KEKUATAN DO’A Oleh : Prof. Dr. H. Muhtarom HM *)

Pada kesempatan khutbah kali ini, saya mengajak para hadirin untuk merenungi kembali nikmat “iman” sebagai nikmat yang agung, karena dengan diberikannya keimanan ini maka sesungguhnya Allah swt telah memberi dan membuka pertalian sekaligus menjaga setiap gerak-gerik serta tindakan kita agar berada pada jalan yang lurus, yakni jalan yang diridhoi Allah swt.

Bilamana kita mau menelaah kembali tentang system keimanan dalam beragama, sesungguhnya Allah swt telah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia beragama dengan firman-Nya yang berbunyi :

Artinya : “….Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. Al A’raf/7 : 172)

Firman Allah ini menunjukkan bahwa manusia lahir telah membawa potensi beriman kepada Allah, dan selanjutnya beragama dengan agama Allah. Dalam beragama ini ada system peribadatan dan dalam system peribadatan ini ada bagian yang esensial yang disebut “Ad Du’a (do’a)”.

Baik di dalam Al Qur’an maupun di dalam Al Hadits banyak dijumpai keterangan-keterangan yang memerintahkan supaya manusia berdo’a kepada Allah swt. Dari Al Qur’an Allah swt berfirman yang berbunyi :

Artinya : Dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenan-kan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min/40 : 60)

Allah juga berfirman di dalam Al Qur’an surat Al A’raf/7 : 55 yang berbunyi :

Artinya : “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Rasulullah saw bersabda yang artinya :

“Dan do’a itu mendatangkan manfaat terhadap sesuatu yang sudah atau yang belum diturunkan Tuhan. Tidak ada yang dapatmenolak qodho’ (ketentuan) Tuhan kecuali do’a, oleh sebab itu berdo’alah”. (HR. Turmudzi)

Do’a yang dimaksudkan dalam firman Allah dan Hadist Rasul ini adalah dengan makna “memohon”, yakni permohonan atau permintaan seorang hamba kepada Tuhan sebagai Khaliqnya. Permohonan (do’a) itu disusun dalam struktur kalimat dan diucapkan oleh hamba itu seolah-olah berdialog dengan Allah, namun pada hakikatnya bukanlah “dialog” melainkan “monolog” (percakapan seorang diri) yang dihadapkan kepada Allah swt.

Di dalam kehidupan ini, manusia memerlukan landasan yang dapat menentram-kan jiwanya, atau tali yang dapat menjadi harapan untuk dipeganginya. Landasan dan tali itulah “do’a”. Maka, bila dikatakan iman atau beragama pada Allah itu adalah potensi atau fitrah dan sesungguhnya do’a/berdo’a pada Allah adalah menjadi fitrah manusia. Sepakat dengan pendapat Afif Abdul Fatah Al Thabarah yang berbunyi : Ad du’a fithriyyun fil insan (do’a itu adalah merupakan fitrah pada diri manusia).

Dengan demikian dapat difahami bahwa do’a itu adalah hajat rohaniyah manusia dalam kehidupan, baik tatkala ditimpa kesulitan, kesusahan maupun ketika menerima kenikmatan dan kebahagiaan. Oleh karenanya berdo’alah baik di kala susah maupun senang.

Di depan sudah saya sampaikan firman Allah : “Berdo’alah kepada Tuhan dengan berendah diri (Tadharru’)dan dengan suara yang lembut (Khufyah) agar dikabulkan do’anya oelh Allah swt. Oleh karena itu kuatnya do’a banyak ditentukan oleh kesucian hati, keikhlasan dan kerendahan hati. Mulut bergerak memohon do’a, hati dan jiwa tawajjuh kepada Allah swt. Sabda Rasulullah saw yang artinya :

“Hai manusia, bermohonlah dalam keadaan kamu yakin sepenuhnya bahwa do’anya akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak memperkenankan do’a seseorang hamba yang hatinya membelakang dan lalai”. (HR. Ahmad).

Imam Al Ghazali mengatakan dalam kitabnya Ikhya ‘Ulumuddin Jilid I halaman 306-309, beliau menjelaskan bahwa ketika kita hendak berdo’a, agar :

  1. Menundukkan hati dan merendahkan diri kita di hadapan Allah swt.
  2. Memulai dengan memuji-Nya, kemudian menyebut apa yang dimohonkan.
  3. Berkhidmat, seperti ketika sujud dalam shalat dan ketika hati bersih dari segala gangguan.
  4. Merendahkan suara, antara suara keras dengan berbisik, sekedar dapat didengar oleh sekelilingnya. Jadi, tidak tepat berdo’a dengan berteriak-teriak.
  5. Isi do’a tidak pada hal-hal yang merusak/mencelakakan, baik terhadap dirinya maupun orang lain.

Demikianlah, semoga Allah swt memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang shalih dan bersyukur. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****