan demikian, generasi yang kuat adalah generasi yang memiliki iman, cerdas emosi, dan cerdas spiritual serta beramal salih. Generasi seperti inilah yang akan menjadi barakah dalam kehidupan kita. Amin Allahumma amin. *****

=========================

*) Drs. H. Ahmad Anas, M.Ag.; Dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang & Ketua KBIH Riyadhul Jannah Perum BPI Ngaliyan Semarang