KEBERHASILAN DALAM KEHIDUPAN MELALUI KETEGUHAN DALAM PENDIRIAN Oleh : Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA. *)

 

Suatu kehidupan merupakan keniscayaan yang harus dilalui seluruh makhluk ciptaan Allah, apalagi bagi manusia yang memiliki kekhususan tugas sesuai dengan taklif yang dibebankan kepada manusia. Jalan menuju kehidupan yang normal tidaklah terlalu sulit dilalui bagi seluruh makhluk, sepanjang masing-masing makhluk dengan kemampuanya dan tabi’atnya siap dengan keikhlasan untuk menjalankan kehidupannya sesuai dengan sunnatullah. Keteguhan dan keikhlasan dalam menjalalankan kuwajiban kehidupan di bumi ini harus diyakini sebagai perjungan menuju keberhasilan yang dijanjikan Allah. Keyakinan dan keteguhan hati atas keberhasilan dalam kehidupan itu, dapat dipandang sebagai hal biasa yang positif karena Allah memberi berbagai fasilitas bagi manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut. Allah dalam surat Ar Rum/30 : 23 yang artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.

Menyadari tentang makna yang terkandung dalam ayat tersebut di atas, maka ada hal yang menjadi titik sentral keberhasilan dalam menjalankan hidup adalah adanya kemauan yang kuat yang muncul dari lubuk hati terdalam. Keteguhan hati itu untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan terkandung dalam kalimat “wa ibtighaukum”  yakni kemauan keras untuk mencapai keberhasilan dalam kehidupan itu sendiri.

Keteguhan hati yang dibarengi dengan kemauan keras untuk menjalankan hidup demi mencapai keberhasilan tidak bisa  hanya dibayangkan dalam angan-angan. Angan-angan untuk mencapai keberhasilan jika tidak dibuktikan dalam perbuatan nyata sama saja dengan orang yang bermain judi dalam kehidupan. Kehidupannya sangat utopis yang tidak menentu. Ketidak pastian itu menjadi penyebab gagalnya seorang mencapai keberhasilan- nya. Maka angan-angan yang tidak menentu dan tidak mau mencari jalan pembuktian adalah suatu bentuk perjudian yang tidak diizinkan syari’at. Amalan itu tidak lain merupakan angan-angan yang muncul dari diri seseorang yang dilingkupi bisikan syetan. Bisikan apatisme seseorang itu disebabkan adanya bisikan syetan yang harus sealalu dihindari, Orang yang selalu mendapatkan dan menerima bisikan syetan itu bisa dikategorikan sebagai manusia yang berpakaian syetan. Kenyataan itulah yang sering diwanti-wantikan oleh seorang tua kepada anak-anaknya agar mereka tidak terjerumus pada bisikan syetan, sehingga dia menempatkan dirinya sebagai tukang penebur janji palsu sebagai “dukun”.

Astaghfirullahil ‘adzim, ketika kita mendengar kata “dukun” atau “perdukunan”, maka hati kita akan tersentak dan kaget karena kata-kata itu merupakan hal yang sangat tabu dalam ranah syari’ah Islamiyah. Islam melalui kitab sucinya Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW tidak pernah mengizinkan umatnya untuk mencari jalan hidup pintas melalui dukun, hal itu tentu karena diharamkan oleh syari’ah. Terminologi dukun dalam bahasa Arabnya di sebut kahin jama’nya kuhhan, berasal dari kata kahana yang menurut bahasa arab definisinya adalah :

“Dukun adalah seseorang yang berusaha menyebarkan berita tentang kehidupan di masa yang akan datang, ia mengaku bahwa dirinya mengerti berbgai rahasinya (kehidupan). Perdukunan itu dalam tradisi Arab, ada yang menyatakan sebagai orang yang pandai dan bisa mengungkap berita tentang Muhammad SAW. Dan bahkan para dukun itu sering dikaitkan sebagai pengikut para jin sebagai penyebar  berita bohong. Bahkan seorang dukun sering mengaku mengetahui segala sesuatu dan sebab-sebabnya, jika seseorang tanya kepadanya. Ringkasnya bahwa para dukun itu adalah mereka yang mengaku pandai dan mengerti segala hal yang masih tersimpan dan belum terjadi”.

Jika memperhatikan definisi tersebut terlintas pada perasaan kita bahwa betapa naifnya orang yang menjalankan praktek perdukunan, karena seorang dukun menyatakan dirinya telah mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Hal itu tentu mendahului kehendak Allah, sedang kehendak-Nya tidak ada yang tahu sebelumnya. Orang yang mengaku telah mengetahui sesuatu yang belum terjadi, seraya meyakininya bahwa ia bisa mewujudkan sesuatu itu dengan cara-cara yang tidak benar, maka ia termasuk orang golongan orang yang syirik yang terkutuk. Nabi SAW bersabda sebagai berikut :

Artinya : “Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab S}ah}ih}nya yang bersumber dari sebagian istri Nabi SAW. Beliau bersabda : Barangsiapa mendatangani seorang dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya dan ia membenarkannya, maka selama 40 hari shalatnya tidak diterima Allah dan ia dianggap telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi SAW”.

Berbeda dengan apa yang telah penulis sampaikan tentang dukun, maka kata ‘dukun” yang memiliki label “syar’i”, tidak lain adalah seseorang yang berusaha sekuat tenaga mencari petunjuk Allah melalui Al Qur’anul Karim. Beberapa ayat dalam Al Qur’an menerangkan tentang bagaimana seorang muslim (yang menjadi “dukun” syar’i) memberikan nasihat kepada kliennya yang ingin mencapai kesuksesan dalam urusan kehidupan, ia memberikan mantranya sebagai tersurat dalam Al Qur’an sebagai berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

Mencermati ayat tersebut di atas, bisa diambil kriteria kesuksesan dalam kehidupan melalui 3 (tiga) cara sebagai berikut :

1) Membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, yaitu membaca Al Qur’an dengan fasih sesuai makhraj dan tajwidnya, memahami maknanya, mengerti isi kandungannya, menyadari hukumnya dan melaksanakan perintah-Nya.

2) Melakukan shalat dengan khusyu’ sesuai contoh dari Rasulullah SAW.

3) Menafkahkan sebagian hartanya dengan ikhlas.

Cara memahami ayat tersebut di atas melalui metode berbalik, yaitu Allah bakal mengabulkan dan menambahi pahala bagi mereka yang mau berusaha dengan sungguh-sugguh dalam kehidupan, seraya memohon kepada Allah melalui membaca Al Qur’an, shalat yang baik dan peduli terhadap lingkungan melalui zakat, sedekah, infak dan semoga berhasil. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishawab. *****

 

============================

*) Prof. Dr. H. Suparman Syukur, MA; Guru Besar Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang