KEUTAMAAN NABI MUHAMMAD SAW DI ATAS NABI-NABI SEBELUMNYA Oleh : KH. Drs. Mustaghfiri Asror *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 24Januari 2014 M/          22Rabiul Awal 1435 H

Dalam situasi yang bagaimanapun, mari kita senantiasa berusaha bersyukur ke hadirat Allah swt, dalam keadaan sesempit apapun pasti di sana masih ada ruang untuk bersyukur karena nikmat Allah yang diberikan kepada kita sungguh tidak dapat kita hitung. Saat ini kita alhamdulillahi Rabbil ‘alamin hati dan fisik kita digerakkan oleh Allah swt meninggalkan segala macam aktivitas di luar ibadah, seluruhnya kita tinggalkan hanya untuk memenuhi panggilan Allah dalam surat Al Jumu’ah/62 : 9 ialah melaksanakan shalat Jum’ah dengan segala rangkaiannya, demi untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas takwa kita kepada Allah swt.

Nikma terbesar yang dianugerahkan Allah swt kepada kita ialah terutusnya Nabi Agung Muhammad saw, karena misi yang dicanangkan oleh beliau adalah untuk mensejahterakan manusia baik lahiriyah maupun batiniyah, duniawiyah maupun ukhrowiyah, atau keseimbangan hidup, sejalan dengan pesan Allah swt dalam surat Al Qashash/28 : 77 :

Artinya :  “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…“.

Dalam rangka menumbuhkan cinta kita kepada Nabi Akhirizzaman Nabi Muhammad saw, mari kita kaji ulang bahwa Nabi Muhammad saw beserta umatnya mempunyai banyak kelebihan, dimana kelebihan itu tidak diberikan Allah umat-umat terdahulu. Di antara kelebihan-kelebihan itu ialah :

1) Siksanya ditunda;

Sebagaimana yang sudah kita sadari bersama bahwa seseorang akan menerima balasan sesuai dengan amalnya, sesuai dengan amalnya, sebagaimana ungkapan Jawa : “Becik ketitik olo ketoro = Amal baik akan menerima balasan baik, amal buruk akan menerima balasan buruk“.

Kita ini umat Nabi Muhammad saw, kalau melakukan dosa juga akan mendapat balasan siksa dari Allah swt, hanya saja siksa itu eksekusinya akan ditunda besok di alam akhirat, bukan diberikan di dunia ini. Tetapi sebaliknya, umat-umat Nabi terdahulu jika melakukan dosa maka siksanya kontan, yakni diberikan langsung di dunia ini. Lihat saja umat Nabi Musa As. Dalam Al Qur’an surat Al A’raf/7 : 133 :

artinya  “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa“.

Dosa apa yang dilakukan oleh umat Nabi Musa As sehingga Allah swt menurunkan siksa yang beraneka macam ragam itu ?. Dalam surat Al Baqarah/2 : 55 menjelaskan :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata : “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.

Demikian juga kaum Nabi Nuh As sebagaimana dijelaskan ayat 14 surat Al Ankabut/29 :

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang dzalim“.

Banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh As itu selama 6 (enam) bulan 10 (sepuluh) hari, yaitu mulai bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan 10 (sepuluh) hari bulan Muharram (Asyuro).

Dengan demikian, kalau sekarang ini terjadi bencana atau musibah di mana-mana, insya-Allah belum sampai pada tingkatan adzab atau siksa, tetapi masih pada taraf peringatan, ujian, ataupun cobaan. Sebagaimana telah ditegaskan Allah swt dalam surat Ar Rum/30 : 41 :

Artinya : “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya  Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)“.

2) Nabi Muhammad saw adalah Nabiyyil Ummiyyi; yakni Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Allah swt menyebutkan bahwa Nabi akhiruz zaman itu sebagai Nabi yang Ummiyyi, disebutkan 2 (dua) kali di dalam surat Al A’raf/7 : 157-158.

Tentang predikat Nabiyyil Ummiyyi ini timbul pertanyaan : Mana mungkin seorang menjadi pemimpin dunia dan akhirat, menjadi pemuka para Nabi dan Rasul tetapi tidak bisa membaca dan menulis, sungguh sesuatu yang aneh dan bahkan tidak bisa diterima oleh akal sehat. Rasulullah sebagai Nabi yang Ummiy dan menjadi pemimpin dunia memang sudah menjadi takdir Allah swt, meskipun akal tidak bisa menerima. Memang hanya akal yang berisi iman saja yang bisa menerima kenyataan itu.

Beliau sebagai pemimpin dunia tidak bisa membaca dan menulis, tetapi beliau segala gerak geriknya, sepak terjangnya, dan segala ucapannya langsung dibimbing oleh wahyu Allah swt, sebagaimana firman_Nya :

Artinya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur‘an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)“. (QS. An najm/53 : 3-4)

Bimbingan wahyu jelas lebih unggul dan lebih sempurna daripada bimbingan ilmu dan akal. Karena semakin tua akal seseorang semakin berkurang kemampuannya. Apalagi akal kalau tidak dibimbing oleh wahyu Allah, ujung-ujungnya pasti perbuatan fakhsya‘ dan mungkar.

3) Rasulullah saw memiliki sifat empati. Sifat beliau ini termuat di dalam surat At Taubat/9 : 128 :

Artinya : “….. merasa berat atas penderitaan kaumnya…“

Empati Rasulullah saw terhadap umatnya yang hidupnya jauh dari kemampuan ekonomi, apalagi sedang mengalami musibah, sungguh menjadi salah satu akhlak beliau yang sangat jarang dapat ditiru oleh orang-orang sesudahnya. Sikap dan sifat beliau ini akan tambah jelas ketika Sayyidatina Aisyah menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah berdoa yang artinya :

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah akau dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku besok di Padang Makhsyar bersama orang-orang miskin“.

Coba do’a Rasulullah ini kita renungkan dan hayati bersama, adakah orientasi Rasulullah kepada masyarakat dhu’afa ini sudah menjadi watak dan kepribadian para pemimpin di negeri tercinta ini.  Ingat !! bahwa siapapun orangnya dan organisasi apapun namanya kalau semakin dekat dan mengamalkan ajaran Rasulullah, insya-Allah semakin dekat kepada keberkahan hidup dan akan sukses. Sebaliknya, siapapun dan organisasi apapun yang semakin jauh dengan ajaran Rasulullah saw, maka hidupnya akan semakin jauh dari kesuksesan dan keberkahan.

Ya Allah ya Rabb, berikanlah kepada kami kekuatan lahir dan batin, sehingga kami dapat mengamalkan keteladanan yang diberikan oleh hamba-Mu yang paling mulia, Nabi Muhammad saw sehingga kami nantinya tergolong hamba-Mu yang memperoleh kebahagiaan lahir maupun batin, kebahagiaan dunia maupun di akhirat serta tergolong hamba-Mu yang akan memperoleh Syafatul Udzma dari Rasulullah saw. Amin….amin…..amin ya Rabbal ‘alamin. *****

===========================

*) KH. Drs. Mustaghfiri Asror; Ketua Bidang Takmir Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang