KESATUAN 4 (EMPAT) PILAR DALAM KEHIDUPAN ISLAMI (FOUR IN ONE) Oleh : Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA. *)

Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tgl. 28 Februari 2014 M/28 Rabiul Akhir 1435 H

Alhamdulillahi Rabbil ’alamin, bahwa segala sesuatu yang kita amalkan pagi, siang, sore, dan malam tidak lain untuk selalu mencari ridha Allah dan semuanya itu kita amalkan untuk selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Rabbil ‘izzati al-Karim. Perlu disadari dan dimengerti bahwa manusia tercipta di muka bumi ini memiliki tugas kekhalifahan, yang berarti manusia mengemban amanat kehidupan yang cukup berat. Hal itu jika tidak dilakukan dengan penuh keikhlasan dalam mengemban amanat itu, maka justru akan menjadi bumerang yang berakhir pada kesengsaraan dalam kehidupan manusia dibumi ini. Manusia harus memahami bahwa kehidupan di bumi ini tidak lain adalah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan tanpa pengorbanan ibarat kereta api berjalan tanpa bahan bakar sehingga tidak pernah sampai tujuan, sedangkan pengorbanan tanpa perjuangan ibarat menanam tanaman bibit unggul di atas lahan yang tidak subur, sehingga tidak akan menghasilkan panenan yang menggembirakan. Oleh karena itu, sesama makhluk hidup harus selalu saling mendukung dan bisa saling mengambil keuntungan untuk melanjutkan misi masing-masing kehidupannya. Manusia dalam hal ini berusaha membaca rahasia alam melalui ayat-ayat kauniyah, sebagaimana Allah berfirman yang  Artinya :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan ? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan ? dan bumi bagaimana ia dihamparkan ?”. (QS. Al Ghasyiyah/88 : 17-20)

Memperhatikan pesan Allah dalam surat Al Ghasyiyah itu, maka khusus bagi manusia, bahwa misi kehidupannya adalah melakukan pengamatan terhadap segala sisi kehdiupan alam sebagai ayat kauniyyah untuk menghasilkan sesuatu yang bisa sebanyakmungkin bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain (khairunnasi anfa’uhum linnasi). Manusia dalam menjalankan misi kehidupannya itu tentu tidak sendirian, mereka selalu mengadakan komunikasi dengan makhluk lain untuk selalu saling mengambil manfaat demi perkembangan hidupnya yang menjadi amanat perintah Allah dan menjauhi laranganNya yang menjadi sebab kemurkaanNya. Semuanya itu dilakukan tentunya dalam rangka mencari legalisasi keridhaanNya, sehingga manusia dapat mencapai tujuan hidupnya yakni baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Nah, untuk mencapai apa yang diangan-angankan itu manusia harus melakukan dan melampui 4 (empat) hal dalam bingkai kesatuan (four in one) sebagai berikut: 1) Tafakkur; Istilah itu berasal dari kata tafakkara yang berarti “berfikir”. Setiap manusia dikaruniai akal untuk memikirkan segala sesuatu, terutama hal-hal yang terkait dengan dinamika kehidupan. Manusia tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna, terutama karena ia dilengkapi dengan kemampuan kognitifnya untuk mempertimbangkan segala perilakunya dalam rangka memanfaatkan fenomena alam untuk mencapai kebahagiaan ketika menjalankan segala perilakunya dalam kehidupan ini. Allah berfirman dalam surat At Tin/95 : 4, sebagai berikut :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Memperhatikan ayat tersebut, ada tututan bagi manusia untuk berfikir demi menghasilkan suatu hal yang bermanfaat bagi manusia. Jika hal yang dianjurkan tersebut tidak tercapai, maka manusia dalam fungsinya sebagai khalifah gagal menjalankan misi kehidupan, maka pantaslah jika Allah kemudian memberi peringatan keras kepada manusia dengan menjatuhkan derajat kemanusiaannya menjadi tidak bermartabat di tengah-tengah masyarakatnya.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS. At Tin/95 : 5

Menurut ayat dalam surat At Tin itu, berarti manusia menempati posisi makhluk yang paling rendah, karena memang ia tidak memiliki kesadaran untuk membangun, baik bagi dirinya sendiri, tetangganya, saudaranya, dan bahkan bagi orang lain. Hal itu bisa terjadi karena kebodohannya itu sealalu menyelimuti dirinya, maka jauhilah dan perangilah kebodohan itu . Pepatah mengatakan :

“Kebodohan itu menjadi musuh yang paling membahayakan bagi manusia”.

maka membacalah, belajarlah, berlatihlah, dan berfikirlah, karena secara filosofis eksistensi manusia justru karena dia mau berfikir (cogito ergo sum). Oleh sebab itu jauhilah menjadi manusia yang memiliki sikap kedunguan dan kebodohan. 2) Tadabbur; Istilah ini merupakan rentetan kedua setelah manusia mau berfikir, hasil dari pemikiran manusia kemudian dicerna, dipahami, dimengerti kemudian menjadi suatu kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus selalu memperhatikan fenomena yang ada di alam semesta ini. Hal itu sangat jelas disinggung dalam pepatah yang mengatakan tafakkaru fi al-khalq wala tafakkaru fi al-Khaliq (Pikirkanlah apa-apa yang diciptakan Allah, dan jangan kau pikirkan dzat Allah). Kenyataan itu menyadarkan kita, bahwa manusia dituntut untuk memikirkan ciptaan Allah, tetapi manusia perlu menyadari pula bahwa dirinya tidak akan mampu untuk memikiran dzat Allah, karena memang tidak akan mampu memikirkan hal itu. Jangankan manusia memikirkan tentang Dzat Allah, berpikir tentang ruh ciptaan Allah saja ditanggung tidak akan mampu mencapainya, Allah berfirman :

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : “Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al Isra/17 : 85)

Menyadari hal tersebut manusia dituntut untuk merenungkan dengan dengan kesadaran atas kelemahannya itu, ia kemudian akan mampu mencapai tingkatan kepercayaan yang kokoh dalam beriman. Saat seperti itulah manusia sedang melakukan apa yang dikenal sebagai tadabbur. Kenyataan untuk merenungkan keadaan yang terjadi di alam semesta ini, pernah dilakukan Rasulullah ketika beliau ber-tahannuth mencari petunjuk dan arah perjuangan dalam kehidupan religiusnya. Kemudian Allah menurunkan petunjukNya untuk menjalankan arah perjuangannya melalui ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan kepadanya. Kronologi perjalanan pemikiran manusia menuju tercapainya kesadarannya manusiawi terhadap hakikat keimanan kepada Allah itu, dapat membawa sisi religiusitasnya menuju tingkatan yang tertinggi yakni iman dan tawakkal. Keimanan dan ketawakkalan manusia terhadap Penciptanya itu, pada gilirannya membawa kesadaran dirinya untuk selalu berada pada tingkatan yang lebih tinggi melalui berdzikir, sebagaimana dibahas selanjutnya. 3) Tadzakkur; Kenyataan kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia dan makhluk lain di alam semesta ini dapat dijadikan sebagai alat bagi manusia untuk selalu mengingat kepada sipara pencipta alam semesta itu. Allah di dalam surat Adz Dzariyat menyindir perilaku dan kesadaran manusia sebagai berikut :

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?, Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Adz Dzariyat/51 : 20-22)

Dengan sindiran Allah terhadap manusia seperti itu, manusia selayaknya menindak lanjuti dengan pemahaman dan kesadaran yang paling mendalam untuk membawa dirinya kepada kenyataan transendental melalui kepercayaan yang mendalam terhadap kekuasaan Allah. Pernyataan manusia yang terdalam dalam hati nuraninya itu merupakan hasil dari perjalanan berfikir, menyadari melalui renungan (tadabbur) dan kemudian ia mampu membawa dirinya ke posisi pengakuan mendalam atas ke mahakuasaan Allah melalui dzikir. Kegiatan berdzikir ini tidak terbatas dan tidak mengenal ruang dan waktu, artinya kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan bagaimanapn (whenever, whereever, dan whatever). Manusia dengan demikian selalu dituntut untuk menyadari integritasnya sebagai makhluk yang selalu harus bergantung diri kepada Allah sebagai Penciptanya. Perhatikan kemudian firman Allah yang menerangkan tentang ulul al-bab (orang yang sadar atas keilmuan) sebagai berikut :

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran/3 : 191)

Melalui sikap kesadaran kerahanian terhadap Tuhannya, manusia mampu akan meletakkan dirinya pada posisi hakikinya sebagai makhluk, yang tentunya Allah kemudian akan memberinya posisi ketentraman hdiupnya di alam semesta ini untuk kemudian dia membuktikan hasil perbuatannya di akhirat kelak. Allah menegaskan dalam Al Qur’an ala bi dzikrillahi tathmainna al-qulub (bukankan melalui kesadaran dzikir manusia mencapai ketentraman hatinya). Begitulah dzikir memiliki posisi strategis dalam membawa perasaan ketentraman manusia di bumi ini. 4) Ta’abbud; Pilar terakhir yang perlu menjadi kesadaran manusia sebagai hamba Allah, adalah bagaimana manusia mampu mengakui dirinya sebagai “hamba” untuk selalu menghambaksan diri kepadaNya. Jadi adanya berbagai proses dalam tingkatan kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi tidak lain untuk mencari sisi kebahagiaan yang dijanjikan Allah di akhirat nanti yakni melalui berta’abbud. Hal itu wajib disadari oleh manusia untuk menjawab tuntutan kehidupan bahwa manusia dicipta hanyalah untuk membuktikan bahwa dirinya sebagai hamba yang wajib menghambakan diri kepada Tuhannya, sebagaimana konsep hidup itu tertera dalam Al Qur’an sebagai berikut :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku). (QS. Adz Dzariyat/51 : 56)

Kenyataan yang harus diakui bahwa manusia adalah “hamba” yang berarti selalu menghambakan diri kepada tuannya, oleh karena itu ia harus mampu menyatakan ikrarnya melalui kalimat heroik ketuhanan, laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah (Tidak adak Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah). Jabaran gambaran pengejawatahan kalimah heroik tadi dapat dirasakan dalam apa yang dekenla sebagai Sayyid Al Istighfar sebagai berikut :

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي اغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya : “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu, dan aku berada dalam perjanjia denganMu -untuk beriman tunduk dan patuh- semampu yang aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat dan aku mengakui atas segala nikmat yang telah Engkau berikan dan aku juga mengakui segala dosa yang telah aku perbuat, oleh karena itu ampuilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuninya kecuali Engkau”. (HR. Bukhari dari sahabat Syaddat ibn Aus).

Melalui pernyataan secara primordial itu, manusia hanya bisa memohon dan berharap semoga semua tindakan, perilaku, dan amalannya itu tidak lain hanyalah untuk menggapai keridhaan-Nya, sehingga manusia bisa mencapai apa yang dijanjikan Allah sebagaimana yang selalu dilantunkan dalam akhir doanya : Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Amin. ***** =========================== *)

Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA.; Guru Besar Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang