KETELADANAN NABI IBRAHIM AS DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Oleh : Dr. KH. Fadholan Musyafa’, Lc.. MA. *)

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) (الصافات: 103-111)

Perjalanan risalah kenabian Nabi Ibrahim AS dalam melakukan perintah Allah SWT berupa pengorbanan hendak menyembelih anaknya, adalah sebagai pelajaran kepatuhan hamba pada Sang Pencipta, dengan ketulusan pasrah hati kedua belah pihak Ibrahim dan Ismail untuk berserah diri pada Allah, dan Siti Hajar juga sepakat meridhoi kehendak suami dan anaknya untuk berkorban yakni Ismail sang anak tercinta yang dinanti-nantikan kelahirannya, adalah keyakinan melakukan perintah Allah, maka cukuplah keimanan sampai di situ, lalu Allah menggantikan badan Ismail dg seekor kambing biri-biri. Kemudian kurban diteruskan dengan Allah gantikan di genggaman tangan Ibrahim berupa seekor kambing.

Dari wahyu ini, banyak pelajaran yang bisa kita petik, di antaranya adalah :

Pelajaran pertama; Setelah Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah untuk dikarunia anak dari istrinya Sayyidah Hajar, maka Allah mengabulkan mendapat keturunan Ismail yang kelak akan menjadi Nabi juga. Kemudian Ibrahim amat mencintai Ismail bersama dengan Hajar. Dari sinilah Allah memberikan ujian atas kecintaan dan egoistis seorang hamba dicoba oleh Sang Pencipta, bahwa mampukan ia menanggalkan sifat kecintaan hamba melebihi kecintaannya pada Allah ?. Maka diujilah Ibrahim dan Ismail dengan mukjizat, dan keduanya telah lolos ujian dengan penuh kepasrahan.

Pelajaran Kedua; Ibrahim dan Ismail adalah calon pemimpin dunia Arab yang akan menjadi bapaknya para Nabi, sebelum jadi pemimpin mesti harus mampu menanggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang lain, maka dicobalah mereka berdua untuk membuang jauh sifat ego pribadi. Kesadaran kolektif bermasyarakat dimulai dari 3 (tiga) insan (Ibrahim, Hajar dan Ismail)  yang ikhlas berserah diri menerima wahyu Allah SWT dan menjalankannya, dan ujian ini juga telah berhasil.

Pelajaran Ketiga; Nabi Ibrahim AS adalah Nabi yang multi talenta yang menjadi bapaknya para Nabi setelahnya dimana syariatnya banyak yang masih diabadikan untuk anak cucu Nabi sampai akhir zaman, sebagaimana kewajiban haji dan tatacara pelaksanaan manasik haji, melakukan khitan bagi setiap muslim laki-laki.

Pelajaran Keempat; Berupa pendidkan karakter bagi putra-putrinya yang dibangun dari aqidah keimanan pada Allah SWT yang murni tanpa ada campuran musyrik, kepatuhan dan tawakal yang tinggi, bersandarkan pada wahyu yang dibawa para Rasul-Rasul Allah, mengajarkan ilmu-ilmu dari Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah), selalu mensucikan diri dari kemusyrikan dan perbuatan dosa maksiat. Hal ini terekam dalam tafsir Imam Fakhruddin Ar Razi dalam menafsirkan Al Qur’an surat Al Baqarah/2 : 127-129 yang berbunyi :

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ الْقَواعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْماعِيلُ رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127) رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129)

Artinya : Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail, seraya berdoa : Ya Tuhan kami terimalah daripada amalan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya enkau maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka (anak-cucu kami) seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mencucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Keimanan, kesabaran, keikhlasan perjalanan hidup 3 (tiga) insan (Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail) dalam menapak kehidupan mereka menjadi sejarah monumental untuk petunjuk peribadatan bagi umat manusia, yaitu petunjuk ibadah qurban dan kewajiban ibadah haji. Keimanan, kesabaran, keikhlasan dalam menghambakan diri kepada Allah dari qurban Ismail, menjadi teladan abadi ritual ibadah qurban.

Keimanan, kesabaran, keihlasan dan ketaatan siti Hajar pada suaminya Nabi Ibrahim, dalam menjalankan perintah Allah, di tinggalkan di bumi yang tandus tanpa bekal, terjadilah si bayi Ismail kehausan, sehingga ibunya Siti Hajar dalam kepanikannya, bolak balik lari 7 (tujuh) kali antara Shofa dan Marwa. Berkah  keimanan, kesabaran, keihlasan dan ketaatan           Siti Hajar pada suaminya Nabi Ibrahim untuk menunaikan perintah Allah inilah telah diabadikan menjadi ritual sya’i dalam manasik ibadah haji.

Inilah pendidikan karakter yang diletakkan Nabi Ibrahim untuk dasar-dasar kehidupan bagi anak cucu keturunan Nabi Ibrahim, seluruh umat Islam untuk beriman, bersabar, bertawakal pada Allah SWT dengan selalu menjalankan perintah syariat-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga kita semua mampu meneladani pendidikan yang telah diajarkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

بارك اللــه لي ولكم فى القر اّن العطيم  ونفعنى واياكم بما فيه من الاّيا ت و الذكر الحكيم  وتقبل منى  ومنكم تلا وته انه هو السميع العليم و قل رب اغفر وارحم وانت خير الر احمين

————————————–

*) Dr. KH. Fadholan Musyafa’, Lc. MA.; Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah